"Gado-Gado Bahasa Dunia" oleh Wisma Jerman dan IFI: Merayakan Keberagaman Bahasa di Surabaya
Gado-Gado Bahasa Dunia menghadirkan pengalaman unik di Surabaya, di mana ratusan peserta dari berbagai negara berkumpul, berlatih bahasa asing, dan menjalin pertemanan baru dalam suasana multilingual yang penuh keakraban.
SURABAYA, SJP - Bahasa adalah jendela dunia. Dengan menguasai lebih dari satu bahasa, seseorang tidak hanya bisa memahami kata-kata, tetapi juga budaya, cara berpikir, dan bahkan perspektif hidup yang berbeda.
Dalam dunia yang semakin terhubung, kemampuan berbahasa asing menjadi lebih dari sekadar keterampilan, hal tersebut adalah kunci untuk menjembatani perbedaan dan membangun hubungan lintas budaya.
Inilah yang dirayakan dalam acara Gado-Gado Bahasa Dunia, sebuah pertemuan unik di Surabaya yang mengajak masyarakat untuk berbagi, belajar, dan menikmati keberagaman bahasa dalam suasana yang penuh keakraban.
Perjalanan Gado-Gado Bahasa Dunia: Dari Edisi Pertama hingga Kini
Bertempat di Astaganaga, Jl. Manyar Kertoarjo 78, Surabaya, acara Gado-Gado Bahasa Dunia kembali digelar untuk ketiga kalinya pada 6 Februari 2025.
Diselenggarakan oleh Wisma Jerman bekerja sama dengan Institut Français Indonesia (IFI), acara ini menghadirkan pengalaman interaktif bagi masyarakat yang ingin mengasah kemampuan bahasa asing mereka dalam lingkungan yang santai dan menyenangkan.
Menurut Mike Neuber, Direktur Wisma Jerman, acara ini pertama kali diadakan pada September 2024, bertepatan dengan Hari Bahasa Eropa Internasional. Kala itu, IFI dan Wisma Jerman sebagai dua pusat kebudayaan Eropa di Surabaya merasa perlu menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk merayakan keberagaman bahasa. Sejak itu, acara ini rutin digelar setiap dua bulan sekali dan terus menarik lebih banyak peserta.
"Acara ini awalnya hanya diikuti sekitar 50 orang pada edisi pertama, kemudian meningkat menjadi 70 orang pada edisi kedua. Kini, pada edisi ketiga, jumlahnya hampir 130 peserta, hampir dua kali lipat dari sebelumnya," ujar Mike saat ditemui usai acara, Kamis (6/2/2025)
Yang membuat acara ini istimewa adalah keberagaman pesertanya. Tidak hanya warga Surabaya, tetapi juga orang-orang dari berbagai negara seperti Jerman, Prancis, Italia, Korea, Filipina, Vietnam, Portugal, Honduras, serta beberapa negara Arab turut hadir.
"Kami ingin mengajak orang untuk tidak malu dalam mempraktikkan bahasa asing mereka dan menikmati suasana multilingual yang unik," tambahnya.
Aktivitas Interaktif: Cara Unik Belajar Bahasa
Alih-alih sekadar berbicara dalam bahasa asing, peserta diajak berpartisipasi dalam berbagai permainan edukatif yang dirancang untuk membuat interaksi lebih natural dan menyenangkan. Ada tiga jenis permainan utama dalam acara ini:
- Pemburuan Tanda Tangan
Sebagai pemanasan, peserta harus berkeliling untuk mengenal orang baru dan mendapatkan tanda tangan mereka. Permainan ini mendorong mereka untuk tidak hanya berinteraksi dengan teman yang sudah dikenal, tetapi juga menjalin pertemanan baru. - Kuis Kahoot
Sebuah kuis interaktif dengan berbagai fakta unik dan fun fact tentang bahasa serta budaya dari berbagai negara. - Wheel of Fortune
Permainan tantangan berbasis roda keberuntungan yang mengharuskan peserta menyelesaikan tugas-tugas berbahasa asing, seperti memperkenalkan diri dalam bahasa yang mereka kuasai atau mengajak orang lain berbicara dalam bahasa asing.
"Kami ingin memberikan pengalaman belajar bahasa yang lebih praktis dan menyenangkan. Tidak hanya teori, tetapi benar-benar digunakan dalam situasi nyata," jelas Mike.
Peserta dan Kisah Mereka: Belajar Bahasa dari Berbagai Sudut Dunia
Di antara ratusan peserta yang hadir, salah satu yang menarik perhatian adalah Eva Bordessoule, seorang mahasiswi asal Prancis yang baru tiba di Indonesia tiga hari lalu. Eva mengikuti acara ini bersama teman-temannya dari IFI, tempat ia menjalani program magang selama enam bulan.
"Saya sangat senang karena ada banyak orang dengan latar belakang bahasa yang berbeda. Saya bisa berbicara dalam banyak bahasa, terutama Prancis, karena banyak peserta yang belajar di IFI,” ujar Eva.
Eva saat ini menempuh studi di Université de Pau et des Pays de l'Adour (UPPA), Prancis, dengan jurusan French as a Foreign Language (FLE). Sebagai bagian dari program magangnya, ia akan membantu mengajar bahasa Prancis kepada masyarakat Indonesia, termasuk di sekolah-sekolah.
Namun, ada satu tantangan besar yang dihadapinya, yakni bahasa Indonesia itu sendiri.
“Saya baru bisa memperkenalkan diri dalam bahasa Indonesia. Karena saya akan tinggal di sini selama enam bulan, saya ingin belajar lebih banyak agar bisa berkomunikasi lebih baik,” katanya.
Selain bahasa Prancis, Eva juga menguasai bahasa Inggris dan Spanyol, serta tertarik untuk mempelajari bahasa Mandarin. Ketika ditanya tentang aktivitas favoritnya di acara ini, ia menjawab dengan antusias,
“Saya sangat menikmati kuis Kahoot. Karena saya masih merasa malu untuk langsung bertanya kepada orang lain, tetapi permainan ini membuat saya lebih nyaman.”
Merayakan Multilingualisme, Membuka Jendela Dunia
Melalui acara seperti Gado-Gado Bahasa Dunia, masyarakat Surabaya dan warga asing yang tinggal di kota ini mendapat kesempatan untuk belajar dan berbagi budaya dengan cara yang lebih menyenangkan.
“Harapan kami, orang-orang bisa menikmati waktu mereka di sini, bertemu teman baru, dan merasakan kegembiraan dalam belajar bahasa asing,” pungkas Mike Neuber.
Dengan semakin bertambahnya peserta di setiap edisinya, acara ini telah membuktikan bahwa semangat multilingualisme dan keberagaman budaya bisa dirayakan dengan penuh kehangatan, sebuah jendela dunia yang terbuka lebar di tengah kota Surabaya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

