Longsoran Batu di Jalur Nasional Trenggalek-Ponorogo Berhasil Disingkirkan, Jalan Baru Dibuka Hari Minggu
Wakil Gubernur Jawa Timur : Kita masih butuh sekitar satu sampai dua hari untuk memastikan semuanya aman. Keselamatan nomor satu. Untuk kendaraan kecil sudah ada jalan alternatif, tetapi untuk truk memang belum bisa lewat.
TRENGGALEK, SJP - Proses evakuasi longsoran batu besar yang menutup jalur nasional Trenggalek-Ponorogo di KM 16 Desa Nglinggis, Kecamatan Tugu, akhirnya membuahkan hasil. Pada Kamis (5/3/2026) siang, material batu besar yang sejak Selasa sore menutup badan jalan berhasil disingkirkan menggunakan alat berat pemecah batu.
Meski demikian, jalur strategis penghubung Kabupaten Trenggalek dan Ponorogo tersebut masih belum dapat dibuka untuk lalu lintas. Kondisi tebing yang masih labil serta kerusakan pada badan jalan membuat petugas harus melakukan penanganan lanjutan. Proses tersebut diperkirakan membutuhkan waktu hingga dua hari ke depan, sehingga jalur kemungkinan baru bisa dilewati pada hari Minggu mendatang.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak yang meninjau lokasi pada Kamis siang, mengatakan penanganan dilakukan dengan sangat hati-hati karena lokasi berada di tebing yang berisiko tinggi mengalami longsor susulan.
“Kami mohon dukungan dari segenap pengguna jalan, karena kita berurusan dengan tebing yang sangat-sangat berisiko. Kehati-hatian menjadi hal yang paling utama dalam penanganan situasi ini,” ujar Emil.
Ia menjelaskan, terdapat dua batu berukuran besar yang sebelumnya menghambat proses pembukaan jalur. Satu batu berada tepat di badan jalan dan telah dipecah serta dibersihkan, sementara satu batu lain sempat menggantung di tepi tebing.
“Batu yang di badan jalan sudah dipecah dan dibersihkan. Tetapi badan jalan mengalami hantaman yang sangat keras dari jatuhnya batu tersebut. Ada satu batu lagi yang sempat menggantung di pinggir jalan, dan itu sudah diamankan oleh tim Bina Marga,” katanya.
Batu yang berada di tepi tebing tersebut kemudian ditempatkan hingga mencapai tanah dasar agar tidak menambah beban pada struktur jalan yang berada di sisi tebing.
“Kalau tidak ditaruh di tanah dasar, batu itu bisa ikut menarik dan memberatkan jalan ini. Karena posisi jalan kita berada di pinggir tebing, sehingga berpotensi ikut terseret. Itu yang segera diamankan oleh tim,” jelas Emil.
Menurutnya, langkah tersebut merupakan penanganan darurat untuk mencegah kerusakan yang lebih parah pada infrastruktur jalan.
Ia juga menyoroti keberadaan tembok penahan yang dibangun pada 2017 saat dirinya masih menjabat Bupati Trenggalek. Struktur tersebut dinilai membantu menahan dampak longsoran.
“Tembok yang dibangun tahun 2017 itu terbukti membawa dampak positif untuk mencegah kerusakan yang lebih dahsyat terhadap rute ini,” ujarnya.
Meski demikian, beberapa bagian tembok mengalami kerusakan ringan.
“Ada beberapa titik yang terdampak, istilah Jawanya ‘gumpil’. Namun ini justru tanda bahwa strukturnya kokoh, sehingga perbaikannya nanti tidak perlu dibongkar, cukup ditambal dan diperkuat lagi,” kata Emil.
Saat ini petugas juga terus membersihkan material longsor yang masih tertahan di dinding penahan tebing. Pembersihan dilakukan agar tembok memiliki kapasitas untuk menahan kemungkinan runtuhan material dari atas.
Dalam penanganan tersebut, pemerintah juga melibatkan tim ahli geologi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) untuk menganalisis kondisi lereng.
Dari hasil pengamatan awal, diketahui bahwa mahkota longsor di lokasi tersebut mencapai sekitar 147 meter sehingga berpotensi menimbulkan runtuhan batu berukuran besar.
“Ini yang harus kita antisipasi dengan sangat hati-hati, karena kalau rontok batunya bisa besar. Maka kita lakukan analisa lebih lanjut termasuk menggunakan teknologi LiDAR (Light Detection and Ranging) untuk melihat lapisan tanah atas,” jelas Emil.
Teknologi LiDAR digunakan untuk mendeteksi ketebalan lapisan tanah atas (topsoil) yang berpotensi menjadi pemicu longsor. Selain faktor tanah, karakter batu di lokasi tersebut juga dinilai rentan runtuh.
“Batu-batu di sini termasuk batu vulkanik muda yang gampang ‘protol’, sehingga rawan terjadi rockfall,” tambahnya.
Selain kondisi geologi, keberadaan sawah di bagian atas tebing juga menjadi perhatian. Lahan sawah dinilai berpotensi menambah kandungan air di tanah sehingga mempengaruhi stabilitas lereng.
“Di atas itu ada sawah yang memang didesain untuk menyimpan air. Ini tidak terlalu cocok dengan upaya menjaga stabilitas lereng, sehingga perlu ada penyikapan,” ujarnya.
Sementara itu, untuk sementara waktu jalur nasional tersebut masih ditutup total bagi kendaraan besar. Kendaraan kecil diarahkan melalui jalur alternatif yang telah disiapkan.
Emil menegaskan keselamatan tetap menjadi prioritas utama sebelum jalan kembali dibuka.
“Kita masih butuh sekitar satu sampai dua hari untuk memastikan semuanya aman. Keselamatan nomor satu. Untuk kendaraan kecil sudah ada jalan alternatif, tetapi untuk truk memang belum bisa lewat,” katanya.
Jika kondisi tebing dinilai cukup stabil, skema buka tutup satu lajur kemungkinan akan diterapkan saat jalur kembali dibuka.
Pemerintah berharap masyarakat dan para pengguna jalan dapat bersabar selama proses penanganan berlangsung, mengingat jalur tersebut merupakan salah satu akses penting penghubung antarwilayah di selatan Jawa Timur. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

