Ekspor Jawa Timur Lesu, Neraca Perdagangan Kembali Defisit
Ekspor Jawa Timur terus lesu, anjlok 7,01 persen di Januari 2025. Defisit perdagangan makin dalam, sektor migas terpuruk, sementara nonmigas bertahan tipis di tengah tekanan ekonomi global.
SURABAYA, SJP - Kinerja ekspor Jawa Timur pada Januari 2025 menunjukkan tren yang kurang baik. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, ekspor provinsi ini hanya mencapai US$1,96 miliar, turun 7,01 persen dibandingkan Desember 2024.
Kepala BPS Jatim, Zulkipli bahkan mengungkapkan bahwa, jika dibandingkan Januari 2024, ekspor juga melemah 1,70 persen, hal tersebut menjadi sinyal peringatan bagi pelaku industri dan pemerintah daerah.
"Ekspor Jawa Timur masih lesu, terutama karena sektor migas yang anjlok tajam," ujar Zulkipli saat dikonfirmasi pada Selasa (4/3/2025).
Sektor migas menjadi biang utama melemahnya ekspor Jawa Timur. Ekspor migas Januari 2025 hanya US$12,24 juta, merosot 67,94 persen dibandingkan Desember 2024 dan 85,80 persen dibandingkan Januari 2024.
Di sisi lain, ekspor nonmigas masih dominan dengan nilai US$1,94 miliar, tetapi tetap mencatat penurunan 5,89 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, secara tahunan, ekspor nonmigas naik 2,10 persen, menunjukkan ada sedikit daya tahan meski tetap dibayangi ketidakpastian ekonomi global.
Perhiasan dan Tembaga Jadi Andalan
Di tengah pelemahan ekspor, beberapa komoditas masih menjadi andalan Jawa Timur. Perhiasan/permata (HS 71) tetap menjadi komoditas ekspor utama dengan nilai US$281,18 juta, meskipun turun 8,87 persen dibandingkan Desember 2024.
Sementara itu, ekspor tembaga (HS 74) justru meningkat 21,53 persen menjadi US$190,26 juta, menjadikannya komoditas ekspor terbesar kedua. Komoditas lain seperti lemak dan minyak hewan/nabati (HS 15) mengalami penurunan 13,51 persen.
"Perhiasan masih jadi penyumbang terbesar, tetapi kenaikannya tidak cukup untuk menahan laju pelemahan ekspor secara keseluruhan," kata Zulkipli.
Dari sisi negara tujuan, Amerika Serikat masih menjadi pasar ekspor terbesar dengan nilai US$281,96 juta (14,50 persen dari total ekspor). Tiongkok menempati posisi kedua dengan nilai US$244,15 juta, diikuti Jepang dengan US$179,94 juta.
Impor Juga Anjlok, Tapi Masih Lebih Tinggi dari Ekspor
Kinerja impor Jawa Timur juga mengalami kontraksi. Total impor Januari 2025 mencapai US$2,27 miliar, turun 18,04 persen dibandingkan Desember 2024. Impor nonmigas anjlok 20,89 persen menjadi US$1,82 miliar, sementara impor migas turun lebih ringan, yaitu 4,22 persen menjadi US$455,56 juta.
Tiongkok masih menjadi pemasok barang terbesar bagi Jawa Timur dengan nilai impor US$714,89 juta (39,32 persen dari total impor nonmigas), disusul oleh Amerika Serikat (US$117,82 juta) dan Korea Selatan (US$81,09 juta).
"Penurunan impor ini mencerminkan pelemahan permintaan industri dalam negeri," jelas Zulkipli.
Neraca Perdagangan Jawa Timur Defisit Tajam
Lesunya ekspor berujung pada defisit neraca perdagangan Jawa Timur sebesar US$317,20 juta. Defisit ini semakin dalam karena perdagangan migas mengalami minus US$443,31 juta.
Namun, sektor nonmigas masih mencatat surplus US$126,11 juta, yang sedikit mengurangi tekanan terhadap defisit perdagangan keseluruhan.
"Jawa Timur butuh strategi agresif untuk mendorong ekspor, terutama di sektor industri dan pertanian. Jika tidak, defisit bisa semakin membengkak," tutup Zulkipli. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

