Kurang Diminati, Pendapatan Terapis Bekam di Nganjuk Menurun Drastis
Sepinya permintaan layanan terapi tradisional ini membuat sebagian dari mereka harus mencari pekerjaan sampingan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
NGANJUK, SJP - Pengobatan alternatif terapis bekam di Dusun Jati, Desa Katerban Kecamatan Baron, Kabupaten Nganjuk mengeluhkan penurunan jumlah pasien dalam beberapa bulan terakhir.
Sepinya permintaan layanan terapi tradisional ini membuat sebagian dari mereka harus mencari pekerjaan sampingan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Salah seorang terapis bekam, Siti Mubarokah (23), warga Kecamatan Baron, mengungkapkan bahwa sebelum pandemi dan masa-masa sulit ekonomi belakangan ini, ia bisa melayani hingga 10 pasien per hari. Namun kini, ia hanya menerima 2 hingga 3 pasien saja dalam seminggu, bahkan juga tidak ada sama sekali
“Sekarang banyak orang lebih memilih pengobatan modern atau enggan keluar rumah karena takut biaya. Apalagi banyak yang fokus ke kebutuhan pokok dulu,” ujarnya Siti asal Dusun Jati Desa Katerban saat ditemui Suarajatimpost di rumahnya, Ahad (4/5/2025)
Disinggung terkait merintis usaha yang digeluti, Siti menyebut, usaha pengobatan bekam yang dilakukan sudah dirintis sejak dua tahun lalu. Praktik pengobatan alternatif ini telah mengantongi izin resmi dari instansi terkait, yakni STTP 503/24/STPT/411.303/2023
Menurut Siti, usaha bekam yang diberi nama Bekam Rumah Sehat Mubarokah ini, berawal dari keinginannya untuk membantu masyarakat mendapatkan alternatif pengobatan yang terjangkau dan alami.
Ia mengikuti berbagai pelatihan, termasuk sertifikasi terapi bekam, sebelum membuka praktik mandiri di rumahnya
"Awalnya saya hanya melayani tetangga dan keluarga. Alhamdulillah, sekarang sudah ada izin resmi dan pasien dari berbagai daerah sekitar mulai berdatangan," ujarnya.
Ia menambahkan, meski belakangan ini jumlah pasien menurun karena faktor ekonomi, ia tetap berkomitmen memberikan pelayanan terbaik dan menjaga standar kebersihan serta keamanan terapi. Semua peralatan disterilkan sesuai prosedur, dan pasien diberi edukasi sebelum tindakan dilakukan.
Masih bersama Siti, ia berharap adanya dukungan dari pemerintah daerah, baik berupa pelatihan keterampilan tambahan maupun promosi layanan pengobatan tradisional yang aman dan terjangkau.
Meski demikian, para terapis tetap menjaga semangat dengan meningkatkan kualitas layanan, menjaga kebersihan peralatan, dan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang manfaat bekam bagi kesehatan.
"Kami tidak menarget, kadang ada yang memberi Rp 50 hingga Rp 100 ribu, kadang dipanggil ke rumah, tapi sekarang sepi jarang orang bekam," kata perempuan beljilbab ini. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

