Dua Bulan Berturut-turut Alami Deflasi, Apa Dampaknya bagi Ekonomi Jawa Timur?

Jawa Timur alami deflasi dua bulan berturut-turut akibat diskon listrik. Apa dampaknya bagi ekonomi daerah?

04 Mar 2025 - 22:02
Dua Bulan Berturut-turut Alami Deflasi, Apa Dampaknya bagi Ekonomi Jawa Timur?
Kepala BPS Jawa Timur, Zulkipli, menjelaskan dampak deflasi dua bulan berturut-turut di Jawa Timur serta potensi lonjakan inflasi jika diskon tarif listrik dihentikan (Ryan/SJP)

SURABAYA, SJP - Jawa Timur mencatat deflasi dua bulan berturut-turut di awal tahun 2025. Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur menunjukkan bahwa pada Februari 2025, deflasi year-on-year (y-on-y) sebesar 0,03 persen, sementara inflasi kalender (year-to-date/y-to-d) sejak Januari mengalami deflasi 1,13 persen.

Kepala BPS Jawa Timur, Zulkipli, menjelaskan bahwa deflasi ini sebagian besar dipicu oleh kebijakan diskon tarif listrik 50 persen yang diberlakukan pada Januari dan Februari 2025. 

"Penurunan harga pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mencapai 15,41 persen, yang memberikan kontribusi besar terhadap deflasi," jelas Zulkipli, Selasa (4/3/2025).

Menurutnya, kebijakan ini memang sangat berpengaruh dalam mengendalikan harga, namun kondisi deflasi yang terus berlanjut juga perlu dicermati dengan hati-hati.

Deflasi vs Inflasi: Apa Dampaknya?

Secara sederhana, inflasi terjadi ketika harga barang dan jasa meningkat secara umum dalam suatu periode, sedangkan deflasi adalah kebalikannya harga-harga mengalami penurunan.

Inflasi yang moderat umumnya dianggap sehat karena mendorong konsumsi dan investasi. Namun, inflasi yang terlalu tinggi bisa merugikan masyarakat karena harga kebutuhan pokok melonjak, sementara daya beli stagnan. 

Sebaliknya, deflasi dalam jangka pendek mungkin tampak menguntungkan karena harga-harga lebih murah, tetapi jika berlangsung lama, bisa berdampak negatif.

Dampak deflasi yang berkelanjutan antara lain:

  • Perlambatan ekonomi: Jika harga terus turun, masyarakat dan pelaku usaha cenderung menunda belanja dan investasi karena berharap harga akan semakin turun.
  • Penurunan pendapatan usaha: Ketika harga-harga turun, laba perusahaan juga menurun, yang dapat menghambat ekspansi bisnis dan berujung pada PHK.
  • Potensi resesi: Jika deflasi berlangsung lama dan menyebabkan penurunan produksi serta investasi, maka perekonomian bisa masuk ke dalam fase resesi.

    Namun, dalam konteks Jawa Timur, deflasi yang terjadi saat ini lebih banyak dipicu oleh kebijakan pemerintah dalam mengendalikan harga listrik, bukan karena pelemahan daya beli masyarakat atau penurunan aktivitas ekonomi secara umum.

    Februari 2025: Kondisi yang Beragam di Berbagai Wilayah

    BPS Jawa Timur mencatat bahwa meskipun secara keseluruhan terjadi deflasi, tidak semua daerah mengalami penurunan harga yang sama.

    • Deflasi Tertinggi → Kota Kediri mencatat deflasi paling dalam, yaitu 0,98 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 104,50.
    • Deflasi Terendah → Kota Surabaya hanya mengalami deflasi 0,07 persen, dengan IHK 105,78.
    • Inflasi Tertinggi → Kabupaten Banyuwangi justru mengalami inflasi sebesar 0,94 persen, dengan IHK 107,02.
    • Inflasi Terendah → Kabupaten Jember mengalami inflasi 0,14 persen, dengan IHK 105,85.

    Zulkipli menegaskan bahwa semua kota di Jawa Timur mengalami deflasi secara month-to-month (m-to-m), tetapi secara year-on-year (y-on-y) masih ada daerah yang mengalami inflasi.

    Ancaman Lonjakan Inflasi Imbas Usainya Diskon Tarif Listrik

    Meskipun deflasi saat ini dianggap masih dalam batas aman, Zulkipli mengingatkan bahwa jika diskon tarif listrik berakhir, maka lonjakan inflasi berpotensi terjadi.

    "Kita tidak tahu sampai kapan kebijakan diskon listrik ini diberlakukan, tapi jika nanti tarif listrik kembali ke harga normal, inflasi bisa naik dua kali lipat dari penurunan yang terjadi sekarang," ungkapnya.

    Hal ini dikarenakan listrik adalah kebutuhan utama yang berdampak luas terhadap berbagai sektor. Jika harga listrik naik drastis, biaya produksi industri juga meningkat, yang kemudian bisa mendorong kenaikan harga barang dan jasa secara keseluruhan.

    Selain itu, meskipun banyak komoditas pangan mengalami penurunan harga setelah periode Natal dan Tahun Baru, ada indikasi bahwa harga beras masih meningkat. 

    "Pada Februari, harga beras masih naik 0,35 persen di hampir semua kota, padahal seharusnya mulai turun karena masuk panen raya di bulan Maret," tambahnya.

    Jika harga beras tetap tinggi sementara tarif listrik kembali normal, maka tekanan inflasi bisa semakin besar di bulan-bulan mendatang.

    Deflasi Saat Ini Masih dalam Kondisi Aman

    Meskipun ada potensi lonjakan inflasi, Zulkipli menegaskan bahwa kondisi saat ini masih terkendali dan tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan.

    "Tidak ada yang perlu ditakutkan dengan deflasi saat ini. Sejauh ini masih aman, dan kita akan terus memantau perkembangan kebijakan pemerintah," ujarnya.

    Namun, ia juga menekankan bahwa jika deflasi terus berlangsung hingga bulan berikutnya, maka tren ini harus diperhatikan lebih serius untuk memastikan bahwpanjang ada dampak negatif terhadap perekonomian dalam jangka panjang. (*)

    Editor : Rizqi Ardian

    What's Your Reaction?

    like

    dislike

    love

    funny

    angry

    sad

    wow