Gandeng Komnas PA Surabaya, SMP Kristen Indriasana IV Cegah Cyberbullying dengan Kesadaran Digital Sehat
Bangun kesadaran digital sehat, SMP Kristen Indriasana IV Surabaya dan Komnas PA bersinergi mencegah cyberbullying dengan menanamkan literasi, etika, dan empati di dunia maya sejak dini.
SURABAYA, SJP - SMP Kristen Indriasana IV Surabaya berkolaborasi dengan Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Surabaya berupaya mencegah terjadinya cyberbullying (perundungan digital) pada siswa di lingkungan sekolah dengan membangun kesadaran ruang digital yang sehat.
Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Sosialisasi Perlindungan dan Pencegahan Tindak Kekerasan di Lingkungan Sekolah. Kegiatan itu menekankan pentingnya literasi digital berbasis pencegahan kekerasan sebagai upaya membangun budaya komunikasi yang sehat, aman, dan beretika di era media sosial.
Kepala Sekolah SMP Kristen Indriasana IV Surabaya, Sri Handani mengungkapkan, bahwa kegiatan ini menjadi ruang refleksi bagi siswa agar lebih peka terhadap perilaku bullying, terutama yang terjadi tanpa disadari di dunia maya.
“Siswa wajib menerapkan komunikasi yang baik, baik di sekolah, di rumah, maupun di masyarakat. Harapannya, seluruh warga sekolah bisa bersama-sama mencegah perilaku bullying,” ujarnya, Jumat (31/10/2025).
Sri menilai, untuk mengedukasi anak-anak dari tindak laku bullying, memang sebaiknya disosialisasikan kepada pelajar agar bisa diterapkan. Mengingat banyak sekali perilaku bullying di era digital yang kadang tidak disadari.
Senada dengan hal tersebut, salah satu Pendidik SMP Kristen Indriasana IV Surabaya Ulis Iyan menyebut, bahwa pendekatan literasi digital merupakan langkah nyata dalam mendukung penerapan sekolah ramah anak.
"Melalui kerja sama dengan Komnas Anak Surabaya, kami ingin menumbuhkan kesadaran sejak dini bahwa dunia digital harus digunakan untuk hal positif dan saling menghargai,” kata Ulis.
Pentingnya Perilaku Positif di Ruang Digital
Sementara itu, hadir sebagai pembicara Ketua Komnas PA Surabaya Syaiful Bachri menegaskan betapa pentingnya mengasah olah pikir, olah rasa, dan olah sikap dalam membangun perilaku positif di ruang digital. Terutama untuk mencegah tindakan bullying bagi anak.
“Orang yang terbiasa berpikir dan merasakan hal positif akan bertindak positif. Ini menjadi benteng utama agar siswa tidak menjadi pelaku maupun korban cyberbullying,” terang Syaiful.
Dampak cyberbullying, menurut Syaiful, tidak selalu terlihat secara fisik, namun dapat meninggalkan luka emosional mendalam.
"Oleh karena itu, saya mengajak orang tua untuk memperkuat komunikasi dan ketahanan batin anak agar tidak mudah terpengaruh tekanan sosial di dunia maya," ajaknya.
Langkah Strategis Orang Tua
Syaiful pun juga menekankan tujuh langkah strategis yang bisa diterapkan orang tua untuk melindungi anak dari bahaya cyberbullying.
Langkah tersebut antara lain menanamkan literasi digital sejak dini, membangun komunikasi dua arah, melatih anak mengenali batas interaksi, menumbuhkan rasa percaya diri, melibatkan anak dalam aktivitas sehat di luar layar, memanfaatkan teknologi sebagai alat perlindungan, serta menjadi teladan dalam bermedia sosial.
"Kunci utama pencegahan adalah edukasi, komunikasi terbuka, dan tindakan bersama. Dengan begitu, kita bisa menciptakan ruang digital yang aman dan menghormati setiap individu,” pungkas Syaiful.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para siswa di SMP Kristen Indriasana IV Surabaya tidak hanya memahami bahaya cyberbullying, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan yang menebarkan empati, etika, dan kebaikan di dunia digital. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

