Kinerja APBN Kediri Raya Februari 2026, Kabupaten Kediri Jadi Wilayah Dengan Serapan Terbesar
Kinerja APBN Kediri Raya di bulan Februari 2026, secara year on year mengalami penurunan, baik dari sektor belanja negara dan pendapatan. Namun secara umum, APBN Kediri Raya memberikan kinerja keuangan yang baik.
KEDIRI, SJP - Kinerja APBN Kediri Raya di bulan Februari 2026, secara year on year mengalami penurunan, baik dari sektor belanja negara dan pendapatan. Namun secara umum, APBN Kediri Raya memberikan kinerja keuangan yang baik.
"Untuk menopang pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global dan perang Timur Tengah di tahun 2026," tukas Kepala Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Kediri saat ini adalah Moch. Izma Nur Choironi, Selasa, (31/3/2026).
Belanja di wilayah Kediri Raya telah merealisasikan sebesar 21 persen atau sebesar Rp 1.499,25 miliar. Belanja Pegawai terserap sebesar Rp 125,90 miliar, Belanja Barang sebesar 68,4 miliar dan Belanja Modal sebesar Rp 5,57 miliar.
Dari sisi serapan wilayah, Kabupaten Kediri menyerap sebesar Rp231,923 miliar disusul Kabupaten Trenggalek sebesar Rp170,526 miliar dan Kabupaten Nganjuk sebesar Rp195,105 miliar serta terakhir Kota Kediri sebesar Rp147,857 miliar.
"Belanja Transfer ke Daerah secara year on year kontraksi sebesar -13,73 persen.Dana Bagi Hasil terserap sebesar Rp 13, 15 miliar, Dana Alokasi Umum sebesar Rp 917,97 miliar. Untuk Dana Alokasi Khusus Fisik masih belum ada realisasi sedangkan Dana Alokasi Khusus Non-Fisik sebesar Rp340, 45 miliar," tambahnya.
Izma, sapaan akrabnya, menuturkan untuk Insentif Fiskal yang diberikan kepada daerah dengan prestasi kinerja tertentu belum ada realisasi. " Untuk Dana Desa realisasi Rp 27, 81 miliar," tuturnya.
Izma menuturkan meski ada penurunan namun Penyaluran Kredit Program sampai dengan Februari masih menunjukkan ekspansi secara nilai year on year, jumlah debitur sebesar 19.314 kontraksi year on year sebesar -6,05 persen dengan nilai penyaluran sebesar Rp933,88 miliar tumbuh sebesar 8,80%.
Sedangkan Penyaluran KUR juga masih menunjukkan ekpansi secara nilai year on year, jumlah debitur sebesar 16.689 kontraksi year on year sebesar -4,92 persen dengan nilai penyaluran sebesar Rp 920, 79 miliar tumbuh sebesar 8,88 persen.
Sedangkan Penyaluran UMi ( usaha mikro) juga menunjukkan ekspansi secara nilai YoY, jumlah debitur sebesar 2.625, kontraksi year on year sebesar -12,65 persen dengan nilai penyaluran sebesar Rp 13,10 miliar tumbuh sebesar 3,18 persen.
Sedangkan dari sektor Pendapatan baik dari perpajakan mengalami kontraksi sedangkan PNBP mengalami ekspansi year on year, perpajakan sebesar -10,53 persen sedangkan PNBP sebesar 26,28 persen.
"Secara total sampai dengan Februari 2026 telah membukukan penerimaan sebesar Rp 3.245,23 miliar, Perpajakan sebesar Rp3.163,77 miliar dan PNBP sebesar Rp81,46miliar," pungkas Izma. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

