Diskon Tarif Listrik Berakhir, Jawa Timur Alami Deflasi: Kediri Tertinggi, Surabaya Terendah

Diskon listrik 50% berakhir, Jawa Timur alami deflasi 0,03%. Kota Kediri mencatat deflasi tertinggi 0,98%, sementara Surabaya terendah 0,07%. Banyuwangi justru mengalami inflasi tertinggi 0,94%.

04 Mar 2025 - 21:40
Diskon Tarif Listrik Berakhir, Jawa Timur Alami Deflasi: Kediri Tertinggi, Surabaya Terendah
Diskon tarif 50% jadi faktor utama deflasi di bulan Januari dan Februari 2025 (Humas PLN for SJP)

SURABAYA, SJP - Diskon tarif listrik sebesar 50 persen yang diberikan pemerintah melalui PT PLN (Persero) sejak Januari 2025 resmi berakhir pada Februari. Kebijakan ini, yang menyasar pelanggan rumah tangga dengan daya 450 VA hingga 2.200 VA, terbukti memberikan dampak signifikan terhadap laju inflasi di Provinsi Jawa Timur.

Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur dalam Berita Resmi Statistik (BRS) menunjukkan bahwa deflasi terjadi selama dua bulan terakhir, dengan Februari 2025 mencatat penurunan harga secara year-on-year (y-on-y) sebesar 0,03 persen.

Dalam rilis resmi BPS Jawa Timur, Kepala BPS Jatim, Zulkipli, mengonfirmasi bahwa salah satu faktor utama terjadinya deflasi selama dua bulan berturut-turut di awal tahun 2025 ini adalah penurunan harga listrik akibat kebijakan diskon dari PLN. 

"Penurunan harga pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mencapai 15,41 persen. Tarif listrik sendiri memiliki andil cukup besar dalam deflasi bulan ini," ujar Zulkipli, Selasa (4/3/2025).

Deflasi Bulanan dan Peran Tarif Listrik

Jika dilihat dari month-to-month (m-to-m), deflasi di Jawa Timur pada Februari 2025 mencapai 0,59 persen. Salah satu penyebab utama adalah penurunan harga listrik, yang menyumbang 0,70 persen terhadap deflasi bulanan.

Selain itu, harga bahan pangan seperti bawang merah, cabai rawit, dan tomat juga mengalami penurunan, meskipun dampaknya tidak sebesar sektor energi.

Dampak dari diskon listrik juga tercermin dalam kategori pengeluaran rumah tangga. Selain tarif listrik, penurunan harga terjadi pada bahan bakar rumah tangga, yang menurun 35,11 persen. 

Namun, beberapa sektor masih mencatat inflasi, seperti makanan dan minuman (1,76 persen), transportasi (1,21 persen), serta perawatan pribadi (8,66 persen).

Kota Kediri Catat Deflasi Tertinggi, Surabaya Terendah

Deflasi tidak merata di seluruh wilayah. Kota Kediri menjadi daerah dengan deflasi tertinggi, mencapai 0,98 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) turun ke 104,50.

Sebaliknya, Kota Surabaya mengalami deflasi terendah, hanya 0,07 persen, dengan IHK 105,78. Perbedaan ini mencerminkan variasi pola konsumsi dan dinamika harga di masing-masing wilayah.

"Tarif listrik menjadi penyumbang utama deflasi di sebagian besar daerah, namun struktur ekonomi yang berbeda membuat dampaknya tidak seragam," jelas Zulkipli.

Inflasi Tertinggi Terjadi di Banyuwangi

Di tengah tren deflasi, tidak semua daerah mengalami penurunan harga. Kabupaten Banyuwangi justru mencatat inflasi tertinggi di Jawa Timur, yaitu 0,94 persen, dengan IHK 107,02. Faktor pendorongnya antara lain kenaikan harga bahan makanan, tembakau, dan transportasi.

Sementara itu, inflasi terendah terjadi di Kabupaten Jember, yang hanya mengalami kenaikan 0,14 persen, dengan IHK 105,85. Kenaikan harga di Jember lebih moderat dibandingkan Banyuwangi, dengan sumbangan terbesar berasal dari kelompok makanan dan transportasi.

Tren Deflasi Tidak Hanya di Jawa Timur

Deflasi yang terjadi di Jawa Timur bukanlah fenomena tunggal, melainkan bagian dari tren nasional. Menurut Zulkipli, hampir seluruh provinsi di Indonesia mengalami deflasi pada Februari 2025. Penurunan harga listrik akibat diskon dari PLN menjadi faktor utama yang mendorong penurunan indeks harga di berbagai daerah.

“Sebanyak 33 provinsi mengalami deflasi dan 5 provinsi mengalami inflasi. Diskon dari tarif listrik ini yang membuat hampir semua provinsi mengalami deflasi,” tandasnya.

Dengan berakhirnya diskon tarif listrik per Februari, laju inflasi di bulan-bulan mendatang akan sangat bergantung pada faktor lain, seperti pangan, transportasi, kesehatan hingga pendidikan. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow