Menggali Potensi Wisata di Dorok Kediri: Dari Rumah Batik, Sanggar Tari hingga Candi Terpendam

Dari tari, batik, pertanian, hingga candi terpendam, Desa Wisata Dorok menghadirkan pengalaman budaya dan edukasi yang hidup bersama masyarakatnya.

29 Jan 2026 - 09:00
Menggali Potensi Wisata di Dorok Kediri: Dari Rumah Batik, Sanggar Tari hingga Candi Terpendam
Ava Atkinson, mahasiswi Virginia University, Amerika Serikat tampak ikut menari di antara siswi Sanggar Tari Sekar Jagat diDusun Dorok, Desa Manggis, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri. (Foto: Pusaka for SJP)

KEDIRI, SJP - Di antara deretan remaja putri berkaos hitam, sosok Ava Atkinson tampak mencolok. Tubuhnya lebih tinggi menjulang. Kemeja biru laut yang dikenakannya kontras dengan selendang merah yang membentang di kedua tangannya.

Tanpa ragu, mahasiswi Virginia University, Amerika Serikat itu mengikuti setiap gerak yang dicontohkan Nila Yusia, guru tari yang Sabtu, (24/1/2026) sore itu memandu latihan di Sanggar Tari Sekar Jagat, Dusun Dorok, Desa Manggis, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri.

Gerakan Ava masih terlihat kaku. Namun senyumnya tak pernah lepas. Kibasan tangannya berusaha selaras dengan irama. Semangatnya justru terasa menyala.

Kehadiran Ava pagi itu menghidupkan suasana sanggar. Bukan hanya karena ia datang dari negeri yang jauh, tetapi karena ia hadir bukan sebagai penonton. Ia ikut menari, ikut belajar, dan membiarkan tubuhnya membaca bahasa budaya Dorok.

Ava tengah mengikuti program intercultural learning. Di Sanggar Sekar Jagat, ia menemukan kegembiraan yang sederhana namun berkesan.

“I know the dancing was really fun, the kids were really cute. And I know my archaeology professors are going to be really jealous that I saw all of those,” ujarnya sambil tertawa.

Ava tahu, pengalaman yang ia dapatkan hari itu tak akan ditemukan di ruang kuliah. Apa yang didapatnya seharian di Dorok bakal membuat profesor arkeologinya iri. Setidaknya, itulah pendapat Ava Atkison. 

Wisata Budaya yang Dihidupi Bersama

Menari bersama bukan sekadar atraksi. Bagi masyarakat Dorok, inilah konsep wisata terintegrasi yang mereka kembangkan: wisata budaya, sejarah, edukasi, pertanian dan wisata alam.

Pengembangan Desa Wisata Dorok–Manggis ditopang oleh Pusaka, Paguyuban Masyarakat Daha Kadhiri. Komunitas inilah yang merajut potensi budaya, sejarah, pertanian, dan edukasi menjadi pengalaman utuh bagi pengunjung.

Ketua Pusaka, Anton Sujarwo, mendampingi Ava berkeliling Dusun Dorok. Setelah dari sanggar tari, perjalanan berlanjut ke berbagai titik yang menyimpan cerita.

Tak hanya Sanggar Sekar Jagat, Ava mengunjungi Rumah Batik Dorok, rumah cagar budaya, sentra budi daya jamur Melati Jamur, hingga Candi Dorok yang tersembunyi di bawah permukaan tanah. Tak luput juga Alas Simpenan, tempat kawanan monyet hidup berdampingan dengan hutan dan ladang warga.

Dorok dan Potensi yang Pernah Terpendam

Dorok adalah kawasan dengan potensi yang tersembunyi. Seperti Candi Dorok yang ratusan tahun terpendam di dalam tanah, hingga akhirnya terkuak secara tak sengaja oleh Tumidi, seorang warga setempat, pada 1996.

Keberadaan candi itu sempat menjadi fenomena. Bukan hanya karena usianya yang tua, tetapi karena letaknya yang unik, berada di bawah permukaan tanah, konon terkubur oleh beberapa kali letusan gunung Kelud.

Kini, Dorok perlahan membuka lapisan-lapisan ceritanya.

Membatik di Rumah Batik Dorok

Salah satu daya tarik yang membuat Ava antusias adalah Rumah Batik Dorok. Di tempat ini, wisatawan tidak hanya melihat batik sebagai produk, tetapi sebagai proses dan pengalaman.

Ava diperkenalkan pada batik eco-print. Ia mencoba sendiri, mulai dari menata daun hingga menunggu proses pewarnaan alami.

“Dia membatik, setelah itu menunggu saat dijemur. Prosesnya sekitar empat sampai lima jam. Sambil menunggu, kami ajak ke beberapa destinasi wisata lain,” kata Anton Sujarwo.

Rumah Batik Dorok dikembangkan sebagai wisata edukasi. Pengunjung tidak hanya membawa pulang kain batik, tetapi juga pemahaman tentang nilai, kesabaran, dan kreativitas di baliknya.

Menyusuri Jejak Sejarah di Rumah Cagar Budaya

Dari batik, perjalanan berlanjut ke rumah cagar budaya. Ava tampak terkesima melihat rumah kayu tua yang kini jarang ditemui di kawasan perkotaan.

Rumah itu konon dibangun pada abad ke-18. Seluruh struktur kayunya masih asli. Bangunan ini pernah dihuni Surodimedjo, Kepala Dusun Dorok ke-3 dan ke-4, yang menjabat sebelum tahun 1900.

Kepala dusun berikutnya adalah Suromarto, putra Surodimedjo, yang menjabat sekitar tahun 1942, pada masa pendudukan Jepang.

Selain bangunan, peninggalan sejarah lainnya masih tersimpan, seperti kentongan dan alu lumpang, alat tradisional yang menjadi saksi kehidupan masa lalu warga Dorok.

Menengok Budi Daya Jamur di Melati Jamur

Di Melati Jamur, Ava menyaksikan proses budi daya jamur dari awal hingga panen. Ia melihat langsung tahap pembibitan, pembuatan baglog, hingga jamur siap dipanen.

Di akhir kunjungan, Ava membawa oleh-oleh jamur segar. Sebuah pengalaman sederhana, namun memberi gambaran bagaimana pertanian dan pangan lokal menjadi bagian dari keseharian masyarakat Dorok.

Menyapa Monyet di Alas Simpenan

Perjalanan berlanjut ke Alas Simpenan. Di sini, Ava bertemu kawanan monyet yang hidup bebas di kawasan hutan. Ia memberi mereka kacang dan pisang, sesekali tertawa melihat tingkah laku satwa liar itu.

Memberi makan monyet menjadi salah satu momen favoritnya. Ava juga menikmati suasana pertanian di sekitarnya.

My favorite was feeding the monkeys, but it was also really fun to see what farms look like. I live on a farm, but they’re very different,” katanya.

Asyiknya Memanen Cabai

Bagi warga Dorok, memanen cabai adalah hal biasa. Namun bagi Ava, pengalaman itu terasa istimewa. Di kebun milik Anton Sujarwo, ia ikut memetik cabai merah yang siap panen.

Di sanalah ia menemukan perbedaan cara bertani, jenis tanaman, dan relasi manusia dengan lahan—hal-hal kecil yang justru menjadi pelajaran besar lintas budaya.

Candi Dorok yang Unik

Kunjungan ke Candi Dorok menjadi salah satu titik paling mengesankan. Candi ini hanya setinggi sekitar tiga meter. Namun letaknya tujuh meter di bawah permukaan tanah.

Hingga kini, peneliti belum menemukan sejarah pasti Candi Dorok. Namun candi ini diperkirakan merupakan peninggalan era Majapahit dan digunakan umat Hindu untuk memuja Gunung Kelud. Posisi candi menghadap langsung ke gunung yang berjarak kurang dari 10 kilometer.

Diduga, candi ini terpendam akibat letusan Gunung Kelud. Struktur tanah di sekitarnya menunjukkan material vulkanik, menjadikan Candi Dorok menarik tidak hanya bagi arkeolog, tetapi juga peneliti vulkanologi.

All of those statues and the temple, it’s crazy to me that it was found accidentally. That is insane. It was really cool. And the food was really good,” ujar Ava.

Dia terkesima melihat patung dan candi yang bentuk dan karakternya belum pernah dilihat sebelumnya.

Lebih dari Sekadar Wisata

Keseluruhan perjalanan membuat Ava merasa lebih dekat dengan budaya lokal dan masyarakat Dorok. Ia tidak datang hanya sebagai wisatawan. Ia ikut merasakan pengalaman dan mendengar cerita di balik setiap tempat yang ia kunjungi.

Di Dorok, potensi wisata hadir secara lengkap: budaya, sejarah, pertanian, dan edukasi. Semua terhubung dalam satu lanskap pengalaman.

Anton Sujarwo berharap potensi ini semakin dikenal dan memberi manfaat bagi dunia pendidikan.

“Harapannya, dunia pendidikan bisa berkunjung ke Dorok. Jadi siswa tidak hanya belajar dari buku teks, tetapi juga melihat langsung peninggalan masa lampau,” katanya.

Lebih dari itu, pengembangan wisata ini menumbuhkan kepercayaan diri masyarakat Dusun Dorok. Bahwa budaya yang mereka rawat dan sejarah yang mereka simpan, layak dikenal dan dikembangkan secara berkelanjutan. (**)

Editor: Danu

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow