Duta Bahasa Jatim 2025: Mengemban Misi Bahasa, Budaya, dan Literasi

Jawa Timur kembali memiliki Duta Bahasa di tahun 2025, mereka adalah Akhdan dan Alma dinobatkan sebagai yang menjadi simbol generasi muda dalam bidang bahasa.

04 May 2025 - 20:04
Duta Bahasa Jatim 2025: Mengemban Misi Bahasa, Budaya, dan Literasi
Akhdan dan Alma resmi dinobatkan sebagai Duta Bahasa Jawa Timur 2025 dalam acara puncak di Balai Bahasa Jatim, Sidoarjo (Dok. Balai Bahasa Jatim for SJP)

SURABAYA, SJP - Di tengah derasnya arus globalisasi dan dominasi bahasa asing di ruang digital, keberadaan Duta Bahasa (Dubas) menjadi penting untuk tetap menjaga identitas bangsa tetap lestari di tengah masyarakat, khususnya generasi muda.

Atas urgensi tersebut, Balai Bahasa Jawa Timur, yang merupakan lembaga di bawah Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek, rutin menyelenggarakan Pemilihan Duta Bahasa setiap tahun, sebagai bagian dari strategi kampanye literasi kebahasaan. 

Program tersebut bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan gerakan berkelanjutan untuk menguatkan pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar, melestarikan bahasa daerah, serta menguasai bahasa asing secara proporsional.

"Duta Bahasa bukan sekadar simbol, tapi mereka nanyinya akan menjadi pekerja nyata di bidang edukasi bahasa dan inspirasi bagi generasi muda," ujar Ratna Sunarti Iwan mewakili Bunda Literasi Jawa Timur, Arumi Bachsin, Ahad (4/5/2025).

Penobatan Dubas Jatim 2025

Pada tahun 2025 ini, Jawa Timur kembali melahirkan Dubas baru dalam acara puncak penobatan Duta Bahasa Jawa Timur 2025 yang digelar pada Minggu, (4/5/2025) di Balairung Cut Nyak Din, Kantor Balai Bahasa Jawa Timur, Jalan Siwalanpanji, Sidoarjo, dan mereka adalah:

  1. Akhdan Muhammad Zahran Wibisono dari Kabupaten Malang
  2. Nursan’ah Almasta Gohan dari Kabupaten Tulungagung

Kepala Balai Bahasa Jatim, Puji Retno Hardiningtyas mengungkapkan bahwa keduanya berhasil mengungguli 19 finalis lain yang berasal dari 11 kabupaten dan 3 kota di Jawa Timur, setelah melalui tiga babak ketat yang menilai kemampuan orasi, wawasan kebahasaan, dan ketangkasan berpikir kritis.

"Pemenang Duta Bahasa akan bertugas mewakili Jawa Timur dalam Duta Bahasa Nasional," ujar Retno.

Tahapan final sendiri dimulai dengan orasi dari seluruh finalis mengenai program kebahasaan mereka. Juri kemudian menyaring peserta menjadi 10 finalis, lalu mengujinya melalui pertanyaan singkat berdurasi 60 detik.

Dari sana, tiga pasangan terbaik dipilih untuk maju ke babak akhir, menjawab pertanyaan mendalam dari dewan juri.

"Kami ingin memperkuat kesadaran berbahasa di ruang digital agar masyarakat tidak lagi menganggap remeh penggunaan bahasa yang baik," kata Akhdan dan Alma dalam wawancara singkat usai dinobatkan sebagai pemenang.

Dengan gelar yang disandang, para Duta Bahasa Jawa Timur tak hanya berfokus pada kegiatan seremoni. Mereka diwajibkan menyusun program kerja dan mengimplementasikannya di tengah masyarakat, mulai dari pelatihan bahasa Indonesia bagi pelajar, pengarsipan kosakata daerah, hingga kampanye literasi digital.

Pemilihan Duta Bahasa dan program serupa menjadi jembatan penting antara kebijakan bahasa dari pusat dengan pelibatan masyarakat akar rumput. Di tangan mereka, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan simbol jati diri dan warisan bangsa. (*)

Editor: Rizqi Ardian 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow