Mandalika, Marquez, dan Pawang Hujan

Oleh: Ali Wafa*

20 Mar 2022 - 15:55
Mandalika, Marquez, dan Pawang Hujan
Ali Wafa (Doc)

BEBERAPA hari terakhir, media sosial dan media massa diramaikan dengan pemberitaan Sirkuit Internasional Mandalika. Nusa Tenggara Barat (NTB) pun seperti memiliki magnet tersendiri. Rombongan dari berbagai penjuru datang ke NTB untuk melihat sirkuit MotoGP berkelas internasional pertama di Indonesia itu. Tipologi kagetan masyarakat Indonesia menjadi faktor kemakluman ramainya Mandalika.

Mandalika adalah gagasan besar pembangunan nasional. Sebelum Mandalika ada, masyarakat Indonesia harus merogoh kocek lebih dalam untuk menyaksikan MotoGP secara langsung. Setidaknya, harus ke Sirkuit Sepang di Malaysia. Dengan dibangunnya Mandalika, Jokowi mampu menghemat anggaran rumah tangga penduduk Indonesia. Setidaknya, biaya transportasi untuk ke luar negeri bisa dialihkan untuk membeli minyak goreng.

Lebih dari itu, keindahan Mandalika memang pantas mencuri perhatian. Angin pantai laut Lombok dan aneka ragam faunanya melengkapi standar kepatutan tingginya animo masyarakat terhadap Mandalika. Namun, bagi para penggemar Valentino Rossi, keseruan Mandalika terasa ada yang kurang. Bahkan, sangat disayangkan Indonesia baru meresmikan sirkuit MotoGP berkelas internasional setelah Valentino Rossi gantung knalpot.

Marc Marquez dan pembalap MotoGP lainnya diharap mampu mengundang pundi-pundi rupiah, bahkan dolar. Agar semakin memancing perhatian, Jokowi mengundang para pembalap MotoGP ke Istana. Bahkan, mereka diarak mengelilingi Jakarta Pusat. Meski itu sedikit mengganggu kelancaran lalu lintas, namun itu cukup mengalihkan jutaan pasang mata ke Indonesia yang tujuannya adalah Mandalika.

Namun siapa sangka, Marquez yang menjadi harapan utama Indonesia, justru tidak bisa menampilkan performa terbaiknya di Mandalika. Marquez mengalami kecelakaan di tikungan ketujuh Sirkuit Mandalika. Ironisnya, kecelakaan itu justru terjadi saat dia melakukan pemanasan jelang balapan MotoGP sesungguhnya. Marquez cedera hingga alami gegar otak, (Kumparan, 20/3). Tapi mungkin, itu kabar baik bagi penggemar Valentino Rossi yang kecewa.

Bukan warga Indonesia jika opininya tidak ngawur. Marquez disebut-sebut sebagai tumbal pertama Mandalika. Tidak hanya Marquez, sejumlah pembalap lain juga mengalami kecelakaan serupa. Namun hanya Marquez yang terpental dan terguling-guling dengan begitu dramatis. Bagi penggemar Marquez, mungkin itu disebut pertunjukan sirkus, sebagai pembelaan. Namun yang pasti, Marquez harus absen dari balapan seri kedua musim ini.

Lagi-lagi, netizen Indonesia membuktikan julukannya sebagai produsen film horor terbaik. Kecelakaan Marquez kembali dikaitkan dengan hal mistis. Ada yang menyebut, Sirkuit Mandalika adalah bekas tanah kuburan. Terlepas itu benar atau tidak, namun yang pasti, ada pihak yang merasa dirugikan saat pembebasan lahan Sirkuit Mandalika. Bahkan, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menyebut Pemerintah Indonesia telah melanggar hak asasi manusia (HAM), (Kompas, 7/4/21)

Dengan insiden itu, barangkali Indonesia akan dianggap negara pembawa sial bagi Marquez. Sebab tidak hanya sekali, pembalap Tim Repsol Honda itu mengalami insiden serupa sebanyak empat kali, sebelum akhirnya diputuskan tidak bisa melanjutkan balapan. Kepada awak media, Marquez mengungkapkan penyebabnya. Faktor cuaca menjadi alasan utama. Cuaca kala itu tidak menguntungkan tim Honda. Mulai Sabtu pagi, hujan deras mengguyur Mandalika.

Alasan yang diungkapkan Marquez seharusnya cukup membuat Raden Rara Istiati Wulandari tersinggung. Reputasinya sebagai pawang hujan Mandalika diamputasi oleh Marquez. Sementara dia dikontrak oleh Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) dengan bayaran yang tidak kecil. Informasinya, dia dibayar ratusan juta untuk memodifikasi cuaca selama pagelaran MotoGP di Mandalika, (Detik, 21/3).

Dalam dunia perpawangan, Rara memiliki rekam jejak yang meyakinkan. Dia kerap mendapat kepercayaan mengendalikan cuaca dalam berbagai acara kenegaraan. Mulai dari kampanye Jokowi, vaksinasi masal, hingga upacara pembukaan Asian Games 2018 di Jakarta–Palembang lalu, (KompasTV, 21/3). Tidak sedikit yang mengapresiasi Rara karena telah berjuang mengamankan langit Mandalika. Namun, banyak juga yang meragukan kemampuannya.

Namun untuk meyakinkan semua orang, dia rela berbasah kuyup diguyur hujan di sekitar lintasan Sirkuit Mandalika. Aksinya pun menuai pujian para penonton di tribune. Namun tidak di media sosial. Beberapa jam kemudian, akhirnya hujan mereda. Saat sudah tersisa gerimis, Rara mengaku sengaja menyisakan rintik. Karena pembalap membutuhkan sedikit basah di lintasan, (Sonora.Id, 20/3). Mungkin dia khawatir, Mandalika akan menjadi proyek terakhirnya.

Setidaknya, kemunculan Rara di Mandalika telah membayar rasa penasaran terhadap bagaimana sebenarnya cara kerja pawang hujan. Namun, rangkaian ritual pawang hujan di Indonesia sangat beragam. Tergantung kearifan lokal masing-masing daerah. Salah satu bentuk ritual yang kerap didengar, yaitu dengan menusuk anus katak dengan lidi. Kemudian dijemur di atas atap. Ritual lainnya dengan membakar pelepah pisang.

Apa pun ritual yang dilakukan oleh pawang hujan, itulah kekayaan Indonesia. Indonesia kaya akan banyak hal. Mulai dari sumber daya alam (SDA) yang melimpah, hingga kumpulan orang-orang cerdas yang tidak henti-hentinya membuat pengguna media sosial tertawa. Namun tawa itu halal–meski belum mendapat label halal dari Kementerian Agama (Kemenag). Bahkan, tawa itu sangat halal bagi para penggemar Valentino Rossi saat mendengar Marquez gegar otak.

*) Warga Madura yang batal menonton MotoGP di Mandalika.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow