Menjaga Nafas Tenun Gedog Tuban Lewat Pameran ‘Entah Dalam Koma’
Suara gedog dari alat tenun Tuban kembali hidup lewat pameran “Entah Dalam Koma”, saat benang dan akar disulam menjadi pesan tentang hidup, alam, dan pelestarian tradisi.
SURABAYA, SJP - Di balik bunyi gedog-gedog yang ritmis, lahirlah salah satu warisan tertua dari tanah pesisir utara Jawa Timur, tenun gedog Tuban. Namanya diambil dari suara gedog yang dihasilkan saat kayu alat tenun tradisional saling beradu.
Tenun itu bukanlah sekadar kain, ia adalah kisah tentang kesabaran, ketekunan, dan napas panjang perempuan-perempuan Tuban yang mewariskan teknik menenun dari generasi ke generasi.
Tenun gedog biasanya dibuat dari kapas yang dipintal dan ditenun secara manual, tanpa bantuan mesin. Proses panjangnya bisa memakan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, mulai dari memintal kapas, mewarnai benang dengan pewarna alami, hingga menenun setiap helai benang menjadi motif khas yang sarat makna.
Dahulu, kain itu menjadi simbol status sosial dan digunakan dalam berbagai upacara adat. Kini, di tengah arus modernisasi dan industri tekstil cepat, keberadaannya kian terpinggirkan. Kini, upaya untuk menjaga agar suara gedog itu tak hilang sedang dilakukan dengan cara yang indah, yakni melalui pameran seni.
Menghidupkan Tradisi Lewat Karya Seni
Berlokasi di Wisma Jerman Surabaya, suasana hangat menyambut pengunjung yang datang ke pameran bertajuk “Entah Dalam Koma” karya Uzzaer Ruwaidah, seniman perempuan asal Tuban yang telah lama mencintai tenun gedog.
Dalam ruang pamer yang hening, benang, kapas, akar beringin, dan kain tenun berpadu menjadi karya visual yang sarat makna tentang hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta.
Bagi Uzzaer, pameran tersebut bukan sekadar ajang menampilkan hasil karya, melainkan bentuk penghormatan terhadap proses panjang di balik sehelai kain tenun.
"Pameran ini bukan perayaan hasil, melainkan penghormatan terhadap proses. Hidup, seperti benang dan akar, tidak pernah selesai disusun, ia hanya berganti koma," ujar Uzzaer, Jumat (31/10/2025).
Ia menuturkan bahwa setiap karyanya berpijak pada prinsip keberlanjutan dan cinta terhadap alam. Bahan-bahan alami ia pilih bukan hanya untuk keindahan, tetapi juga demi menjaga keseimbangan lingkungan agar proses kreatifnya tak meninggalkan jejak yang merusak.
"Saya percaya, seperti daur ulang, perulangan itu akan terus terjadi. Alam pun tidak rugi akan itu," katanya.
Tema “Entah Dalam Koma” sendiri lahir dari perenungan pribadi Uzzaer tentang perubahan dan perjalanan hidup. Ia memandang proses kreatif seperti halnya kehidupan, tak pernah benar-benar berhenti, hanya berganti bentuk dan makna.
"Saya hidup dengan banyak benturan, tapi dari situ saya menjelma jadi diri yang baru. Berproses itu adalah pernyataan akan hidup," ungkapnya dengan tenang.
Melalui karyanya, Uzzaer ingin mengajak pengunjung merenungkan bagaimana hidup selalu berkaitan antara manusia, alam, dan Tuhan. Setiap benang yang ia tenun adalah simbol hubungan yang saling mengikat, membentuk harmoni di tengah perubahan.
Dukungan Lintas Budaya dari Wisma Jerman
Komitmen pelestarian budaya lokal itu mendapat dukungan penuh dari Wisma Jerman Surabaya, yang memfasilitasi ruang pamer bagi seniman-seniman lokal.
Pameran “Entah Dalam Koma” digelar di gedung mereka, di Jalan Taman AIS Nasution 15, Surabaya, mulai 31 Oktober hingga 2 November 2025, dan terbuka gratis untuk umum. Direktur Pelaksana Wisma Jerman Surabaya, Mike Neuber, menilai langkah Uzzaer sebagai bentuk nyata upaya melestarikan tradisi yang kini kian langka.
"Tenun adalah tradisi yang mungkin bisa dibilang diancam punah. Kegiatan seperti ini efektif untuk membangkitkan kesadaran publik tentang pentingnya menjaga warisan budaya,"kata Mike.
Ia juga membandingkan situasi di Indonesia dengan di Jerman, di mana tradisi menenun sudah tidak lagi hidup dalam keseharian masyarakat, dan kalaupun ada mungkin hanya beberapa orang yang melakukannya atas dasar kesenian, bukan pekerjaan.
"Di Jerman sendiri budaya menenun tradisional sudah nyaris tak ada, hanya bisa dilihat di museum. Karena itu, kami sangat menghargai upaya seperti yang dilakukan Uzzaer ini," tambahnya.
Menenun Masa Depan dari Benang Tradisi
Bagi Wisma Jerman, dukungan terhadap pelestarian budaya bukan hal baru. Sebelumnya mereka juga pernah menggelar pameran batik dari pesisir Probolinggo. Pameran kali ini menjadi lanjutan komitmen mereka untuk memberi ruang ekspresi bagi seniman lokal dan menjaga warisan budaya Indonesia tetap hidup.
Sementara bagi Uzzaer, setiap pameran adalah bentuk doa agar tenun gedog tak hanya tinggal cerita. Di setiap helai benang yang ia rangkai, tersimpan harapan agar generasi muda mau menengok kembali akar tradisi yang nyaris terlupa.
Karena di setiap bunyi gedog yang beradu, tersimpan bukan hanya kain, tapi identitas, kesabaran, dan jiwa sebuah bangsa. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

