Isra Mikraj 1447 H/2026 M di Tengah Krisis Akhlak

17 Jan 2026 - 12:50
Isra Mikraj 1447 H/2026 M di Tengah Krisis Akhlak
Habib Abdullah bin Idrus bib Agil Assegaf, Ketua Komunitas Noto Roso, Tumpang Malang (Dok. SJP)

SUARAJATIMPOST.COM — Isra Mikraj bukan hanya kisah Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan luar biasa. Jika hanya dipahami sebagai cerita, anak kecil pun dapat menghafalnya. Namun, Isra Mikraj sejatinya merupakan peringatan serius bagi akal, hati, dan perilaku manusia di bumi.

Peristiwa ini mengajarkan satu prinsip penting: Allah mengangkat derajat manusia bukan karena harta, jabatan, atau popularitas, melainkan karena kejujuran hati dan ketaatan. Ukuran kemuliaan tidak ditentukan oleh apa yang tampak di hadapan manusia, tetapi oleh kualitas batin di hadapan Tuhan.

Sebelum diangkat ke langit, Nabi Muhammad SAW justru mengalami luka batin di bumi. Beliau dicaci, dilempari, ditolak, dan dihina. Hal ini menegaskan bahwa bahkan manusia paling mulia pun tetap menghadapi ujian sosial dan psikologis. Kemuliaan tidak selalu berjalan beriringan dengan kenyamanan.

Pelajaran ini relevan dengan kehidupan hari ini. Ketika seseorang baru dicibir sedikit lalu marah, baru dikritik lalu menyimpan dendam, atau baru tidak dipuji lalu kecewa, bisa jadi ia belum sepenuhnya memahami makna Isra Mikraj.

Isra Mikraj dan Manusia Modern

Manusia modern banyak yang naik status, tetapi turun adab.

Naik jumlah pengikut, tetapi turun kualitas salat.

Naik jabatan, tetapi turun empati.

Naik suara, tetapi turun akhlak.

Isra Mikraj membawa satu oleh-oleh utama: salat. Bukan zakat lebih dulu, bukan pula haji. Sebab salat adalah terapi jiwa, penyeimbang ego, sekaligus rem sosial.

Salat yang benar tidak berhenti pada gerakan fisik. Ia tercermin dalam sikap hidup. Hatinya lebih tenang, lisannya lebih terjaga, tangannya ringan menolong, dan pikirannya lebih jernih. Jika salat hanya menjadi rutinitas, sementara kehidupan dipenuhi kebencian, berarti yang naik hanya tubuhnya, sedangkan hatinya masih tertinggal di bumi.

Cermin Batin di Peringatan Isra Mikraj

Peringatan Isra Mikraj seharusnya menjadi ruang bercermin, bukan ajang menunjuk kesalahan orang lain. Sudahkah salat menjadikan kita lebih rendah hati? Sudahkah ibadah menjauhkan kita dari kebiasaan menghakimi? Sudahkah ilmu agama membuat kita lebih lembut, bukan justru lebih keras?

Isra Mikraj bukan tentang siapa yang paling hafal kisahnya, melainkan siapa yang paling berubah akhlaknya setelah mengetahuinya. (**) 

Penulis: Habib Abdullah bin Idrus bib Agil Assegaf, Ketua Komunitas Noto Roso, Tumpang Malang. 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow