Harga Cabai di Surabaya Meroket

Kenaikan harga cabai di Surabaya disebabkan ketidakseimbangan permintaan dan penawaran akibat peningkatan permintaan jelang Ramadan dan penurunan pasokan karena cuaca buruk.

28 Feb 2026 - 21:15
Harga Cabai di Surabaya Meroket
Foto cabai (Beritasatu.com/Irfan)

SURABAYA, SJP - Surabaya lagi panas. Harga cabai di sejumlah pasar tradisional, termasuk Pasar Wonokromo dan Pasar Dukuh Kupang, naik drastis.

Berdasarkan hasil observasi di beberapa pasar tradisional di Surabaya pada Sabtu (28/2/2026), telah terjadi fluktuasi harga cabai yang signifikan.

Harga cabai rawit merah mengalami kenaikan sebesar 88,9-100 persen dari Rp45.000 menjadi Rp 85.000-Rp 90.000 per kilogram.

Sementara itu, harga cabai merah besar meningkat sebesar 75 persen dari Rp40.000 menjadi Rp70.000 per kilogram.

Fenomena ini memicu reaksi dari pedagang dan konsumen, yang mengeluhkan dampak kenaikan harga terhadap biaya hidup sehari-hari.

Siti Munaroh, pedagang cabai di Pasar Wonokromo, menyatakan, kenaikan harga cabai mulai dirasakan sejak sepekan menjelang Ramadan dan masih berlanjut hingga saat ini.

"Harga sayuran lainnya relatif tidak berubah, namun cabai kecil mengalami lonjakan harga yang cukup besar. Pada awal Ramadan, harga cabai kecil sempat menyentuh Rp110.000 per Kg, kini turun menjadi Rp85.000 per Kg, namun masih tergolong tinggi," ujarnya.

Menurut Siti Munaroh, kenaikan harga cabai kecil disebabkan oleh meningkatnya kebutuhan masyarakat akan bahan masakan untuk sahur dan berbuka puasa.

"Penurunan pasokan dari sektor pertanian, dikombinasikan dengan peningkatan permintaan masyarakat yang signifikan, terutama selama periode sahur dan berbuka puasa, telah menyebabkan kenaikan harga cabai kecil di pasar," tutur Siti.

Siti Munaroh menyatakan, kondisi cuaca juga mempengaruhi hasil panen cabai di Jawa Timur.

"Cuaca buruk menyebabkan banyak cabai rusak dan busuk, sehingga hasil panen menurun," tambahnya.

Hujan deras di beberapa daerah di Jawa Timur menyebabkan lahan pertanian cabai tergendam, sehingga hasil panen menurun drastis.

Hal ini berdampak pada pasokan cabai ke pasar tradisional yang menjadi terbatas, karena stok di tingkat pedagang juga menurun. (**)

Sumber: beritasatu.com

Penulis: Paskalis Arakat, Mahasiswa Magang Unitri.

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow