Masjid Ainul Yaqin Sunan Giri Gresik: Simbol Akulturasi dan Jejak Sejarah Giri Kedaton yang Tak Lekang Waktu
Di balik arsitekturnya yang memadukan napas Islam dan budaya Jawa, tersimpan narasi panjang tentang perjalanan keturunan Sunan Giri dalam menjaga warisan sang Kakek, sekaligus menjadi saksi bisu transisi dari era kerajaan menuju tatanan baru di tanah Gresik.
GRESIK, SJP – Berdiri megah di atas Bukit Gajah, Masjid Besar Ainul Yaqin Sunan Giri bukan sekadar tempat ibadah biasa.
Di balik arsitekturnya yang memadukan napas Islam dan budaya Jawa, tersimpan narasi panjang tentang perjalanan keturunan Sunan Giri dalam menjaga warisan sang Kakek, sekaligus menjadi saksi bisu transisi dari era kerajaan menuju tatanan baru di tanah Gresik.
Salah satu koordinator humas masjid Sunan Giri, Muhammad Ma'arif, mengatakan banyak yang mengira bahwa masjid ini adalah bangunan pertama yang didirikan oleh Sunan Giri.
Namun, sejarah mencatat hal berbeda. Masjid pertama sejatinya dibangun oleh Sang Wali di Bukit Giri Kedaton pada tahun 1481 Masehi. Barulah pada tahun 1544 Masehi, atas inisiatif cucu beliau, Nyai Ageng Kabonan Sedayu, sebuah masjid baru didirikan di Bukit Gajah, tepatnya disebelah kawasan makam Sunan Giri.
"Tujuan didirikan Masjid Besar Ainul Yaqin Sunan Giri, ini sebagai pengganti Masjid Sunan Giri yang sudah hilang, juga diperuntukkan bagi para peziarah makam Sunan Giri singgah atau beritikaf," kata Arif, Selasa (10/3/2026).
Arif menerangkan, jejak sejarah mencatat temuan inskripsi berbahasa Arab bahwa masjid ini dibangun pada masa pemerintahan Sunan Giri ke empat, yakni Sunan Prapen.
Awalnya, bangunan ini hanya berukuran 9 x 10 meter yang kini masih terawat dan dialihfungsikan khusus sebagai tempat salat jamaah perempuan (masjid putri).
Namun seiring runtuhnya Kerajaan Giri Kedaton pada tahun 1.743, gelar raja pun memudar. Kepemimpinan beralih ke tangan Bupati Gresik yang kemudian mengangkat seorang Pengulu untuk bertugas sebagai juru kunci, modin, serta perawat makam dan masjid.
Pada tahun 1857, di bawah kepemimpinan H. Muhammad Yakob, Pengulu Astono Giri, masjid ini mengalami perluasan besar. Menariknya, perluasan ini tetap memegang teguh prinsip dakwah Walisongo.
Memasuki area masjid, pengunjung akan disambut oleh gapura yang menyerupai bentuk pura, sebuah simbol toleransi yang nyata. Struktur bangunannya pun mengadopsi konsep candi yang memiliki kaki bertingkat hingga bagian kepala.
Di dalamnya, terdapat 16 tiang kayu jati asli yang masih berdiri kokoh menyangga bangunan utama Masjid. "Tiang 16 ini bukan sekadar penyangga fisik, melainkan simbol filosofis untuk memperkuat dasar-dasar agama Islam dalam jiwa umat," jelas Arif, menerangkan sejarah masjid tersebut.
Beberapa artefak asli yang masih dipertahankan hingga kini di Masjid Besar Ainul Yaqin Sunan Giri antara lain mimbar kayu peninggalan asli era Sunan Prapen, ornamen kaligrafi pada pintu-pintu masjid, hingga beduk sebagai penanda waktu salat. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

