Lonjakan Bencana 2025 Jadi Alarm Baru Kota Batu, Nurochman Dorong Deteksi Dini dan Mitigasi Preventif
Wali Kota Batu Nurochman menilai data yang ada bukan untuk menimbulkan kepanikan, melainkan peringatan dini agar pola penanganan ikut berubah. Sehingga kesiapsiagaan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mutlak bagi Kota Batu yang hidup berdampingan dengan risiko alam
KOTA BATU, SJP - Wali Kota Batu, Nurochman, menilai melonjaknya jumlah bencana alam sepanjang 2025 bukan sekadar statistik tahunan, melainkan alarm serius atas perubahan pola risiko alam di Kota Batu. Kenaikan jumlah kejadian dinilai menunjukkan tekanan lingkungan dan dinamika iklim yang semakin kompleks, terutama di kawasan perbukitan.
Pria yang akrab disapa Cak Nur itu pada Kamis (8/1/2026) menguraikan, hal yang terjadi bukan lagi soal banyak atau sedikitnya bencana, namun soal berubahnya pola risiko, dan intensitas hujan makin tinggi dan berlangsung lebih lama.
"Kalau masih mengandalkan penanganan darurat, kita akan selalu tertinggal, pemerintah daerah kini menggeser fokus dari respons pasca bencana ke deteksi dini dan mitigasi preventif. Pemetaan ulang zona rawan, susur sungai, serta perbaikan sistem drainase disebut sebagai langkah strategis untuk membaca potensi bencana sebelum berubah menjadi kerusakan," urainya.
Menurutnya, meningkatnya jumlah kejadian tidak otomatis berbanding lurus dengan jatuhnya korban. Tidak adanya korban jiwa sepanjang 2025 menjadi indikator bahwa kesiapsiagaan mulai berjalan, meski tetap membutuhkan penguatan berkelanjutan.
Nurochman juga menekankan peran warga sebagai garda terdepan mitigasi, khususnya di wilayah rawan seperti Kecamatan Bumiaji. Ia meminta masyarakat lebih peka terhadap tanda-tanda awal seperti retakan tanah, pohon miring, hingga perubahan aliran air.
“Ukuran keberhasilan bukan hanya selamat dari bencana, tapi seberapa kecil dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkan. Bencana bisa berulang, kerugian tidak boleh jadi rutinitas,” tandasnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

