Ketika Roda Ekonomi tak Lagi Berputar Lincah: Kisah Perajin Velg di Kertosono yang Terjepit Sepi

Usaha stel velg di Kertosono, Nganjuk, alami kelesuan drastis. Pengrajin seperti Sueb (60) keluhkan turunnya pelanggan akibat ekonomi sulit dan gempuran velg murah online. Meskipun demikian, mereka tetap bertahan demi dapur keluarga.

27 Jul 2025 - 12:01
Ketika Roda Ekonomi tak Lagi Berputar Lincah: Kisah Perajin Velg di Kertosono yang Terjepit Sepi
Sueb, salah satu pengrajin yang masih setia menekuni usaha stel velg pres di Kertosono, Nganjuk. (Foto: Kuswanto/SJP)

NGANJUK, SJP — Denting palu yang dulu riuh membetulkan velg "peang" kini sayup-sayup terdengar di Kertosono, Nganjuk. Usaha stel velg pres, yang dulunya jadi tulang punggung ekonomi banyak keluarga, kini terseok-seok dihantam lesunya daya beli masyarakat dan gerusan zaman. Para pengrajin mengeluh, pesanan terjun bebas, memaksa mereka memutar otak demi dapur tetap mengepul.

Salah satunya Sueb (60), pria paruh baya yang sudah lebih dari 16 tahun setia dengan bisnisnya di Desa Lambangkuning, Kecamatan Kertosono. Dia merasakan betul badai sepi ini. Jika dulu bisa melayani 10 sampai 15 kendaraan sehari, kini hanya 2 hingga 5 unit yang mampir ke bengkelnya. Sebuah penurunan drastis yang menyesakkan.

"Dulu ramai, Mas, orang datang bawa motor atau mobil untuk velg yang peang atau bengkok. Sekarang sepi, orang lebih memilih bertahan dengan kondisi velg seadanya karena uangnya dipakai untuk kebutuhan pokok," keluhnya, dengan nada getir.

Penurunan penghasilan ini tentu saja berdampak pada operasional usaha Sueb. Meski diimpit kondisi ekonomi, dia tetap membuka bengkelnya setiap hari, kecuali Jumat. Sebuah perjuangan tak kenal lelah demi keluarga.

"Tetep disyukuri mawon, kulo lek prei, anak bojo kulo mangan nopo, Mas," ungkap Sueb dengan logat Jawa khasnya, memancarkan keteguhan hati.

Disinggung harga, pria yang akrab disapa Cak Sueb itu menjelaskan rincian tarifnya. Untuk stel velg bintang, dia mematok Rp60 ribu. Sementara untuk pemasangan ruji dan stel velg biasa, dikenakan Rp60 ribu ditambah biaya tenaga Rp50 ribu, jadi total Rp110 ribu. Cak Sueb juga menerima jasa stel velg mobil.

"Kalau stel velg bintang harga Rp60 ribu, kalau masang ruji dan stel velg bukan bintang Rp60 ribu plus biaya tenaga Rp 50 ribu, jadi Rp 110 ribu," terang Sueb kepada Suarajatimpost, Ahad (27/7/2025) pagi.

Faktor lain yang turut membebani, kata Sueb, adalah maraknya penjualan velg baru dengan harga miring di platform daring. Banyak konsumen kini lebih memilih mengganti dengan velg baru ketimbang memperbaiki yang lama, karena selisih harga yang kian tipis.

"Kalau dulu orang mikir pres velg itu lebih hemat. Sekarang velg baru banyak yang murah dan tinggal pesan online. Kita jadi makin tersisih," tambahnya, menggambarkan persaingan yang tak terhindarkan.

Meski demikian, masih ada pelanggan setia yang memilih jalur perbaikan. Mereka yang ditemui di bengkel Sueb menyebut, memperbaiki velg lebih nyaman dan hemat dibanding membeli baru. Hasilnya pun dianggap memuaskan dan praktis.

"Saya sudah langganan dari dulu. Kalau velg motor peang atau goyang, cukup datang ke sini, ditangani langsung dan selesai cepat," ujar Hendro, warga Desa Bangsri, yang mengaku sudah lebih dari lima tahun menjadi pelanggan.

Menurutnya, dibanding mengganti velg baru yang harganya bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah, memperbaiki di bengkel lokal jauh lebih terjangkau. Untuk satu kali stel velg, pelanggan hanya perlu merogoh kocek antara Rp60.000, tergantung kerusakan yang ada.

Meski dihantam gempuran velg murah online dan lesunya daya beli, usaha stel velg pres di Kertosono tetap bertahan. Hubungan personal dan pelayanan langsung yang diberikan para pengrajin tak bisa tergantikan oleh kemudahan toko daring. Ini adalah tentang kepercayaan dan keahlian tangan yang masih dicari, meski jalannya kini tak semulus dulu. (*)

Editor: Ali Wafa

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow