Dinkes Blitar Uji Lab Sampel Kolak Kacang Hijau yang Diduga Racuni Puluhan Lansia
Kepala Dusun Sidorejo, Ponidi menyebut, peristiwa itu baru pertama kali terjadi. Sebab, kolak kacang hijau menjadi sajian rutin yang diberikan kepada peserta posyandu selama bertahun-tahun dan dibuat oleh lima orang yang sama
BLITAR, SJP — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar bergerak cepat menindaklanjuti kasus keracunan puluhan orang lanjut usia (lansia) di Dusun Sidorejo, Desa Sidomulyo, Kecamatan Selorejo. Sampel kolak kacang hijau diambil karena diduga menjadi penyebab keracunan.
Sampel tersebut kemudian akan dikirimkan ke Surabaya untuk diperiksa di laboratorium. Pemeriksaan itu dilakukan guna mengetahui penyebab keracunan yang dialami puluhan lansia.
Kepala Dinkes Kabupaten Blitar, Christine Indrawati mengatakan, proses uji laboratorium membutuhkan waktu selama dua pekan atau 14 hari. Setelah hasilnya keluar, akan diketahui kolak kacang hijau tersebut mengandung zat beracun atau tidak.
"Masih proses dikirim ke Surabaya untuk pemeriksaan laboratoriumnya. Butuh waktu sekitar dua minggu," ucapnya, Senin (12/5/2025).
Christine menyebut, ada 58 warga Dusun Sidorejo, Desa Sidomulyo, Kecamatan Selorejo, yang mengalami keracunan. Mereka sudah menjalani pemeriksaan, baik rawat jalan maupun rawat inap di beberapa fasilitas kesehatan (faskes).
Korban yang kondisinya membaik, kata Christine, diizinkan untuk pulang ke rumah. Sementara korban yang kondisinya belum membaik, diminta tetap menjalani rawat inap di puskesmas maupun rumah sakit.
"Sampai saat ini sudah ada 58 orang yang kami periksa, baik menjalani rawat jalan maupun rawat inap di puskesmas dan RSUD Ngudi Waluyo Wlingi," kata dia.
Sementara itu, Kepala Dusun Sidorejo, Ponidi menyebut, peristiwa itu baru pertama kali terjadi. Sebab, kolak kacang hijau menjadi sajian rutin yang diberikan kepada peserta posyandu selama bertahun-tahun. Bahkan pembuatnya adalah lima orang yang sama.
Ponidi mengaku tidak menyangka peristiwa itu bisa menimpa warganya. Karena kolak kacang hijau tersebut dibuat dan diolah sendiri, bukan membeli kepada pihak lain.
"Selama bertahun-tahun, setiap posyandu lansia kami selalu menyediakan menu kolak kacang hijau dan dibuat oleh lima orang yang sama. Bahannya memang betul kami beli, tetapi pengolahan dilakukan sendiri seperti biasa dan baru kali ini terjadi," terangnya.
Kata Ponidi, sekitar 60 warga mengalami gejala keracunan. Seperti mual, muntah dan diare. Sebagian warga masih menjalani rawat inap di puskesmas dan rumah sakit. Ada beberapa warga yang sudah diizinkan pulang ke rumah masing-masing.
"Kami pun tidak menyangka kejadian ini bisa terjadi. Kami menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada seluruh korban dan keluarga," imbuhnya. (*)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

