Hampir 900 Ribu Penganggur di Jatim, BPS: Mayoritas Lulusan SMK dan Sarjana

Ironisnya, kelompok penganggur terbanyak justru berasal dari lulusan pendidikan tinggi. Lulusan SMK mencatat TPT tertinggi sebesar 5,87 persen, disusul oleh lulusan universitas sebesar 5,60 persen.

22 May 2025 - 20:31
Hampir 900 Ribu Penganggur di Jatim, BPS: Mayoritas Lulusan SMK dan Sarjana
Pencari kerja yang didominasi anak muda mengikuti acara bursa kerja di Kota Surabaya (Ryan/SJP)

SURABAYA, SJP – Jumlah pengangguran di Jawa Timur masih tinggi. Sebanyak 894.500 orang tercatat sebagai penganggur pada Februari 2025, berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur. 

Meski menurun dibanding Februari 2024, angka tersebut tetap menunjukkan tantangan serius bagi penyerapan tenaga kerja di provinsi dengan jumlah penduduk terbesar kedua di Indonesia ini.

"Jumlah pengangguran di Jawa Timur pada Februari 2025 tercatat sebanyak 894,5 ribu orang. Meski turun 7.850 orang dari tahun sebelumnya, jumlah ini tetap harus menjadi perhatian," ungkap Kepala BPS Jawa Timur, Zulkipli, Kamis (22/5/2025).

Penurunan TPT Tak Cukup Redam Lonjakan Angkatan Kerja

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Jawa Timur pada Februari 2025 tercatat 3,61 persen, turun tipis 0,13 persen poin dibanding Februari 2024. Penurunan itu terjadi di tengah meningkatnya jumlah angkatan kerja menjadi 24,76 juta orang, naik 620,77 ribu orang dari tahun sebelumnya.

Jumlah penduduk yang bekerja juga naik menjadi 23,86 juta orang, meningkat 628,62 ribu orang. Artinya, ada kemajuan dalam penciptaan lapangan kerja, tetapi masih belum cukup untuk menyerap semua pencari kerja baru.

"Tingkat partisipasi angkatan kerja di Jawa Timur naik menjadi 74,25 persen. Namun, masih ada sekitar 3 hingga 4 orang dari setiap 100 angkatan kerja yang belum mendapatkan pekerjaan," jelas Zulkipli.

Lulusan SMK dan Sarjana Paling Banyak Menganggur

Ironisnya, kelompok penganggur terbanyak justru berasal dari lulusan pendidikan tinggi. Lulusan SMK mencatat TPT tertinggi sebesar 5,87 persen, disusul oleh lulusan universitas sebesar 5,60 persen.

Sebaliknya, penduduk dengan pendidikan SD ke bawah hanya mencatat TPT sebesar 1,98 persen. Hal itu menegaskan masih adanya ketidaksesuaian antara keterampilan lulusan pendidikan formal dan kebutuhan pasar kerja (skill mismatch).

Mayoritas Penduduk Masih Bekerja di Sektor Informal

BPS Jatim juga mencatat bahwa 63,91 persen penduduk bekerja di sektor informal, sementara hanya 36,09 persen berada di pekerjaan formal seperti karyawan atau pegawai tetap. Data itu menunjukkan masih tingginya kerentanan tenaga kerja di Jawa Timur terhadap perlindungan dan jaminan sosial.

"Mereka yang bekerja secara informal cenderung tidak memiliki kepastian pendapatan maupun jaminan ketenagakerjaan. Ini menjadi tantangan lain selain pengangguran terbuka," ujar Zulkipli.

Sektor Pengangkutan dan Kesehatan Mulai Bangkit

Dari sisi lapangan usaha, sektor pengangkutan dan pergudangan mengalami kenaikan pekerja tertinggi sebesar 105,80 ribu orang, diikuti oleh akomodasi dan makanan minum yang naik 96,87 ribu serta kesehatan dan sosial yang naik 78,45 ribu.

Namun, sektor jasa lainnya justru kehilangan 108,75 ribu pekerja, menjadikannya penyumbang penurunan tertinggi.

Data terakhir BPS menunjukkan bahwa sektor penyerap tenaga kerja terbanyak di Jawa Timur masih:

  1. Pertanian, kehutanan, perikanan: 30,95 persen
  2. Perdagangan besar dan eceran: 19,65 persen
  3. Industri pengolahan: 14,09 persen

Partisipasi Perempuan dan Wilayah Kota Meningkat

Data yang menjadi angin segar bagi ketenagakerjaan di Jawa Timur adalah jumlah Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) mengalami peningkatan berdasarkan jenis kelamin, yakni:

  • Laki-laki: 85,91 persen (naik 0,18 persen poin)
  • Perempuan: 62,81 persen (naik signifikan 2,28 persen poin)

Data tersebut menunjukkan bahwa semakin banyak perempuan yang masuk ke dunia kerja, dan dorongan partisipasi ekonomi di kalangan perempuan mengalami perbaikan. Hal itu menandakan bahwa ketimpangan gender dalam dunia kerja semakin menurun.

Refleksi Data Nasional

Menariknya, tren di Jawa Timur bertolak belakang dengan kondisi nasional. Jumlah penganggur di Indonesia per Februari 2025 justru meningkat menjadi 7,28 juta orang, naik 83 ribu orang dari tahun sebelumnya. Meski demikian, secara nasional TPT turun dari 4,82 persen menjadi 4,76 persen karena jumlah angkatan kerja tumbuh lebih cepat.

"Kondisi di Jawa Timur relatif lebih baik dibanding nasional," tandas Zulkipli.

Penurunan angka pengangguran terbuka di Jawa Timur memang layak diapresiasi, tetapi fakta bahwa masih ada hampir 900 ribu penganggur di Jawa Timur menjadi pengingat bahwa tantangan ketenagakerjaan belum usai. Terutama ketika pengangguran justru banyak dialami oleh lulusan perguruan tinggi dan profesional muda (SMK). (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow