Elpiji 3 Kg di Blitar Langka, Disperindag Bingung
Padahal, secara administratif, Disperindag mengeklaim kuota dan jalur distribusi dalam kondisi aman. Pasokan bahkan disebut telah mendapat tambahan ekstra saat periode libur panjang sebelumnya.
KOTA BLITAR, SJP– Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Blitar menunjukkan sikap gamang dalam merespons isu kelangkaan tabung elpiji 3 kilogram yang mulai mencekik masyarakat menjelang Ramadan 2026.
Meski keluhan warga meluas, Disperindag setempat justru mengaku bingung atas fenomena tersebut.
Padahal, secara administratif, Disperindag mengeklaim kuota dan jalur distribusi dalam kondisi aman. Pasokan bahkan disebut telah mendapat tambahan ekstra saat periode libur panjang sebelumnya.
Kepala Disperindag Kota Blitar, Parminto, menyatakan bahwa pihaknya telah mengusulkan tambahan kuota sebanyak 6.700 tabung kepada Pertamina saat momen libur Imlek lalu.
Penambahan tersebut disebutnya telah disetujui dan didistribusikan pada periode 17–20 Februari 2026.
"Secara pasokan sebenarnya aman. Bahkan ketika ada libur panjang, kami sudah antisipasi dengan tambahan kuota. Jadi kalau sekarang muncul isu langka, itu yang membuat kami bertanya-tanya," ujar Parminto, Sabtu (28/2/2026).
Dirinya memaparkan bahwa distribusi dari agen ke pangkalan berjalan normal. Di Kota Blitar, terdapat 245 pangkalan aktif yang tersebar di 188 RW, dengan rasio rata-rata dua hingga tiga pangkalan per RW.
Setiap pangkalan rutin menerima kiriman 25 hingga 50 tabung dengan frekuensi dua hingga tiga kali sepekan. Secara kalkulasi kuota, angka tersebut dinilai lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan domestik warga.
Namun, Parminto tidak menampik adanya anomali lonjakan permintaan menjelang Ramadan.
Meningkatnya aktivitas rumah tangga untuk persiapan sahur dan berbuka, serta menjamurnya pedagang takjil musiman, ditengarai menjadi pemicu terkurasnya stok di pasar.
"Kami memahami ada peningkatan konsumsi. Tapi langkah antisipasi sudah dilakukan dengan tambahan kuota. Karena itu kami masih mendalami kemungkinan penyebab lain," katanya.
Ia kembali menegaskan bahwa elpiji melon merupakan barang bersubsidi yang diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu.
Menurutnya, skema pembelian saat ini sudah lebih terkontrol karena wajib menyertakan identitas yang terdaftar.
"Kami juga belum tahu apa penyebabnya. Karena yang jelas tabung elpiji 3 kilogram itu peruntukannya bagi warga miskin," ungkap Parminto.
Kontradiksi pernyataan birokrasi ini berbanding terbalik dengan fakta di lapangan. Sejumlah warga mengeluhkan sulitnya mendapatkan elpiji di tingkat pengecer maupun pangkalan dalam beberapa hari terakhir. Stok sering kali ludes dalam waktu singkat sesaat setelah pengiriman tiba.
Menanggapi ketimpangan data dan realita ini, Disperindag Kota Blitar menyatakan akan melakukan pemantauan distribusi di lapangan.
Upaya ini dilakukan guna mendeteksi adanya potensi penumpukan stok, distribusi yang tidak merata, hingga kemungkinan praktik penyimpangan di rantai pasok. (*)
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

