Merujuk Rukyatul Hilal Global, Ratusan Jemaah Anggota Forum Tabayun di Kota Kediri Salat Ied Hari Ini

Sekretaris Forum Tabayun Kota Kediri, Hadi Sasongko, menjelaskan bahwa pelaksanaan salat Idulfitri lebih awal dibandingkan ketetapan mayoritas umat Islam di Indonesia didasarkan pada metode rukyatul hilal secara global. Ia menyebut keputusan tersebut merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Imam Bukhari.

19 Mar 2026 - 23:00
Merujuk Rukyatul Hilal Global,  Ratusan Jemaah Anggota Forum Tabayun di Kota Kediri Salat Ied Hari Ini
Sholat Ied jemaah anggota Forum Tabayun di Kota Kediri (foto : istimewa)

KEDIRI, SJP- Ratusan warga Kediri yang tergabung dalam Forum Tabayun melaksanakan Salat Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah di Lapangan Futsal Sekartaji, Kota Kediri, Jawa Timur, pada Kamis (19/3/2026). Jumlah jemaah diperkirakan mencapai 200 hingga 300 orang, terdiri dari laki-laki, perempuan, hingga anak-anak. Pelaksanaan salat berlangsung khidmat dan tertib tanpa adanya gangguan.

Sekretaris Forum Tabayun Kota Kediri, Hadi Sasongko, menjelaskan, pelaksanaan salat Idulfitri lebih awal dibandingkan ketetapan mayoritas umat Islam di Indonesia didasarkan pada metode rukyatul hilal secara global. Ia menyebut keputusan tersebut merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Imam Bukhari.

Hadi menuturkan, keputusan tersebut juga dipengaruhi laporan terlihatnya hilal dari sejumlah negara.

“Dasarnya adalah perintah Rasulullah SAW untuk berpuasa dan berhari raya ketika melihat hilal. Jika hilal terlihat di suatu tempat dan informasinya valid, maka itu bisa menjadi acuan bagi umat Islam secara global,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa selisih waktu antara Indonesia dengan negara-negara yang melaporkan terlihatnya hilal tidak melebihi 24 jam, sehingga masih berada dalam satu siklus penanggalan yang sama. Selain Afghanistan dan Ghana, pihaknya juga mempertimbangkan laporan rukyat dari negara lain seperti Mali, Nigeria, dan Maroko.

“Di negara-negara tersebut juga ada tim resmi yang melakukan rukyatul hilal seperti di Indonesia. Jika sudah diumumkan dan dinyatakan sah, maka seharusnya itu bisa dijadikan dasar,” tambahnya.

Meski demikian, Forum Tabayun tetap mengedepankan kehati-hatian dalam memvalidasi setiap informasi yang diterima. Hadi menyebut, apabila tadi hingga waktu subuh tidak terdapat laporan rukyat global yang valid, pihaknya akan mengikuti ketetapan 1 Syawal pada Jumat (20/3/2026).

Terkait perbedaan penetapan hari raya dengan mayoritas umat Muslim di Indonesia, Hadi menilai hal tersebut merupakan konsekuensi dari perbedaan metode yang digunakan. Namun, ia juga mengakui perbedaan tersebut dapat menimbulkan kebingungan di masyarakat.

“Perbedaan ini tentu bisa membingungkan masyarakat. Seharusnya kita berpegang pada dalil yang kuat, bukan sekadar logika. Namun kami juga tetap mengedepankan kehati-hatian dan mempertimbangkan kebersamaan,” jelasnya.

Hadi juga menegaskan bahwa Forum Tabayun bukan organisasi masyarakat (ormas) keagamaan, melainkan komunitas yang membahas berbagai persoalan dalam Islam, mulai dari aspek sosial, tauhid, hingga kajian Al-Qur’an dan hadis.

Fenomena ini kembali menunjukkan adanya perbedaan penetapan hari raya di tengah masyarakat. Meski demikian, Forum Tabayun tetap menghormati perbedaan tersebut. “Saat terjadi perbedaan, kami memilih untuk menyesuaikan diri atau melaksanakan sendiri sesuai keyakinan kami,” pungkasnya. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow