Jadi Percontohan Pengelolaan Sampah, UNDP Lakukan Survei di KBA Kampoeng Oase Ondomohen Surabaya
UNDP kunjungi Kampoeng Oase Ondomohen, Surabaya, menggali praktik warga dalam mengelola sampah dan pangan, mencari solusi lokal untuk atasi krisis lingkungan global.
SURABAYA, SJP - United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia tengah melakukan survei ke sejumlah kota besar dalam rangkaian inisiatif pengurangan sampah plastik yang mencemari perairan.
Salah satu lokasi yang menjadi rujukan adalah KBA Kampoeng Oase Ondomohen, Kelurahan Ketabang, Kecamatan Genteng, Surabaya. Kampung tersebut menjadi lokasi awal dari lima titik yang dijadikan bahan penelitian oleh UNDP untuk mencari model inovatif pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Mengenal UNDP dan Tujuan Surveinya
Layaknya World Health Organization (WHO) atau United Nations Children's Fund (UNICEF), UNDP adalah salah satu badan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bergerak dalam pengembangan kapasitas negara-negara untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals atau SDGs).
Hartoni Anwar, Staf Environment Unit UNDP Indonesia menjelaskan bahwa kunjungan yang mereka lakukan merupakan tindak lanjut dari kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Uni Emirat Arab (UEA) yang diteken pada April 2024 lalu tentang upaya pengurangan sampah yang masuk ke badan air, khususnya limbah plastik.
"Jadi Environment Unit di UNDP kita ingin mengembangkan inovasi pengelolaan sampah yang langsung melibatkan masyarakat, karena itu kita lakukan survei terlebih dahulu ke beberapa tempat yang sudah ada penerapannya," ujar Hartoni saat dikonfirmasi pada Ahad (4/5/2025).
Tujuan dari survei itu adalah untuk mengidentifikasi praktik-praktik lokal yang efektif dan bisa diadopsi dalam program nasional maupun internasional. Total ada lima titik lokasi yang akan dikunjungi oleh UNDP sebagai lokasi survei, meliputi:
- Surabaya,
- Sidoarjo,
- Bekasi,
- Solo,
- Badung (Bali).
"Jadi kami ingin menggali potensi yang sudah ada untuk nantinya dikembangkan dan direplikasi di daerah lain," ucap Hartoni.
Penelitian Jenna Jambeck
Survei UNDP itu juga turut merujuk pada riset pakar lingkungan dari University of Georgia, Amerika, yakni Jenna Jambeck. Pada 2015, Jenna merilis studi berjudul ”Plastic Waste Inputs from Land Into the Ocean” yang menyebut Indonesia sebagai negara penyumbang sampah plastik ke laut terbesar kedua di dunia, setelah Tiongkok.
Penelitian tersebut mengejutkan banyak pihak karena menyebut Indonesia membuang sekitar 1,29 juta metrik ton sampah plastik ke laut setiap tahun. Angka tersebut diambil dari kombinasi populasi, pengelolaan sampah yang buruk, dan tingkat konsumsi plastik sekali pakai yang tinggi.
"Data Jenna Jambeck itu yang memicu pemerintah membuat Perpres 83 Tahun 2018 tentang Rencana Aksi Nasional Penanganan Sampah Laut," jelas Hartoni.
Pasca berbagai inisiatif seperti peraturan presiden dan proyek berbasis komunitas, posisi Indonesia dalam daftar negara penyumbang sampah plastik ke laut mengalami pergeseran dan menurun ke peringkat kelima pada tahun 2023.
Sepak Terjang KBA Kampoeng Oase Ondomohen
Surabaya dipilih menjadi lokasi pertama karena telah memiliki ekosistem komunitas pengelola sampah yang berjalan cukup efektif. Di KBA Kampoeng Oase Ondomohen, UNDP melihat adanya praktik nyata pemrosesan limbah rumah tangga meski dengan lahan yang sempit.
Kampung yang berada di jantung Kota Surabaya itu memang sudah memiliki rekam jejak sebagai kampung urban yang aktif mengembangkan praktik pengelolaan lingkungan, sampah, hingga ketahanan pangan.
Melalui pendekatan urban farming, warga memanfaatkan lahan terbatas untuk menanam sayur, buah, hingga beternak ikan. Praktik itu sekaligus menjawab SDGs:
- SDGs 2: Zero Hunger, karena pangan diproduksi mandiri oleh warga;
- SDGs 11: Sustainable Cities and Communities, dengan menjadikan kampung bersih, hijau, dan layak huni;
- SDGs 17: Partnerships for the Goals, lewat kolaborasi warga, pemerintah, dan lembaga internasional.
Kampung tersebut juga memanfaatkan teknologi lokal seperti sistem filtrasi bertingkat untuk mengolah air limbah menjadi air bersih yang dimanfaatkan dalam kolam ikan dan tanaman.
Berdasarkan jurnal Abdimas local champion KBA Kampoeng Oase Ondomohen, yakni Adi Candra, menunjukkan bahwa meski airnya tidak untuk keperluan konsumsi, namun cukup untuk mengurangi beban penggunaan air PDAM hingga 43 persen untuk kegiatan yang lain.
"Inovasi yang ada di KBA Kampoeng Oase Ondomohen ini sudah cukup bagus, terutama di bagian pemanfaatan drainase. Kami sudah dokumentasikan dan mungkin nanti bisa jadi percontohan bagi wilayah lain," papar Hartoni.
Respon Pihak Kampung
Domy Wahyu Nugroho, Lurah Ketabang, menyambut baik kunjungan ini sebagai bentuk apresiasi atas kerja warga. Menurutnya kunjungan UNDP bisa dijadikan momentum untuk saling belajar.
"Kita bersyukur karena memang di Kelurahan Ketabang mulai dari bank sampahnya selalu aktif dan warga juga sudah mulai memilah sampah, semoga apa yang kami berikan disini bisa bermanfaat," ucap Domy.
Domy menegaskan bahwa semangat warga tak hanya berhenti di kebersihan dan pangan. Saat ini, Kelurahan Ketabang juga tengah mengembangkan konsep Kampung Madani, yaitu kampung gotong-royong yang merupakan gagasan dari Pemkot Surabaya.
Sementara itu, sebagai tokoh lokal atau local champion KBA Kampoeng Oase Ondomohen, Adi Candra menyampaikan bahwa kedatangan dari perwakilan UNDP merupakan bentuk apresiasi sekaligus memberi energi baru bagi warga kampung.
"Dengan kunjungan UNDP, kami merasa dihargai. Mereka datang bukan hanya melihat, tapi mendengarkan langsung bagaimana kami mengelola air, sampah, dan pangan. Membuktikan bahwa warga kampung bukanlah beban Kota, melainkan menjadi solusi," terang Adi.
Adi menjelaskan, sistem pengelolaan air kampung mereka bahkan menjadi sorotan. Air limbah domestik yang tak langsung dibuang, namun disaring melalui IPAL bertingkat dan digunakan untuk budidaya ikan dan tanaman itu menarik perhatian pihak UNDP.
Ia menjelaskan, itulah salah satu isu terkait dengan sumber daya air yang diupayakan untuk bisa selalu dijaga. Karena sumber daya ini semakin lama akan semakin habis.
"Karena air ini adalah salah satu elemen terpenting dalam tubuh manusia. Jadi dalam kehidupan, air itu yang paling penting. Makanya kalau kita bisa menjaga air kita, kita bisa jaga sungai kita, maka kehidupan yang berkelanjutan itu bukan hal yang mustahil yang bisa kita capai," pungkas Adi.
Menuju Percontohan Internasional
Survei UNDP di Surabaya menegaskan bahwa solusi besar bisa dimulai dari gang sempit. Kampoeng Oase Ondomohen menunjukkan bahwa pengelolaan sampah, ketahanan pangan, dan konservasi air bisa dilakukan oleh komunitas biasa dengan semangat luar biasa.
Jika kota-kota lain bisa mereplikasi inisiatif serupa, maka impian akan kota berkelanjutan bukanlah hal yang utopis. Seperti yang ditekankan oleh UNDP, perubahan sistemik bisa dimulai dari perubahan perilaku sehari-hari. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

