Dari Selada Menuju Harapan Baru, Ketika Dapur MBG Hidupkan Petani Hidroponik Bondowoso

Ketika peluang itu bertemu kebijakan pemerintah yang menyasar kebutuhan dasar masyarakat, seperti MBG, maka lahirlah energi ekonomi baru di desa-desa. Ini yang sejatinya diharapkan oleh Presiden Prabowo, melalui program MBG. Ada perputaran ekonmi di tingkat bawah.

15 Nov 2025 - 08:11
Dari Selada Menuju Harapan Baru, Ketika Dapur MBG Hidupkan Petani Hidroponik Bondowoso
Yudha Gusthi Randha, pemuda 32 tahun, tampak serius memeriksa tanaman selada hidoponiknya yang kini bersama Astanik, telah mensupplai kebutuhan SPPG Sumberkalong yang memproduksi menu Makan Bergizi Gratis (MBG). (Foto : Rizqi/SJP)

BONDOWOSO, SJP - Di sebuah halaman rumah sederhana di Desa Sumberkalong, Kecamatan Wonosari, deretan pipa-pipa putih tampak berjajar rapi, dipenuhi daun selada hijau yang tumbuh segar. 

Di antara gemericik air yang mengalir, Yudha Gusthi Randha, pemuda 32 tahun, tampak serius memeriksa tanaman-tanaman itu dengan telaten. 

“Kalau pagi lihat yang begini rasanya kaya lihat anak sendiri sehat semua,” ujarnya sambil tersenyum, Sabtu (15/11/2025).

Yudha bukan sekadar petani. Ia adalah wajah dari geliat ekonomi baru di Bondowoso, melalui sistem pertanian hidroponik, yang hari ini semakin menjanjikan.

Bahkan, saat ini upaya pribadi itu kemudian berkembang menjadi Astanik (Asosiasi Petani Hidroponik Bondowoso) yang ia pimpin.

Kini Astanik menaungi 25 petani dari berbagai kecamatan, mengelola lebih dari 60.000 lubang tanam, dan mampu memproduksi 2–3 ton selada setiap periode. Omzet mereka mencapai Rp40–60 juta per pekan, berkat panen bergilir yang memastikan pasokan tak pernah putus.

Apalagi, sejak sayuran hidroponiknya menjadi komuditas yang dibeli oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai salah satu menu dalam olahan Makanan Bergizi Gratis (MBG), program unggulan Presiden Prabowo Subianto.

Namun perjalanan Yudha tidak semulus daun selada segar yang ia panen hari ini. Ia memulai semua ini seorang diri pada 2012, hanya berbekal rasa penasaran dan koneksi internet.

“Awalnya saya belajar lewat YouTube. Modalnya cuma niat dan sedikit tabungan buat beli pipa dan nutrisi. Ya belinya di marketplace karena di sini belum ada yang jual,” kenangnya.

Apa yang dimulai sebagai hobi kini berubah menjadi penggerak ekonomi akar rumput Bondowoso. Lebih-lebih, produk pertanian Astanik kini rutin dibeli oleh SPPG Sumberkalong yang berlokasi di Jalan Trunojoyo, Desa Sumberkalong, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Bondowoso, di bawah naungan Yayasan Al Furqon Pejagan Bondowoso.

Ketika SPPG Hadir, Peluang Baru Lahir

Tak jauh dari rumah Yudha berdiri dapur SPPG Sumberkalong. Setiap minggu, dapur ini meminta pasokan 20 kilogram selada hidroponik, dengan harga sekitar Rp35 ribu per kilogramnya.

“Alhamdulillah, program MBG ini membuka peluang baru buat kami. Ada kepastian permintaan, dan pastinya menambah pemasukan teman-teman petani,” kata Yudha.

Program Makanan Bergizi Gratis tidak hanya memberi makan ribuan anak Indonesia setiap hari, tetapi juga menyentuh rantai ekonomi paling bawah, petani kecil, kelompok usaha mikro, dan produsen pangan lokal.

“Di Bondowoso, khususnya di Desa Sumberkalong efeknya terasa nyata. Kami petani hidroponik yang tergabung dalam Astanik kini punya pasar yang stabil, terjangkau, dan berkelanjutan. Kami pun tidak mengurangi kebutuhan pasar, tetapi akan menambah produksi untuk mencukupi permintaan SPPG,” tukasnya.

Peluang baru ini juga menjadi titik tolak meningkatkanya kebutuhan pasar dan SPPG untuk produk hidroponik di Kabupaten Bondowoso. 

Bayangkan saja, jika semua (65 lokasi) SPPG di Bondowoso membutuhkan sayuran hidroponik dengan masing-masing 20 kilogram, dalam setiap minggunya, tentu ada kisaran 1,3 ton selada yang dibutuhkan.

“Kami bersama Astanik menangkap peluang itu. Karena dalam sebulan saja, jika peluang ini bisa kita manfaatkan, tentunya butuh 5,2 ton untuk mencukupi kebutuhan SPPG di Bondowoso saja,” ujarnya.

Harapan yang Mengalir dari Sebatang Selada

Setiap kali Yudha memanen selada, ia tahu bahwa sebagian hasil panennya akan masuk ke dapur SPPG. Dari sana, selada-selada itu menjadi bagian dari hidangan bergizi untuk anak-anak sekolah, makanan yang bukan hanya mengenyangkan, tapi juga membangun masa depan.

“Kita petani hidroponik yang tergabung dalam Astanik ikut senang. Dari kebun kecil begini, bisa bantu anak-anak makan sehat,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala SPPG Sumberkalong, Ineke Kartika Sari, sangat mengapresiasi jerih payah dan perjalanan Yudha yang berawal dari sebuah video YouTube dan beberapa pipa bekas, tetapi hari ini menjadi bukti bahwa inovasi di tangan anak muda bisa membuka pintu rezeki baru. 

“Ketika peluang itu bertemu kebijakan pemerintah yang menyasar kebutuhan dasar masyarakat, seperti MBG, maka lahirlah energi ekonomi baru di desa-desa. Ini yang sejatinya diharapkan oleh Presiden Prabowo, melalui program MBG. Ada perputaran ekonmi di tingkat bawah,” ucapnya. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow