Kelenteng Tjoe Tik Kiong Tulungagung Bersolek Sambut Imlek

Menjelang Imlek suasana klenteng juga semakin semarak dengan pemasangan 250 lampion merah yang menghiasi hampir seluruh kompleks. Lampion-lampion baru ini menggantikan lampion tahun lalu yang warnanya telah kusam.

12 Feb 2026 - 21:15
Kelenteng Tjoe Tik Kiong Tulungagung Bersolek Sambut Imlek
Bioma Klenteng Tjoe Tik Kiong Tulungagung, Tjio Jing Jing, menyiapkan lampion untuk dipasang sebagai dekorasi klenteng dalam rangka tahun baru Imlek. (Beny/SJP)

TULUNGAGUNG, SJP - Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2577 yang jatuh pada 17 Februari 2026, suasana Klenteng Tjoe Tik Kiong, Tulungagung, mulai dipenuhi nuansa merah dan aroma dupa yang khas. Di balik gemerlap lampion yang bergantungan, ada satu tradisi sakral yang tak pernah terlewat setiap tahun, ayak abu dupa.

Tradisi ini menjadi penanda dimulainya rangkaian persiapan Imlek di klenteng yang menjadi pusat ibadah umat Konghucu dan Tri Dharma di Tulungagung tersebut. Prosesi ayak abu dilakukan setelah ritual sembahyang Sang Sin, yakni momen ketika para dewa diyakini naik ke nirwana beberapa hari sebelum Imlek.

Bioma atau juru kunci perempuan Klenteng Tjoe Tik Kiong, Tjio Jingjing, mengatakan bahwa ayak abu merupakan bagian penting dari tradisi bersih-bersih menjelang tahun baru.

“Hari ini tanggal 12 kita kegiatannya mengayak abu. Kita membersihkan abu-abu yang ada di altar,” ujar Tjio Jingjing, Kamis (12/2/2026).

Menurutnya, tradisi bersih-bersih hanya boleh dilakukan sebelum Imlek. Setelah tahun baru tiba, aktivitas seperti menyapu atau membuang sampah justru dihindari karena dipercaya dapat membuang rezeki.

“Kalau menjelang Imlek kita memang tradisinya harus bersih-bersih. Jadi nanti kalau kita sudah Imlek, kita tidak boleh bersih-bersih. Kita menyapu pun juga enggak boleh. Sampah itu istilahnya ditaruh dulu, besoknya baru boleh dibuang,” jelasnya.

Satu persatu 20 bokor di dalam klenteng dikeluarkan dan dibersihkan dari kotoran dan gagang dupa. Proses pengayakan abu harus dilakukan satu demi satu, karena abu dari setiap altar tidak boleh tercampur. Setelah disaring dari gagang-gagang dupa dan kotoran lain, abu yang telah bersih dimasukkan kembali ke bokor dan dikembalikan ke altar masing-masing.

“Makna mengayak abu itu kita membersihkan barang-barang yang istilahnya Jawa itu barang-barang yang olo (buruk). Jadi kita pembersihan supaya nanti menjelang Imlek itu tidak terjadi suatu masalah,” tutur Tjio Jingjing.

Bagi umat Tridharma, abu dupa bukan sekadar sisa pembakaran, melainkan simbol doa-doa yang telah dipanjatkan sepanjang tahun. Dengan mengayaknya, umat seolah menyaring kembali batin dan harapan, membuang hal-hal buruk untuk menyambut tahun baru dengan hati yang bersih.

Tujuan utama tradisi ini adalah penyucian diri, membersihkan pikiran buruk, membuang dosa, sekaligus memohon keberuntungan dan harapan baru di tahun yang akan datang.

Selain ayak abu, Klenteng Tjoe Tik Kiong juga telah memulai rangkaian persiapan lainnya. Ritual diawali dengan sembahyang Sang Sin, kemudian dilanjutkan dengan ayak abu, hingga nanti pergantian busana Dewi Mak Co Thian Siang Seng Bo, dewa utama di Klenteng Tjoe Tik Kiong.

“Rangkaiannya mulai sembahyang Sang Sin, kemudian ayak abu. Nanti tanggal 15 itu kita ganti bajunya Mak Co dari baju kuning ganti baju merah,” jelas Tjio Jingjing.

Menjelang Imlek suasana klenteng juga semakin semarak dengan pemasangan 250 lampion merah yang menghiasi hampir seluruh kompleks. Lampion-lampion baru ini menggantikan lampion tahun lalu yang warnanya telah kusam.

“Dekorasi klenteng, lampion hari ini naik semua dan nanti sore pemasangan lilin. Ada 250 lampion,” kata Tjio Jingjing.

Lampion dipasang di berbagai titik strategis, mulai dari altar Mak Co, Mak Kwan Im, hingga di seluruh bangunan klenteng. Untuk memudahkan umat yang ingin menyumbang, klenteng juga menyediakan lampion bagi umat yang ingin memasang sebagai bentuk partisipasi dan doa pribadi.

“Lampion kita kiriman dari Jakarta. Bukan sumbangan langsung, tapi kelenteng menyediakan. Yang besar seharga 500 ribu, yang kecil 200 ribu. Tahun ini jumlahnya sama dengan tahun lalu,” jelas Jing Jing.

Menurut Jing Jing, lampion merah bukan sekadar hiasan tetapi juga bermakna filosofis. Warna merah melambangkan rezeki dan kesuksesan, sementara cahaya yang memancar menjadi simbol pencerahan, harapan masa depan, serta doa agar hubungan keluarga tetap harmonis. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow