Sensing Culture pada Sound Horeg
Sejauh bacaan dan wawancara saya kepada beberapa orang yang pernah menghadiri acara dengan menggunakan sound horeg. Ketika saya bertanya, apa yang melatarbelakangi kebermunculan sound horeg? Temuan dan jawaban yang saya dapatkan adalah kebutuhan terhadap hiburan— kesenangan dan kegembiraan.
Dalam konteks kebutuhan hiburan bisa saja bersifat umum, bahwa setiap orang membutuhkan hiburan. Tetapi, dalam konteks jenis hiburannya adalah subyektif, antara orang satu dengan orang yang lain (bisa saja) berbeda. Ada orang yang jenis hiburannya sound horeg, sementara ada orang yang jenis hiburannya mancing.
Tidak ada yang keliru pada keduanya. Kebutuhan terhadap hiburan yang dimiliki oleh setiap orang, benar adanya. Jenis hiburan yang berbeda-beda karena bersifat masing-masing, benar adanya. Lalu, mengapa sejak kebermunculan sound horeg selalu saja ada polemik? Menurut saya, yang berpolemik ada di “horeg”nya. Bukan di “sound”nya, juga bukan di kebutuhan manusia terhadap hiburan, pun juga bukan di perbedaan jenis hiburan.
Sound yang ditambahi kata “horeg”, tentu ini barang baru. Sebab, tradisi yang selama ini ada ketika ada hajatan perkawinan, hajatan sunatan, kegiatan desa, pengajian akbar—menggunakan sound yang bukan “horeg”. Saya akan menggunakan bahasa, selama ini menggunakan sound yang samadya—kebutuhannya adalah ketercukupinya persebaran suara ke peserta atau pendengar (audiens).
Pada umumnya, orang menyebutnya dengan kebutuhan terhadap sound system. Maka, sound system yang seperti apa akan disesuaikan dengan kebutuhan persebaran suara dan banyaknya audiens. Antara acara slametan tahlilan di rumah dengan kegiatan bersih desa di lapangan dan hajatan perkawinan atau sunatan, tentu, berbeda jenis sound system yang diperlukan. Sekali lagi, kata kuncinya adalah kebutuhan tercukupinya persebaran suara ke audiens.
Selama ini, tradisi masyarakat terkait penggunaan sound system adalah samadya, yang sedang-sedang saja, yaitu sakbutuhe, sakperlune, sakcukupe. Maka, di dalam penggunaan sound system juga akan sakbenere, sakmestine, sehingga mendapatkan kepenak.
Kebutuhannya pengeras suara, keperluannya agar suara tersebar sehingga terdengar ke audiens, maka, pengeras suara berjenis speaker aktif bisa saja sudah mencukupi, atau sound system dengan desibel 70 atau 80 bisa saja sudah mencukupi.
Dengan demikian sudah sebenarnya apabila yang dilakukan adalah membeli speaker aktif atau menyewa sound system. Karena yang dilakukan sudah yang sebenarnya, maka, semestinya mendapatkan rasa enak (kepenak). Kepenak di sini memiliki dua dimensi, yaitu yang punya hajat kepenak sebab kebutuhannya tercukupi dan orang-orang di sekitarnya juga kepenak karena tidak ada yang merasa terganggu dan memang tidak diganggu—inilah kekuatan samadya, penak lan ngepenakake liyan.
Ada apa dengan Sound Horeg?
Sound horeg memiliki desibel yang tinggi, sampai 120 desibel. Volume suara yang sangat tinggi sehingga membuat jantung audiens berdebar. Konon, semakin sound horeg mampu mendebar-debarkan jantung, maka, sound horeg tersebut semakin “jawara”.
Memang, sesuai dengan kata “horeg” yang berarti bergetar atau berguncang, tidak hanya jantung para audiens yang diguncang tetapi juga tanah, rumah, dan apa-apa yang ada di sekitarnya.
Perkembangan sound horeg lebih lanjut adalah dengan menggunakan musik ala musik DJ di diskotik sehingga “jedug, jedug, jedug” semakin dirasakan “njedug” di jantung. Bahkan perkembangan terbaru, sound horeg menyertakan para penari latar.
Tentu, perkembangan-perkembangan sound horeg tersebut tidak bisa dilepaskan dari pasar atau penanggap. Kini, sound horeg selain memenuhi kebutuhan hiburan yang subyektif juga menjadi rekreasi bagi sebagian masyarakat kecil.
Sound horeg, suara yang bergetar. Semakin menggetarkan, semakin mengesankan. Maka, harga sewa sound horeg terbilang tinggi, mulai dari puluhan juta sampai mendekati seratusan juta rupiah. Semakin jenis soundnya canggih dan nama sound horegnya terkenal, maka, harga sewa juga semakin tinggi. Apalagi kalau penari latar yang terkenal, selebritis instagram—harga sewa bisa mumbul, naik tinggi.
Ada prestige di kalangan penanggap atau penyewa sound horeg. Mereka yang menyewa sound horeg yang canggih dan terkenal—maka, desa atau kampung atau instansi yang menyewa akan memperoleh prestige yang lebih. Apabila benar bahwa di balik fenomena sound horeg ada prestige, ada gengsi, ada kebanggaan, dan ada kewibawaan. Maka, muncul pertanyaan, apakah ada ungkul di sana? Ungkul adalah rasa (lebih) unggul, rasa (lebih) istimewa. Apabila benar ada ungkul, maka, bisa saja kita mengatakan bahwa kita sedang berada di sebuah masyarakat yang ungkul-ungkulan.
Polemik yang menyertai sejak munculnya sound horeg hingga hari ini. Tidak hanya menyoal like and dislike, suka dan tidak suka, demen lan sengit terhadap sound horeg. Apalagi di media sosial yang terkadang riuhnya melebihi keriuhan di nyata. Pernah juga muncul polemik sound horeg di tengah laut. Dan yang terbaru adalah polemik fatwa haram dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur. Sejak ada fatwa tersebut, tidak hanya jagad nyata yang horeg, tetapi jagad media sosial juga semakin horeg.
Merenungi dan menghayati fenomena sound horeg. Menurut saya, kita sedang berada di dua kondisi masyarakat. Pertama, kita berada di sebuah masyarakat yang belum mengarusutamakan ilmu pengetahuan. Entah, fenomena sound horeg kita dudukkan di “penting, kurang penting, atau tidak penting”, tetapi sound horeg terkait dengan kehidupan individual dan sosial.
Bagaimana ilmu pengetahuan kesehatan berbicara tentang sound horeg? Bagaimana psikologi, sosiologi, dan antropologi berbicara tentang sound horeg? Dan ilmu pengetahuan lainnya yang bisa terlibat, sehingga, hasil kajian berbasis riset dari lintas keilmuan tersebut bisa dijadikan pedoman bagi pemerintah didalam membuat kebijakan yang sebijak-bijaknya, kebijakan yang kepenak lan ngepenakake liyan.
Kedua, kita sedang berada di sebuah masyarakat yang sensing culture. Sensing adalah inderawi. Sensing culture berarti budaya inderawi yang kecenderungan orientasinya mencari sensasi atau kesan dengan tanpa dilatarbelakangi alasan (reasoning) dan tujuan. Menguatnya sensing culture pada diri seseorang berarti menguatnya pada diri seseorang untuk memenuhi kenikmatan-kenikmatan inderawi, mudah terpesona terhadap hal-hal yang “sensasional” dan “wah”. Sensing, itu yang paling kuat adalah menimbulkan sensasi inderawi—terkait dengan hal-hal material, kulit, dan permukaan.
Mengutip pernyataan Dr. Bagus Riyono, M.A., dosen Psikologi di Universitas Gadjah Mada yang juga President of International Association of Muslim Psychologists (IAMP), bahwa sensing culture sebagai penyebab kekosongan jiwa. Mengapa? Sebab, sensing culture meninggalkan alasan (reasoning) dan tujuan, pun menampik dampak-dampak. Maka, sensing culture bisa memunculkan pendangkalan karena seseorang tidak sampai ke level jiwa alasan (reasoning) yang memerlukan pemikiran dan penghayatan mendalam. Bahkan tidak sampai ke level jiwa empati (ngrasakke rasane liyan), dan spiritual.
Sound horeg sebagai fenomena sosial, terlepas sejauh apa polemik yang muncul pada akhirnya bisa saja dijadikan sebagai proses belajar bersama. Manusia, kita, terkadang memang lucu. Untuk hidup bersama sebagai sebuah masyarakat terkadang (masih) memerlukan proses belajar bersama. Sound horeg adalah kentongan bagi kita untuk kembali belajar bagaimana hidup secara bersama-sama yang saling kepenak lan ngepenakake berdasarkan kepada nilai hidup, samadya. (**)
Penulis: Sunarno (Dosen Psikologi Sosial UIN Syekh Wasil Kediri)
What's Your Reaction?

