Harga Plastik dan Minyak Goreng Mahal, Produsen Kerupuk di Blitar Kurangi Isi Produk

UMKM Kerupuk siap jadi di Kota Blitar mempertahankan harga jual, namun isi produk dikurangi agar tak merugi karena mahalnya bahan baku produksi.

12 Apr 2026 - 22:02
Harga Plastik dan Minyak Goreng Mahal, Produsen Kerupuk di Blitar Kurangi Isi Produk
Bayu Prasetyo sedang menggoreng kerupuk. (Foto : Ninda Kinanti)

KOTA BLITAR, SJP - Kenaikan harga bahan baku memaksa pelaku UMKM memutar otak agar usaha tetap berjalan. Di Kota Blitar, strategi mengurangi isi produk tanpa menaikkan harga mulai menjadi piliham realistis di tengah lesunya daya beli masyarakat.

Langkah in diambil oleh Bayu Prasetyo (39), produsen kerupuk matang asal Kelurahan Karangtengah, Kecamatan Sannawetan. 

Alih-alih menaikkan harga jual, ia memilih menyesuaikan isi kemasan demi menjaga pelanggan tetap bertahan.

Menurut Bayu, keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Kondisi pasar yang masih sepi setelah Lebaran membuat konsumen cenderung sensitif terhadap kenaikan harga.

"Kalau harga dinaikkan, pelanggan langsung protes. Jadi mau tidak mau, isinya yang dikurangi," ujarnya, Ahad (12/4/2026).

Kini, kemasan kerupuk seharga Rp2.500 yang sebelumnya berisi 10 biji, dikurangi menjadi 8 biji. Sementara kemasan Rp5.000 dari 20 biji menjadi 15 biji.

Di sisi lain, lonjakan biaya produksi terjadi cukup tajam. Harga plastik yang menjadi bahan kemasan naik hingga dua kali lipat, dari Rp1.000 menjadi Rp2.000. Sementara minyak goreng curah ikut merangkak naik hingga Rp22.000 per kilogram.

Kondisi ini membuat keuntungan semakin menipis. Bahkan, Bayu mengaku saat ini usahanya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membayar upah pekerja.

"Untungnya tipis sekali. Yang penting usaha tetap jalan dan pekerja tetap bisa digaji," katanya.

Tak hanya itu, Bayu juga terpaksa mengurangi kapasitas produksi. Jika sebelumnya mampu menggoreng hingga 1,5 kuintal per hari, kini hanya sekitar setengahnya karena permintaan pasar menurun.

Fenomena ini mencerminkan tekanan yang dirasakan banyak pelaku UMKM, khususnya di sektor makanan ringan. Mereka harus menjaga keseimbangan antara biaya produksi yang terus naik dan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.

Di tengah situasi tersebut, inovasi kecil seperti penyesuaian isi kemasan menjadi strategi bertahan yang paling memungkinkan. Bagi pelaku usaha seperti Bayu, bertahan saat ini jauh lebih penting daripada mengejar keuntungan besar.

"Yang penting tetap produksi dan tidak sampai tutup usaha," pungkasnya.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow