Menjaga Asa Sopir Angkot di Balik Penutupan Jembatan Sentong Bondowoso
Penutupan Jembatan Sentong di Bondowoso tidak hanya mengganggu arus lalu lintas, tetapi juga memukul perekonomian para sopir angkot. Pendapatan mereka menurun drastis karena jalur harus memutar lebih jauh dan penumpang semakin sepi. Di tengah kondisi sulit, seorang sopir bernama Rahmat berinisiatif membuka jasa penitipan motor di sekitar sekolah sebagai sumber penghasilan tambahan bagi dirinya dan rekan-rekan sesama sopir.
BONDOWOSO, SJP – Penutupan Jembatan Sentong di Kelurahan Nangkaan yang menjadi penghubung utama Bondowoso–Jember bukan hanya berdampak pada arus lalu lintas. Di balik kebijakan tersebut, ada kisah perjuangan para sopir angkutan kota (angkot) yang harus berjuang keras mempertahankan penghasilan demi keluarga.
Sejak jembatan itu ditutup, pangkalan angkot yang sebelumnya berada di sisi selatan jembatan kini dipindah ke Kelurahan Nangkaan, tepat di sisi utara jembatan. Pemindahan tersebut dilakukan sebagai upaya menekan biaya operasional yang semakin membengkak.
Penutupan jembatan membuat seluruh kendaraan, baik roda dua maupun roda empat, harus dialihkan melalui jalur alternatif yang melintasi Kelurahan Nangkaan, Kecamatan Curahdami, hingga tembus di Desa Kembang. Jalur memutar itu membuat waktu tempuh semakin lama dan kebutuhan bahan bakar meningkat.
Pengendara mobil bahkan harus melewati Desa Pakuwesi dengan waktu perjalanan yang bisa mencapai sekitar 30 menit. Bagi sopir angkot yang setiap hari menggantungkan hidup dari jalanan, kondisi ini tentu menjadi beban yang tidak ringan.
Rahmat, salah seorang sopir angkot jurusan Bondowoso–Arjasa, mengaku merasakan langsung dampak dari penutupan jembatan tersebut. Pendapatannya merosot tajam, sementara biaya operasional justru melonjak.
“Sejak penutupan Jembatan Sentong, dampaknya sangat terasa bagi kami para sopir angkot. Pendapatan menurun drastis, sementara kebutuhan bahan bakar justru meningkat,” ujar Rahmat, Senin (9/3/2026).
Ia mengenang masa ketika angkot masih menjadi pilihan utama masyarakat. Saat itu, jumlah penumpang cukup ramai sehingga biaya operasional masih bisa tertutupi dari ongkos yang dibayar penumpang.
“Kalau dulu kenaikan harga BBM masih bisa tertutup dari penumpang. Sekarang sudah sangat berat. Bahkan kebutuhan BBM bisa meningkat sampai empat atau lima kali lipat karena harus memutar jalur lebih jauh,” tuturnya.
Tetap Bertahan di Tengah Maraknya Transportasi Lain
Tak hanya persoalan jarak tempuh yang semakin jauh, Rahmat juga harus menghadapi kenyataan bahwa jumlah penumpang semakin menurun. Moda transportasi baru seperti ojek online, bentor, hingga kendaraan pribadi membuat keberadaan angkot semakin tersisih.
“Kadang kami dapat operan penumpang dari arah Besuki, tapi sering juga sepi sama sekali. Sekarang kendaraan juga semakin banyak, ada Grab, bentor, dan transportasi lain. Semua orang sama-sama mencari nafkah,” katanya.
Dulu, pelajar menjadi salah satu penumpang tetap angkot. Namun kini kondisi itu berubah. Banyak siswa yang memilih membawa kendaraan sendiri ke sekolah, sehingga jumlah penumpang dari kalangan pelajar semakin berkurang.
“Sekarang kebanyakan anak sekolah sudah membawa kendaraan sendiri. Aturan usia berkendara seolah tidak terlalu diperhatikan lagi, jadi penumpang angkot makin sedikit,” imbuhnya.
Mencari Harapan Lewat Jasa Penitipan Motor
Di tengah kondisi yang semakin sulit, Rahmat mencoba mencari cara agar dirinya dan rekan-rekan sesama sopir angkot tetap bisa bertahan. Ia pun menggagas ide membuka jasa penitipan sepeda motor di sekitar area sekolah.
Menurutnya, langkah kecil ini diharapkan bisa menjadi sumber penghasilan tambahan bagi para sopir yang terdampak.
“Melihat kondisi teman-teman sopir, saya merasa kasihan. Akhirnya saya mencoba mencari alternatif penghasilan dengan membuka jasa penitipan sepeda di sekitar sekolah,” ungkapnya.
Ide tersebut ia komunikasikan dengan sejumlah pihak, termasuk remaja masjid dan pihak sekolah. Respons yang diterima pun cukup positif.
“Alhamdulillah responsnya baik. Bahkan ada pihak sekolah yang meminta nomor saya untuk berkoordinasi,” katanya.
Ke depan, Rahmat berharap tempat penitipan tersebut bisa dijaga bersama oleh para sopir angkot. Tidak ada jadwal khusus, siapa pun yang memiliki waktu bisa membantu menjaga secara bergantian.
Tarif penitipan yang dipatok pun sangat terjangkau, hanya sekitar Rp2.000 per kendaraan.
“Kalau ada yang memberi lebih juga tidak masalah. Yang penting kami masih bisa mendapat tambahan penghasilan di tengah kondisi yang cukup sulit seperti sekarang,” pungkasnya.
Bagi Rahmat dan para sopir angkot lainnya, jalanan mungkin tak lagi seramai dulu. Namun semangat untuk tetap bekerja dan mencari nafkah bagi keluarga membuat mereka terus bertahan, meski harus memutar lebih jauh dari biasanya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

