Jelang Ramadan, Harga Cabai Rawit di Surabaya Naik Tajam

Harga cabai rawit di Surabaya melonjak dua kali lipat hingga Rp 85 ribu per kilogram akibat cuaca ekstrem, kembali menjadi langganan kenaikan pangan jelang bulan suci.

14 Feb 2026 - 14:30
Jelang Ramadan, Harga Cabai Rawit di Surabaya Naik Tajam
Kegiatan Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar Pemerintah Kota Surabaya sebagai upaya menstabilkan harga jelang Ramadan. (Pemkot Surabaya for SJP)

SURABAYA, SJP – Suasana menjelang Ramadan 1447 Hijriah mulai terasa di Kota Surabaya. Namun, seperti tahun-tahun sebelumnya, kenaikan harga bahan pangan kembali ikut menyambut datangnya bulan suci. Kali ini, cabai rawit menjadi komoditas yang paling terasa pedas, dengan harga yang melonjak hingga Rp 85 ribu per kilogram di pasar tradisional. 

Lonjakan harga itu terpantau saat Tim Kerja Pengendalian dan Distribusi Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (BPSDA) Kota Surabaya melakukan inspeksi mendadak di Pasar Pucang Anom dan Pasar Wonokromo.

Ketua Tim Kerja Pengendalian dan Distribusi BPSDA Kota Surabaya, Agung Supriyo Wibowo, menyebut kenaikan cabai terjadi sangat cepat dalam dua pekan terakhir dan menjadi yang paling signifikan dibanding komoditas lain. 

"Dari hasil pemantauan di lapangan, yang paling terlihat itu cabai (rawit), dari kisaran Rp 40 ribu menjadi sekitar Rp 80–85 ribu per kilogram dalam dua pekan terakhir," ujarnya saat dikonfirmasi pada Sabtu (14/2/2026).

Cuaca Ekstrem Jadi Pemicu Utama

Menurut Agung, faktor utama kenaikan harga cabai yang nyaris menyentuh angka dua kali lipat dari harga sebelumnya bukan karena distribusi, melainkan gangguan produksi di daerah penghasil akibat cuaca ekstrem yang terjadi sejak awal tahun 2026.

"Untuk cabai memang agak sulit dikendalikan karena dipengaruhi cuaca," katanya.

Ia menjelaskan, curah hujan tinggi menyebabkan banyak tanaman cabai rusak dan membusuk sebelum panen, sehingga pasokan ke pasar berkurang drastis. Meski demikian, ada harapan harga kembali stabil dalam waktu dekat.

"Tetapi informasi dari Kementerian Pertanian, Maret nanti diperkirakan ada panen raya nasional, termasuk di Jatim. Semoga harga bisa kembali stabil," imbuhnya.

Selain cabai, beberapa bahan pokok lain juga mengalami kenaikan meski tidak setajam cabai rawit. Bawang merah tercatat naik sekitar Rp 5 ribu per kilogram, sementara telur ayam naik sekitar Rp 3 ribu per kilogram. Kendati demikian, Agung memastikan secara umum ketersediaan pangan di Surabaya masih dalam kondisi aman jelang Ramadan dan Idul Fitri.

"Menjelang bulan suci Ramadan dan Idul Fitri, kami fokus melakukan pengawasan harga dan ketersediaan bahan pokok penting, sekaligus memastikan keamanan pangan di masyarakat," tegasnya.

Pemkot Surabaya juga menyiapkan langkah intervensi jika harga terus melonjak, seperti mengintensifkan Gerakan Pangan Murah (GPM) dan pasar murah di berbagai wilayah.

Produksi Lokal Diperkuat

Di tengah kenaikan harga pasar, Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) menggencarkan penguatan produksi lokal. Bersama Kelompok Tani (Poktan) Sendang Biru, panen cabai rawit digelar sebagai langkah meredam gejolak harga.

Kepala DKPP Kota Surabaya, Antiek Sugiharti, mengatakan panen tersebut merupakan hasil tanam sejak Oktober 2025 dan memang dipersiapkan untuk menghadapi potensi lonjakan harga jelang Ramadan.

"Dengan populasi sekitar 1.300 pohon, potensi hasilnya cukup signifikan untuk membantu memenuhi kebutuhan warga sekitar. Jenis yang ditanam adalah varietas Ori, yang memiliki kualitas terbaik dan harga paling tinggi di pasaran," ujarnya.

Menurut Antiek, harga cabai di pasaran kini berada di kisaran Rp 70 ribu hingga Rp 85 ribu per kilogram. Keberadaan hasil panen lokal diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar daerah.

"Ini akan sangat membantu menstabilkan harga secara makro," tambahnya.

Pemkot bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) juga memantau harga telur dan daging ayam. Berbagai intervensi dilakukan melalui GPM, operasi pasar, hingga pengawasan stok bersama kementerian terkait.

Antiek memastikan pasokan pangan menjelang Ramadan dalam kondisi aman dan meminta masyarakat tetap tenang.

"Hasil pemantauan kami, seluruh komoditas pangan di Surabaya dalam kondisi aman. Masyarakat kami imbau untuk belanja dengan bijak sesuai kebutuhan, tidak perlu panic buying," tegasnya.

Petani Jual Lebih Murah untuk Warga

Sementara itu, anggota Poktan Sendang Biru, Suprapto (67), mengaku panen cabai dilakukan rutin setiap lima hari sekali dengan hasil 6 hingga 8 kilogram per panen. Di tengah harga pasar yang tinggi, ia memilih menjual cabainya lebih murah kepada warga sekitar.

"Kalau di pasar bisa Rp 85.000, saya jual Rp 70.000 untuk membantu tetangga," katanya.

Meski menghadapi kendala virus kuning pada tanaman, Suprapto mengaku dukungan bibit dari Pemkot Surabaya cukup membantu menjaga produktivitas.

Dengan Ramadan yang tinggal menghitung hari, harga cabai memang terasa semakin pedas. Namun, pemerintah optimistis panen raya pada Maret serta penguatan produksi lokal dapat meredam gejolak harga dan menjaga stabilitas pangan di Kota Pahlawan. (*) 

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow