Manis dan Pahitnya Peternak Kampung Madu Kediri, Menjelajah Nusantara demi Angon Lebah

Demi berburu nektar, peternak lebah madu hidup nomaden. Keliling Indonesia, menyesuaikan musim bunga. Ada suka. Juga duka. Seperti dialami oleh peternak lebah madu asal Kediri yang lebah madunya diracun!

19 Jul 2026 - 09:31
Manis dan Pahitnya Peternak Kampung Madu Kediri, Menjelajah Nusantara demi Angon Lebah
Kotak-kotak lebah madu di kawasan Pegunungan Wilis di Kabupaten Kediri. (Foto: Dokumentasi Zeni Irfan)

MATAHARI baru saja beringsut ke atas kepala, Selasa, 30 Juni 2026, ketika telepon genggam Nurhadi berdering. Tanpa syak wasangka, pria paruh baya yang tengah berada di kios madunya, di Dusun Purworejo, Desa Beringin, Kecamatan Badas itu, mengangkat gawai. Bak petir di siang bolong, Nurhadi menerima kabar mengejutkan: “Keponakan saya mengabarkan peti madu saya yang ditaruh di Pati diracun,” kisah Nurhadi pilu.

Total 196 peti berisi ratusan ribu lebah madu yang ditempatkan di Desa Sampok, Kecamatan Gunungwungkal, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, sekitar 250 km dari rumahnya.

Baru dua hari, peti-peti dari Kediri itu tiba di Pati, kawasan vegetasi randu yang musim bunganya pada Mei - Juni.

Tanda-tanda musibah sudah terasa. Sejak awal tiba, peti-peti itu ditolak warga. Hal yang tak pernah terjadi sebelumnya. Mendapat penolakan, keponakan Nurhadi yang bermukim di Pati memindahkan ke lokasi baru, sekitar 2 km dari tempat lama.

Masalah tercium sejak awal. Senin, 29 Juni 2026 sore, keponakan Nurhadi mengetahui ada 8 peti yang bermasalah. Banyak lebah yang tumbang. Awalnya, diduga akibat obat hama buah.

Pengecekan Selasa, 30 Juni 2026 dini hari, masih aman. Baru siang harinya, diketahui sebagian besar lebah madu mati. “Dari 196 peti, hanya 20 peti yang bisa diselamatkan,” katanya.

Indikasi keracunan yang terlihat secara kasat mata adalah bercak putih pada bingkai lebah. Tak ada bau mencurigakan. “Kalau semisal faktor lain, semisal kena obat buah, biasanya nggak sampai semua yang mati. Ini hampir mati semua. Saya nggak pernah mengalami ini,” katanya.

Nurhadi syok. Baru tiga tahun, dia bangkit, setelah sempat terpuruk. Dari 24 peti lebah madu, beranjak menjadi 270 peti. Tak dinyana, sebagian besar perjuangannya itu musnah dalam semalaman. Kerugian dia prediksi berkisar Rp200 juta.

“Dua tiga hari, saya diam saja di rumah. Nggak tahu harus berbuat apa. Teman-teman meminta saya nggak usah ke Pati. Mereka yang membereskan urusan di sana,” kisahnya.

Untuk memastikan, bisa saja peti dan bingkai lebah dibawa ke laboratorium. Namun, Nurhadi enggan ribet. Jika melihat kondisinya, pasti ulah manusia. Rekan-rekannya sesama peternak lebah di Pati sempat melaporkan ke Polsek Gunungwungkal. Bahkan, kawasan tempat dia angon lebah madu sudah digaris polisi.

Konsekuensi Hidup Nomaden dan Penolakan Warga

Memilih mengais nafkah sebagai peternak lebah madu, Nurhadi tentu paham betul konsekuensinya. Hidupnya nomaden. Berpindah-pindah di satu vegetasi ke vegetasi lainnya. Siklus yang berjalan tiap tahun. Maka, jiwa penjelajah sudah melekat pada peternak lebah madu.

Hampir tiga dasa warsa menjadi peternak lebah, ragam rintangan sangat akrab dengan Nurhadi. Dia kerap memperoleh kendala saat menempatkan peti-peti lebah. “Ada masyarakat yang kurang paham, lalu menolak kawasannya dipakai untuk angon,” katanya.

Zeni Irfan, Sekretaris Asosiasi Peternak Lebah Daerah (Apida) Kediri Raya menambahkan, sesekali peternak lebah madu mengalami pengusiran di kawasan angon. Hal ini karena masyarakat tidak teredukasi. Ada salah kaprah tentang lebah madu. Mereka takut anaknya tersengat lebah. Padahal, lebah madu bukanlah tergolong lebah yang ganas.

Ada juga yang beranggapan, lebah akan merusak tanaman mereka. Karena anggapan ini, pernah terjadi tragedi pembakaran kotak-kotak sarang lebah madu pada tahun 2000 di Madiun. “Padahal, lebah madu ini justru membantu penyerbukan, dan ini menguntungkan petani. Masyarakat kurang teredukasi. Harusnya, ada edukasi dari petugas penyuluh pertanian,” ujar Irfan.

Kendala lain yang dihadapi adalah insektisida yang disemprotkan di lahan pertanian. Tak jarang, lebah madu terkena dampak. Namun, kematian akibat insektisida ini tak banyak. “Nggak sampai habis seperti yang di Pati ini,” papar Nurhadi. Hal ini biasanya masih bisa disiasati oleh peternak dengan tidak menempatkan kotak lebah di dekat area persawahan tersebut.

Saat musim madu bunga mangga, penebas mangga sering kali menjadi kendala. Penebas mangga memiliki anggapan keliru bahwa keberadaan lebah dapat mengurangi pendapatan mereka setelah mangga ditebas. Akibatnya, mereka terkadang menyemprot pohon mangga dengan obat (racun) yang memberikan dampak buruk bagi lebah. Padahal, lebah justru membantu penyerbukan.

Angon Lebah Mengikuti Rute Musim Bunga

Angon, demikian peternak lebah madu (Apis mellifera) menyebut penebaran peti-peti berisi lebah di sebuah kawasan yang dekat dengan vegetasi bunga yang menjadi sumber nektar. Ketika angon, peternak lebah madu menjelajah ruang dan waktu. Angon disesuaikan dengan kalender bunga: jadwal mekarnya bunga. Saat musimnya tiba, peternak lebah madu harus bergegas, mereka berpindah-pindah ke satu vegetasi ke vegetasi lainnya.

Misalnya, bunga Randu, biasanya pada Mei hingga Juni. “Kalau mekarnya bunga Randu itu pada pertengahan tahun, biasanya peternak Kampung Madu itu, angon di Pasuruan atau di Pati,” kata Zeni Irfan.

Setelah musim bunga randu habis, peternak berburu madu bunga kaliandra pada Juni atau Juli. “Tujuan utamanya biasanya kawasan Gunung Wilis di Kediri,” kata Irfan. Selain kaliandra, lanjut Irfan, Gresik juga menjadi pilihan alternatif setelah musim randu untuk mengincar bunga kangkung yang biasa digunakan sebagai bahan kosmetik.

Setelah musim kaliandra, rute perjalanan lebah berlanjut ke musim bunga mangga yang biasanya jatuh pada bulan Agustus-September. “Lokasi bunga mangga ini berada di daerah bawah Gunung Wilis, tepatnya di Tarokan dekat area bandara,” tutur Irfan.

Namun, saat ini para peternak sudah lama tidak masuk ke musim mangga dan sering mengalami kegagalan karena banyak pohon mangga yang ditebang akibat proyek pembangunan bandara. Sebagai gantinya, peternak akan bergeser ke musim bunga karet yang biasanya mulai ada pada bulan Agustus hingga Oktober. Sasarannya, di Ngawi.

Petualangan kemudian berlanjut ke Jawa Barat, tepatnya di Subang, untuk mengejar musim bunga rambutan setelah musim karet habis. Bahkan, jangkauan peternak lebah ini bisa mencapai Jambi untuk musim bunga akasia carpae. Begitulah tantangan pembudidaya lebah madu ketika angon. Sudah jadi siklus, mereka harus bermigrasi ke satu kawasan ke kawasan lain dalam waktu tertentu.

Manajemen Lapangan: Dari Survei hingga Penjagaan

Kehidupan para peternak lebah madu di Indonesia sangat bergantung pada siklus musim berbunga berbagai jenis tanaman. Untuk menghasilkan madu berkualitas, para peternak harus jeli melakukan survei langsung ke lokasi guna memastikan bunga yang mekar memiliki kandungan madu yang bagus.

Proses survei ini dilakukan bersama tim peternak dengan mengambil sampel langsung di lokasi, karena kualitas madu pada bunga dapat berbeda-beda dan tidak selalu bagus setiap tahunnya. Jika kondisi bunga dinilai kurang baik, peternak tidak akan berani memindahkan lebah-lebah mereka ke tempat tersebut. ”Kalau kurang bagus madunya kita enggak berani masuk,” kata Nurhadi.

Setelah memastikan nektar bunga, mereka menentukan penempatan peti. Jarak lebah mencapai bunga, maksimal 4 km. Pada radius itu, peti-peti lebah ditempatkan. “Saat angon, diupayakan jarak yang lebih dekat, sehingga bisa lebih sering menyedot nektar bunga,” ungkapnya.

Satu kali angon memakan waktu 1 - 3 bulan. Ketika nektar bunga dirasa sudah menipis, mereka berpindah ke vegetasi yang lain. Saat angon, tentu harus ada personel yang menjaga peti-peti lebah. Sebagian peternak menugaskan karyawannya menjaga peti-peti lebah.

“Saat ini, hanya sedikit yang menugaskan karyawan untuk menyertai peti-peti saat angon. Lebih banyak dijaga sendiri atau kerja sama dengan warga lokal,” ujar Zeni Irfan.

Lebih banyak peternak lebah madu yang menjaganya sendiri dengan bergantian. Semacam sistem piket, secara berkala, ada satu yang menjaga di lokasi, ketika yang lainnya pulang. Inilah yang saat ini dijalani oleh Nurhadi.  “Misalnya, saya dan tiga teman saya angon bareng, lalu kami bergantian jaga,” tutur Nurhadi.

Metode lain untuk penjagaan angon adalah bekerja sama dengan peternak tempat vegetasi bunga yang dituju. “Misal kayak saat musim Akasia di Jambi, itu saya sistemnya pembagian hasil panen, 45 persen hasil panen, untuk yang jaga di sana,” kisahnya.

Dari pengalaman hidup nomaden ini pula, Nurhadi sebenarnya berhasil membangun jejaring di berbagai kawasan vegetasi di Indonesia. Bahkan, pada kawasan tertentu, dia tak perlu menjaga atau menugaskan orang saat angon. “Banyak teman, sudah seperti saudara. Mereka bersedia mengurus lebah madu saya,“ ujarnya.

Jiwa Penjelajah yang Menolak Berhenti

Akhirnya, Nurhadi pasrah. Dia enggan melanjutkan proses hukum atas tragedi yang menimpanya di Pati. Dia memilih mengambil hikmah, begitulah suka duka angon, sembari optimis masa kebangkitan akan kembali datang. “26 tahun beternak madu, baru kali ini saya mengalaminya,” ungkap Nurhadi, sembari tersenyum getir.

Bagi Nurhadi dan para peternak lebah dari Kampung Madu Kediri, hidup nomaden memang penuh perjudian. Di antara manisnya tetesan nektar nusantara, selalu ada getir rintangan yang siap menghadang,  dari salah paham warga, semprotan insektisida, hingga sabotase keji yang merenggut ratusan ribu "pekerjanya" di Pati.

Namun, seperti sifat lebah yang selalu mencari bunga bersemi, Nurhadi menolak untuk berhenti. Di kios madunya di Kecamatan Badas, pria paruh baya itu kembali bersiap. "Saya mencuci kotak-kotak itu di sungai pada air yang mengalir. Mudah-mudahan masih bisa digunakan lagi," katanya. 

Nurhadi tak menyerah. Matanya menatap kalender musim bunga berikutnya dengan optimisme yang belum padam. (**)

Editor: Danu 

LIPUTAN KHUSUS:

Nestapa Peternak Lebah Kediri, Gagal Panen akibat Cuaca dan Serbuan Madu Sintetis

Jadi Magnet Wisata Edukasi, Ini Daya Tarik Kampung Madu Kediri

Manis dan Pahitnya Peternak Kampung Madu Kediri, Menjelajah Nusantara demi Angon Lebah

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow