HIV Mengancam Remaja Bondowoso

Darurat HIV di Bondowoso dan Indonesia adalah alarm bahwa ide memisahkan agama dari kehidupan telah gagal. Kebebasan tanpa batas telah membuat dunia karut-marut. 

11 Mar 2025 - 08:30
HIV Mengancam Remaja Bondowoso
Ilustrasi pelajar dalam kepungan HIV (Foto : Tiwa/SJP)

BONDOWOSO, SJP - Bondowoso kini dalam kondisi darurat HIV. Penyakit mematikan ini bukan lagi sekadar momok menakutkan, tapi kenyataan pahit yang harus dihadapi dan diatasi bersama. Bagaimana tidak, kini usia penderitanya makin muda, bahkan masih duduk di bangku sekolah. 

Funky Indra Ayu Shanti sebagai Ketua Pokja TB dan HIV Bondowoso mengungkap fakta miris. Pada tahun 2024, tercatat 84 hingga 92 kasus baru HIV. 

Hampir separuh kasus itu berasal dari kelompok homoseks lelaki sesama lelaki (LSL) dengan usia penderita yang makin muda. Jumlah kasus HIV dari kaum pecinta sesama lelaki ini mencapai 729 orang dari total kasus 1.500 penderita. 

Kondisi darurat ini tentu tidak muncul begitu saja. Ada faktor-faktor yang menjadi penyebab utama penyebaran HIV terutama di kalangan remaja. 

Lalu, apa saja yang menjadi faktor penyebab penyebaran HIV yang semakin meresahkan ini? Bagaimana solusi tuntasnya agar generasi emas Indonesia tidak berubah menjadi generasi cemas?

Anak dan Remaja dalam Kepungan HIV

Darurat HIV di Bondowoso hanyalah secuplik dari kasus besar penyakit mematikan itu di negeri ini. 

Menurut data Kementerian Kesehatan per Maret 2023, di seluruh Indonesia terdapat 13.729 kasus HIV dengan 10.924 orang di antaranya telah menjalani terapi antiretroviral (ARV). 

Sekitar 6,5 persen atau 893 kasus HIV dialami oleh anak-anak. Tahun lalu ditemukan sekitar 27 ribu kasus baru HIV dengan jumlah infeksi 50 persen terjadi pada remaja. 

Angka-angka tersebut tentu bukan sekadar statistik, melainkan cerminan dari tragedi kemanusiaan yang nyata. Bagaimana bisa, di tengah kemajuan zaman, generasi penerus bangsa justru terancam oleh penyakit yang seharusnya bisa dicegah? 

Mari kita telusuri lebih dalam bagaimana penularan HIV/AIDS ini terjadi, terutama pada kelompok yang paling rentan, yakni anak-anak dan remaja. 

Penyebaran HIV pada Kelompok Rentan

Penularan HIV pada anak sebagian besar terjadi secara vertikal, dari ibu ke anak, baik selama kehamilan, persalinan, maupun menyusui. Selain itu, prostitusi menjadi faktor signifikan dalam penyebaran HIV. 

Peningkatan kasus terjadi pada ibu rumah tangga yang tertular dari suami serta remaja yang terlibat prostitusi karena faktor ekonomi.

Adapun penularan HIV pada remaja dipicu oleh perilaku berisiko dan kenakalan remaja. Pacaran tanpa batas hingga berujung seks bebas dan hubungan sesama jenis berkontribusi besar terhadap peningkatan kasus HIV. 

Demikian pula dengan penyalahgunaan narkoba, terutama penggunaan jarum suntik bersama juga menjadi jalur penularan yang signifikan. 

Liberalisasi Biang Keladinya

Kondisi darurat HIV di Bondowoso dan lonjakan kasus di seluruh Indonesia bukanlah fenomena yang berdiri sendiri. Di balik angka-angka mengerikan itu terdapat benang merah yang saling berkelindan, yakni perilaku serba bebas. Perilaku ini didasari oleh sekularisme dan liberalisasi yang menguat seiring modernisasi. 

Sekularisme sebagai sistem yang memisahkan agama dari kehidupan telah melahirkan budaya liberal. Sebagai dampaknya, remaja terjerat dalam pola hidup berisiko, seperti seks bebas, hidup serumah tanpa ikatan pernikahan (kohabitasi), hubungan sesama jenis, dan narkoba. 

Perilaku-perilaku yang bertentangan dengan agama dan norma-norma sosial ini menjadi mangsa empuk HIV. Bila diibaratkan, sekularisme adalah akar yang menumbuhkan pohon liberalisasi dan HIV/AIDS adalah buah pahitnya. 

Liberalisasi yang menawarkan “manisnya” kebebasan individu diperparah dengan fenomena YOLO (You Only Live Once). Slogan ini memuja tingkah laku serba bebas sebagai jalan meraih kebahagiaan. Bebas berbuat apa saja, kapan saja, dan di mana saja karena hidup cuma sekali. 

Remaja “didorong” menentukan pilihan hidupnya sendiri tanpa pertimbangan agama, padahal kebebasan tanpa kendali justru menghancurkan diri sendiri hingga tatanan masyarakat. 

Arus liberalisasi mengabaikan fitrah manusia yang sejatinya membutuhkan aturan baku untuk memandu hidupnya. Ketika agama direduksi menjadi ritual semata, tak heran jika remaja usia belasan tahun pun tidak lagi punya pedoman hidup.

Kembali pada Aturan Ilahi sebagai Solusi Tuntas

Jika liberalisasi yang menuhankan kebebasan berperilaku adalah biang keroknya maka solusi tuntasnya jelas, yakni kembali pada aturan Ilahi yang sesuai fitrah manusia. 

Sebagai Zat yang menciptakan manusia, sangat mustahil bila Allah Swt. tidak menyertakan manual life-nya dalam kehidupan. Nyatanya, Rasulullah saw. dalam khotbahnya saat haji wada telah mewasiatkan Al-Qur’an dan Sunah agar umatnya tidak tersesat saat menjalani hidup. 

Akan tetapi, kini dua pedoman hidup ini mulai ditinggalkan. Kolot, konservatif, dan ketinggalan zaman disematkan pada siapa pun yang berpegang teguh pada keduanya. Jangankan anak-anak dan remaja yang masih labil, orang tua pun bisa jadi jengah dan enggan mendapat label semacam ini. 

Artinya, kini saatnya bagi kita sebagai orang tua, guru, dan pemangku kebijakan untuk meyakini lagi bahwa satu-satunya solusi adalah kembali pada Al-Qur’an dan Sunah. Pastikan ada rasa bangga berislam dan menjalankan syariat Islam. 

Masanya bagi kita untuk memperbaiki pola asuh di rumah dan sekolah agar berbasis Islam. Memastikan mereka menjadikan akidah Islam sebagai standar dalam memutuskan pilihan. 

Penutup

Darurat HIV di Bondowoso dan Indonesia adalah alarm bahwa ide memisahkan agama dari kehidupan telah gagal. Kebebasan tanpa batas telah membuat dunia karut-marut. 

Pilihan ada di tangan kita, kembali pada aturan Ilahi yang sesuai fitrah manusia atau tenggelam dalam liberalisasi yang ternyata cuma ilusi manis penghancur masa depan. 

Tatkala salah memilih, generasi emas yang kita impikan hanya akan jadi generasi cemas, terkubur dalam statistik HIV yang terus meroket tanpa kendali. (**)

Editor : Rizqi Ardian
Penulis : Kurnia YW – Staf Pengajar di SMPN I Taman Krocok Kabupaten Bondowoso

Disclaimer: Segala isi di rubrik OPINI, baik berupa teks, foto, maupun gambar merupakan pendapat pribadi penulis dan segala konsekuensi bukan menjadi tanggung jawab redaksi.

Sumber Referensi Penulis: radarjember.jawapos.com, sehatnegeriku.kemkes.go.id

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow