Mengenal Yonif TP 886 Panjalu Jayati di Tulungagung, dari Tenda Sementara hingga Program Ketahanan Pangan
Komandan Yonif TP 886 Panjalu Jayati, Mayor Infanteri Muhammad Isa, menjelaskan bahwa satuan ini memiliki peran strategis, tidak hanya dalam aspek pertahanan negara tetapi juga dalam pembangunan wilayah.
TULUNGAGUNG, SJP - Di sebuah kawasan perbukitan di Desa Manding, Kecamatan Pucanglaban, Kabupaten Tulungagung, deretan tenda berwana hijau tua berdiri di atas lahan yang masih dalam tahap pembangunan. Di tempat inilah prajurit Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) 886 Panjalu Jayati menjalankan tugas mereka.
Meski masih menempati marshaling area atau lokasi sementara dengan fasilitas terbatas, semangat para prajurit tetap terjaga. Pembangunan markas batalyon masih berjalan dan pada awal Maret 2026 ini progresnya baru mencapai sekitar 7 persen.
Komandan Yonif TP 886 Panjalu Jayati, Mayor Infanteri Muhammad Isa, menjelaskan bahwa satuan ini memiliki peran strategis, tidak hanya dalam aspek pertahanan negara tetapi juga dalam pembangunan wilayah.
“Perkuatan pertahanan dan keamanan negara menjadi salah satu fokus utama. Dengan strategi ini, Indonesia akan berada pada posisi yang lebih kokoh dalam menjaga kedaulatan serta berkontribusi dalam menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan,” ujarnya, Rabu (4/3/2026).
Sebagai satuan infanteri, Yonif TP 886 tetap menjalankan tugas pokok pertempuran darat, yakni mencari, mendekati, dan menghancurkan musuh, sekaligus merebut serta mempertahankan suatu wilayah. Namun yang membedakan satuan ini dengan batalyon infanteri biasa adalah adanya fungsi teritorial pembangunan.
Selain tiga Kompi Senapan, Kompi Bantuan, dan Kompi Markas, batalyon ini juga memiliki empat kompi produksi. Keempat kompi tersebut meliputi Kompi Pertanian, Kompi Peternakan, Kompi Zeni Konstruksi dan Kompi Kesehatan.
Menurut Mayor Isa, kompi-kompi ini dibentuk untuk mendukung program nasional yang menekankan kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, dan ekonomi kreatif.
“Selain melaksanakan tugas tempur, kami juga bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui sektor pertanian, peternakan, konstruksi, dan layanan kesehatan,” katanya.
Di sekitar markas sementara, para prajurit juga mulai mengolah lahan untuk kegiatan pertanian. Sejumlah komoditas sudah ditanam sebagai bagian dari program ketahanan pangan. Beberapa di antaranya meliputi tanaman cabai di lahan 0,5 hektar, kebun pepaya 0,3 hektar, jagung sekitar 3 hektar, lalu tebu hingga 8 hektar dan pisang 0,2 hektar.
"Ini untuk mendukung produksi pangan dan program swasembada gula nasional,” jelasnya.
Selain itu, batalyon ini juga memiliki regu drone penyemprot yang digunakan untuk membantu kegiatan pertanian.
Tidak hanya pertanian, sektor peternakan juga mulai dikembangkan oleh para prajurit. Beberapa kegiatan yang telah berjalan antara lain budidaya ikan lele sekitar 20.000 ekor, ternak kambing etawa 16 ekor dan domba 32 ekor. Budidaya ayam petelur 240 ekor, ternak mentok 132 ekor, serta pelatihan budidaya maggot sebagai pakan ternak.
Sementara itu, kompi kesehatan juga aktif memberikan layanan pengobatan bagi masyarakat di sekitar Kecamatan Pucanglaban dan Kalidawir.
Secara keseluruhan, lahan yang disiapkan untuk Yonif TP 886 mencapai sekitar 60 hektar. Sementara kawasan tanah milik TNI AD di sekitar wilayah tersebut bahkan mencapai lebih dari 1.200 hektar.
Pembangunan fisik Yonif 886 Panjalu Jayati dilakukan secara bertahap. Saat ini yang sedang dikerjakan antara lain, rumah jaga, markas batalyon, barak prajurit, kantor beberapa kompi, serta bagian perumahan. Pembangunan tersebut ditargetkan selesai pada Desember 2026.
Untuk personel, batalyon ini saat ini memiliki 651 prajurit yang terdiri dari perwira, bintara, dan tamtama. Jumlah tersebut baru sekitar 60 persen dari kebutuhan ideal yang mencapai 1.190 personel.
Menurut Mayor Isa, salah satu alasan pendirian batalyon ini di Tulungagung adalah untuk memperkuat kekuatan TNI Angkatan Darat di wilayah selatan Jawa Timur.
“Di wilayah selatan Jawa Timur masih relatif sedikit satuan infanteri yang mengcover wilayah tersebut. Karena itu kehadiran batalyon ini juga untuk memperkuat pengamanan wilayah sekaligus mendukung kesejahteraan masyarakat sekitar,” ujarnya.
Yonif TP 886 sendiri baru menempati lokasi tersebut sekitar tiga bulan, sejak November lalu. Tantangan utama yang dihadapi selama ini adalah ketersediaan air, karena kondisi wilayah yang berbukit dan relatif kering. Namun persoalan itu mulai teratasi berkat kerja sama dengan pemerintah daerah.
“Alhamdulillah pemerintah daerah, khususnya Bupati, sangat membantu kami dalam mengatasi masalah air. Sekarang masih proses, kemungkinan satu hingga dua minggu lagi bisa selesai dengan baik,” katanya.
Di tengah keterbatasan fasilitas dan pembangunan yang masih berjalan, prajurit Yonif TP 886 Panjalu Jayati tetap menjalankan dua peran sekaligus, menjaga pertahanan negara sekaligus membantu membangun kemandirian masyarakat di wilayah sekitarnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

