Merawat Ingatan Sejarah, Situbondo Gagas Festival Anyer–Panarukan

Festival Anyer–Panarukan digagas sebagai upaya menjaga warisan sejarah sekaligus membuka peluang ekonomi bagi desa-desa di lintasan jalur bersejarah.

21 Jan 2026 - 22:30
Merawat Ingatan Sejarah, Situbondo Gagas Festival Anyer–Panarukan
Dalam sebuah pertemuan Menteri Desa bersama para pimpinan kepala daerah, dikemukan agenda festival akan direncanakan akan digelar dengan tujuan mengedukasi sejarah dan meningkatkan perekonomian masyarakat yang dilintasi Anyer - Panarukan (Foto : Sugeng/SJP)

SITUBONDO, SJP – Jalan panjang Anyer–Panarukan bukan sekadar jalur penghubung antarwilayah. Ia adalah saksi bisu perjalanan sejarah bangsa, dibangun pada era kolonial Belanda dan membentang sejauh hampir 1.000 kilometer dari ujung barat hingga timur Pulau Jawa.

Dari jalur inilah, Pemerintah Kabupaten Situbondo berupaya menghidupkan kembali ingatan kolektif sejarah melalui rencana penyelenggaraan Festival Anyer–Panarukan sebagai agenda budaya dan sejarah berskala nasional.

Panarukan sendiri merupakan nama lama Kabupaten Situbondo. Jejak sejarah tersebut dinilai memiliki nilai historis yang kuat dan relevan untuk dikontekstualisasikan dengan pembangunan desa serta pengembangan pariwisata masa kini.

Bupati Situbondo, Yusuf Rio Prayogo, mengatakan, festival ini digagas bukan semata mengenang masa lalu, tetapi menjadikan sejarah sebagai energi baru untuk membangun masa depan masyarakat desa.

“Festival ini kami gagas sebagai upaya menghidupkan kembali memori kolektif bangsa tentang Jalan Raya Pos Anyer–Panarukan, sekaligus mendorong desa-desa di sepanjang jalur sejarah itu agar tumbuh melalui ekonomi kreatif dan pariwisata,” ujar Bupati yang akrab disapa Mas Rio, Rabu (21/1/2026).

Mas Rio menegaskan, Festival Anyer–Panarukan tidak akan berdiri sendiri. Pemerintah Kabupaten Situbondo tengah menyiapkan kolaborasi lintas daerah, salah satunya dengan Pemerintah Kabupaten Serang, Provinsi Banten, yang menjadi titik awal jalur Anyer.

Rencananya, festival akan dikemas dalam beragam kegiatan bernuansa sejarah dan budaya, mulai dari pameran sejarah, pertunjukan seni tradisional, hingga keterlibatan pelaku UMKM desa yang berada di sepanjang lintasan jalur bersejarah tersebut.

Untuk memperkaya makna sejarah, pemerintah daerah juga berencana melibatkan para sejarawan, komunitas budaya, serta generasi muda, agar sejarah tidak hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi tetap hidup dan relevan dengan zaman.

Gagasan ini mendapat apresiasi dari Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia, Yandri Susanto. Menurutnya, kolaborasi antar daerah berbasis sejarah berpotensi mempercepat pembangunan wilayah, khususnya dalam peningkatan perekonomian desa.

“Ini contoh bagaimana sejarah tidak hanya dikenang, tetapi dimanfaatkan sebagai kekuatan pembangunan desa. Kami menyambut baik inisiatif Situbondo yang mengaitkan sejarah dengan peningkatan perekonomian masyarakat desa,” kata Menteri Yandri dalam pertemuannya bersama sejumlah bupati di Jakarta, Rabu (21/1/2026).

Melalui Festival Anyer–Panarukan, Situbondo berharap jalur bersejarah ini kembali hidup, bukan hanya sebagai peninggalan masa lalu, tetapi sebagai denyut baru pembangunan berbasis budaya, sejarah, dan kesejahteraan desa. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow