Jawa Timur Mulai Merasakan Dampak Perang AS-Israel dan Iran
Kenaikan biaya logistik global akibat konflik akan secara otomatis meningkatkan harga komoditas di pasar-pasar tradisional Jawa Timur.
SURABAYA, SJP – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, memaparkan dampak rambatan (spillover effect) konflik geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Dalam momentum Idulfitri 1447 H, Khofifah menegaskan bahwa eskalasi militer di Timur Tengah bukan sekadar isu kemanusiaan, melainkan ancaman nyata bagi daya beli masyarakat di daerah.
Usai melaksanakan salat Idulfitri di Masjid Al Akbar Surabaya, Sabtu (21/3/2026), mantan Menteri Sosial ini menyebutkan bahwa ketegangan global secara langsung mengganggu rantai pasok energi dan pangan dunia.
Khofifah menjelaskan bahwa peperangan di pusat energi dunia memicu volatilitas harga minyak mentah yang sangat tinggi.
Gangguan pada pasokan minyak (supply oil) global ini, menurutnya, berpotensi menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta memicu inflasi barang pokok.
"Dampak ekonomi akibat gangguan suplai minyak tidak bisa kita abaikan. Ada risiko stabilitas sosial yang mengintai jika harga energi melonjak dan memicu kenaikan harga kebutuhan dasar. Kita tidak ingin ini berkepanjangan karena beban akhirnya ada di masyarakat," tegas Khofifah.
Ia menekankan bahwa dalam arsitektur ekonomi global yang saling terhubung, tidak ada pemenang dalam perang.
Kenaikan biaya logistik global akibat konflik akan secara otomatis meningkatkan harga komoditas di pasar-pasar tradisional Jawa Timur.
Kendati demikian, menyikapi tekanan eksternal tersebut, Pemprov Jatim telah menyiapkan serangkaian langkah mitigasi untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian global.
Pertama adalah ketahanan energi dan logistik melalui kolaborasi ketat dengan Pertamina Patra Niaga dan PLN guna memastikan stok BBM dan listrik tetap aman, termasuk penyiapan infrastruktur energi portable untuk menjamin mobilitas Lebaran tetap efisien secara biaya.
Kedua, intervensi rantai pasok pangan dengan membangun koordinasi berlapis untuk memangkas jalur distribusi kebutuhan pokok guna menekan harga di tingkat konsumen, serta memastikan inflasi daerah tetap terkendali meskipun tekanan global meningkat.
Ketiga adalah bantalan sosial. Program seperti mudik gratis menjadi instrumen pemerintah daerah untuk mendistribusikan kembali beban ekonomi, sehingga masyarakat tetap dapat merayakan hari raya tanpa tertekan biaya transportasi yang melambung.
"Kita butuh suasana yang sejuk dan aman secara global agar ekonomi bisa bergerak. Harapan kami, para pemimpin dunia mampu menahan diri demi keselamatan ekonomi masyarakat kecil," pungkasnya. (**)
Sumber: Beritasatu.com
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

