HKN ke-61, Kota Batu Soroti Perang Sunyi Melawan TBC dan Stigma Sosial
Melalui momentum HKN ke-61, Pemkot Batu menegaskan arah kebijakan kesehatan yang tidak hanya berfokus pada penghargaan dan capaian, tetapi juga pada kerja-kerja sunyi di lapangan dengan memutus rantai penularan TBC, menghapus stigma, dan memastikan setiap warga mendapatkan akses pengobatan yang layak dan berkelanjutan.
KOTA BATU, SJP – Puncak peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-61 di Kota Batu tidak hanya menjadi ajang seremonial dan pemberian apresiasi, tetapi juga menegaskan fokus pemerintah daerah pada isu kesehatan yang masih kerap luput dari perhatian publik Tuberkulosis (TBC).
Kepala Dinas Kesehatan Kota Batu Aditya Prasaja pada Rabu (17/12/2025) bahwa perang melawan TBC membutuhkan komitmen jangka panjang dan dukungan seluruh lapisan masyarakat. ia menyebut TBC sebagai penyakit “sunyi” yang tidak kasat mata namun memiliki potensi penularan tinggi.
"Meski capaian penemuan dan pengobatan kasus TBC di Kota Batu tergolong baik, tantangan terbesar justru terletak pada kepatuhan pasien menjalani pengobatan hingga tuntas. Pengobatan TBC yang minimal enam bulan kerap terhenti di tengah jalan akibat kurangnya pemahaman dan kuatnya stigma sosial," urainya.
Aditya juga membeberkan jika pengobatan terputus, pasien berisiko menjadi TBC resisten obat sehingga pengobatannya jauh lebih lama, lebih berat, dan biayanya lebih besar.
Ia menambahkan, berbagai metode skrining telah dilakukan, mulai dari pemeriksaan dahak hingga rontgen, namun masih banyak masyarakat enggan memeriksakan diri karena takut dicap negatif.
Sementara itu Wali Kota Batu Nurochman menegaskan bahwa penanggulangan TBC menjadi salah satu komitmen serius pemerintah daerah. Pemkot Batu telah membentuk tim relawan untuk memperkuat edukasi, pendampingan pasien, dan menekan stigma yang masih melekat di masyarakat. Menurutnya, anggapan TBC sebagai aib justru menjadi penghambat utama keberhasilan pengobatan.
“TBC ini bukan soal malu atau tidak. Ini soal kesehatan publik. Tanpa kolaborasi lintas sektor, upaya penanggulangan tidak akan maksimal,” ujar Cak Nur.
Selain menyoroti TBC, Pemkot Batu juga memperkuat layanan kesehatan dasar melalui penyerahan bantuan peralatan antropometri kepada 193 Posyandu serta pemberian Sertifikat Laik Higiene Sanitasi perdana. Langkah ini dinilai sebagai upaya pencegahan jangka panjang untuk menciptakan generasi sehat sejak usia dini. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

