Daya Beli Petani Jatim Meningkat, NTP Maret 2025 Naik di Angka 111,61

Daya beli petani Jatim meningkat pada Maret 2025, ditopang lonjakan hortikultura dan surplus telur di tengah krisis harga telur global.

09 Apr 2025 - 21:02
Daya Beli Petani Jatim Meningkat, NTP Maret 2025 Naik di Angka 111,61
Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Timur naik 0,64 persen pada Maret 2025, mencerminkan peningkatan daya beli petani (Arul/SJP)

SURABAYA, SJP - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur mencatat peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) pada periode Maret 2025. NTP Jawa Timur tercatat sebesar 111,61, naik 0,64 persen dibanding bulan sebelumnya yang sebesar 110,90. 

Kenaikan tersebut mencerminkan meningkatnya daya beli petani di perdesaan akibat harga jual hasil produksi naik lebih cepat daripada biaya konsumsi dan produksi.

Kepala BPS Jawa Timur, Zulkipli, menjelaskan bahwa kenaikan NTP dipicu oleh naiknya Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 1,99 persen, yang lebih tinggi dibanding kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 1,34 persen.

"Dengan It naik lebih tinggi dari Ib, maka posisi petani jadi lebih kuat secara daya beli. Ini kabar baik untuk sektor perdesaan," ujar Zulkipli, Rabu (9/4/2025).

Bersamaan dengan itu, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) juga mencatatkan kenaikan sebesar 1,59 persen, menandakan bahwa setelah memperhitungkan biaya produksi, usaha pertanian tetap mengalami peningkatan pendapatan bersih.

Hortikultura Melonjak, Tanaman Pangan Tertekan

Secara sektoral, terdapat dua subsektor yang mengalami peningkatan NTP, yakni:

  • Hortikultura: naik signifikan 10,51 persen (dari 133,38 ke 147,40)
  • Peternakan: naik 0,98 persen (dari 100,35 ke 101,33)

Sementara tiga subsektor lainnya justru mengalami penurunan NTP:

  • Tanaman Pangan: turun 1,59 persen
  • Tanaman Perkebunan Rakyat: turun 0,89 persen
  • Perikanan: turun 0,21 persen

Menurut Zulkipli, lonjakan harga cabai rawit dan bawang merah menjadi penyumbang utama bagi kenaikan subsektor hortikultura, sementara sapi potong dan telur ayam ras turut memperkuat subsektor peternakan.

Surplus Telur di Tengah Krisis Global

Menariknya, Indonesia, termasuk Jawa Timur sebagai salah satu lumbung ternak nasional, justru mengalami surplus produksi telur di tengah situasi eggflation global, yakni krisis harga telur di berbagai negara. 

Harga telur ayam ras di tingkat petani Jatim naik, namun tetap terkendali dan mendukung peningkatan pendapatan peternak.

"Telur ayam ras menjadi salah satu komoditas yang mendorong indeks harga diterima petani. Tapi di sisi lain, kita juga tetap surplus. Ini menarik di tengah tekanan global," terang Zulkipli.

Listrik Tekan Pengeluaran Petani

Kenaikan Ib (indeks harga yang dibayar petani) terutama dipengaruhi oleh kenaikan tarif listrik, serta harga bawang merah, cabai rawit, dan telur ayam ras di sisi konsumsi rumah tangga. Tarif listrik naik tajam seiring berakhirnya program diskon pemerintah per 1 Maret 2025.

Jawa Timur Terbaik di Pulau Jawa

Jika dibandingkan dengan empat provinsi lain di Pulau Jawa, Jawa Timur dan Jawa Tengah menjadi dua provinsi yang mencatatkan kenaikan NTP masing-masing 0,64 persen. Tiga provinsi lainnya justru mengalami penurunan, yakni:

  • Banten: -0,75%
  • Jawa Barat: -0,38%
  • DIY: -0,02%

"Kita bersyukur Jatim bisa mencatat kenaikan, apalagi saat provinsi lain justru turun. Ini menunjukkan ketahanan ekonomi petani kita cukup baik," tutup Zulkipli. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow