Waspada Lonjakan Gula Darah dan Kolesterol Saat Lebaran

Penerapan konsep pembagian lambung demi menjaga fungsi pencernaan tetap optimal adalah sepertiga bagian untuk makanan padat, sepertiga bagian untuk cairan, dan sepertiga bagian untuk udara (ruang kosong).

22 Mar 2026 - 10:00
Waspada Lonjakan Gula Darah dan Kolesterol Saat Lebaran
Ilustrasi alat cek gula darah. (Foto: freepik.com)

SUARAJATIMPOST.COM – Euforia perayaan Idulfitri kerap berujung pada perubahan pola makan drastis yang memicu gangguan kesehatan serius. 

Dokter spesialis penyakit dalam, dr. Waluyo Dwi Cahyono, memperingatkan masyarakat untuk mewaspadai lonjakan kadar gula darah dan kolesterol akibat konsumsi makanan yang tidak terkendali selama masa libur panjang.

Berdasarkan data Halodoc 2025, permintaan pemeriksaan kolesterol dan gula darah melonjak hingga 95 persen hanya dalam satu minggu setelah Idulfitri. 

Meski angka tersebut menurun menjadi 40 persen pada minggu kedua, tren ini membuktikan bahwa banyak masyarakat baru menyadari adanya gangguan kesehatan setelah masa pesta berakhir.

Angka ini menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat baru menyadari adanya gangguan kesehatan setelah gejala muncul atau pasca-konsumsi berlebih selama hari raya.

Menurut dr. Waluyo, tubuh yang telah beradaptasi dengan pola puasa selama sebulan penuh sering kali mengalami kejutan metabolik saat tiba-tiba menerima asupan kalori tinggi secara masif. 

"Setelah Lebaran, asupan makanan tinggi lemak, santan, gula, dan karbohidrat biasanya meningkat tajam. Jika tidak dikontrol, kadar gula darah dan kolesterol bisa ikut melonjak," tegas dr. Waluyo. 

Ia menambahkan bahwa individu dengan faktor risiko seperti obesitas, diabetes, atau riwayat dislipidemia (kolesterol tinggi) berada pada posisi paling rentan terhadap komplikasi akut akibat perubahan pola makan ini.

Lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) ini menekankan bahwa kunci kesehatan pasca-Lebaran bukan terletak pada pantangan ekstrem, melainkan pada manajemen porsi. 

Ia menyarankan penerapan konsep pembagian lambung demi menjaga fungsi pencernaan tetap optimal. Yakni sepertiga bagian untuk makanan padat, sepertiga bagian untuk cairan, dan sepertiga bagian untuk udara (ruang kosong).

"Kuncinya bukan melarang, tetapi mengatur porsi. Jangan sampai semua diisi makanan. Itu yang sering memicu keluhan medis," lanjutnya.

Selain ancaman gula darah dan kolesterol, rendahnya asupan serat akibat dominasi hidangan khas Lebaran juga memicu gangguan pencernaan seperti sembelit dan diare. 

Sebagai langkah pemulihan metabolisme, masyarakat diimbau untuk segera kembali ke pola makan seimbang dengan meningkatkan konsumsi sayur dan buah, menjaga hidrasi, serta melakukan aktivitas fisik secara rutin untuk membakar surplus kalori yang masuk selama masa liburan. (**) 

Sumber: Beritasatu.com

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow