Jatim Catat Kasus Superflu Terbanyak, Surabaya Siaga Meski Masih Nihil Laporan
Meski Jawa Timur mencatat kasus superflu terbanyak nasional, Surabaya masih nihil laporan. Namun Pemkot memilih siaga penuh dengan skrining ketat dan penguatan layanan kesehatan tanpa memicu kepanikan.
SURABAYA, SJP — Kementerian Kesehatan RI mencatat Jawa Timur sebagai provinsi dengan jumlah kasus influenza A (H3N2) subclade K atau yang populer disebut superflu terbanyak di Indonesia. Dari total 62 kasus yang terdeteksi secara nasional hingga akhir Desember 2025, 23 kasus diantaranya ditemukan di wilayah Jawa Timur.
Kota Surabaya sendiri hingga kini belum mencatat satu pun kasus. Kendati masih nihil, Pemerintah Kota Surabaya menegaskan tetap bersiaga tanpa menciptakan kepanikan di tengah masyarakat.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi menjelaskan bahwa Pemkot memilih langkah antisipatif dengan memperkuat skrining kesehatan dan kesiapsiagaan layanan, terutama pascalibur Natal dan Tahun Baru (Nataru) yang identik dengan mobilitas masyarakat tinggi.
"Hingga saat ini belum ada laporan resmi. Namun kami tetap memberikan imbauan kepada warga yang merayakan libur Nataru, baik di tempat hiburan lokal maupun yang baru kembali dari luar negeri," terang Eri, Rabu (7/1/2026).
Orang nomor satu di Surabaya itu menyebut, skrining ketat diterapkan khususnya bagi pelaku perjalanan internasional, termasuk pemeriksaan suhu tubuh dan kondisi kesehatan saat kedatangan.
Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya deteksi dini terhadap berbagai potensi penyakit menular, termasuk influenza varian baru. Sementara untuk mobilitas dalam negeri, Pemkot menekankan pentingnya kesadaran masyarakat untuk segera memeriksakan diri jika merasakan gejala flu.
"Kami berharap masyarakat memiliki kesadaran sendiri. Jika merasa kondisi tubuh kurang sehat, seperti demam, batuk, atau gejala flu lainnya, segera melapor ke fasilitas kesehatan terdekat," pesannya.
Selain skrining, Pemkot Surabaya juga menyiagakan seluruh puskesmas serta memperkuat koordinasi dengan rumah sakit. Seluruh fasilitas kesehatan diminta segera melaporkan apabila menemukan pasien dengan gejala penyakit menular agar dapat dilakukan pemeriksaan dan penanganan lanjutan secara cepat.
Sejalan dengan itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya memastikan hingga kini belum ditemukan pasien terpapar superflu. Meski demikian, langkah antisipatif dilakukan secara aktif dan berkelanjutan melalui penguatan surveilans penyakit pernapasan.
"Langkah tersebut meliputi penguatan surveilans kesehatan dan pemantauan kasus ISPA dan influenza di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan, peningkatan kesiapsiagaan puskesmas dan rumah sakit, serta penerapan standar Pencegahan dan Pengendalian Infeksi," sebut Kepala Dinkes Surabaya Nanik Sukristina.
Nanik menjelaskan, sistem deteksi dini dan pelaporan cepat telah berjalan dengan pencatatan dan analisis kasus penyakit pernapasan secara harian. Jika ditemukan pasien dengan gejala flu berat atau tidak biasa, fasilitas kesehatan diwajibkan melakukan skrining lanjutan dan melaporkannya melalui sistem resmi dalam waktu kurang dari 24 jam.
"Jika ditemukan pasien dengan gejala flu berat atau tidak biasa, fasilitas kesehatan wajib melakukan skrining lanjutan dan melaporkannya melalui sistem pelaporan resmi," imbuhnya.
Nanik juga menegaskan bahwa istilah superflu bukan istilah medis resmi. Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan influenza atau infeksi saluran pernapasan akut dengan gejala yang dirasakan lebih berat atau penyebarannya relatif cepat.
Masyarakat diminta tetap tenang, tidak mudah percaya informasi yang belum jelas sumbernya, serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
Gubernur Jatim Sebut Jatim Terkendali
Sebelumnya, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa juga menegaskan bahwa kondisi influenza A (H3N2) subclade K di Jawa Timur masih terkendali dan tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan dibandingkan varian influenza lainnya.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus melakukan pemantauan melalui surveilans ILI dan SARI serta pemeriksaan laboratorium rujukan.
“Kami ingin menegaskan kepada masyarakat bahwa virus influenza A (H3N2) subclade K tidak berbahaya dan tidak mematikan. Masyarakat tidak perlu panik, namun harus tetap waspada dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat," ucap Khofifah pada Senin (5/1/2026) lalu.
Pemprov Jatim juga mengimbau masyarakat untuk disiplin menerapkan etika batuk, penggunaan masker di ruang tertutup atau kerumunan, serta mempertimbangkan vaksin influenza bagi kelompok berisiko. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

