Okupansi Hotel Jawa Timur Turun Februari 2025, Efisiensi Anggaran dan Pra Ramadan Jadi Faktor

Okupansi hotel Jawa Timur turun pada Februari 2025, dipengaruhi efisiensi anggaran dan musim tenang pra-Ramadan, namun diprediksi bangkit saat Ramadan dan jelang Lebaran.

09 Apr 2025 - 21:15
Okupansi Hotel Jawa Timur Turun Februari 2025, Efisiensi Anggaran dan Pra Ramadan Jadi Faktor
Kepala BPS Jatim, Zulkipli beberkan data okupansi hotel Jawa Timur Februari 2025 alami penurunan (Ryan/SJP)

SURABAYA, SJP - Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel di Jawa Timur mengalami penurunan pada Februari 2025. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur, TPK hotel bintang tercatat sebesar 47,21 persen, menurun dari 48,38 persen pada Januari 2025. Penurunan juga terjadi secara tahunan (year-on-year), dengan selisih 2,24 poin dari Februari 2024.

Kepala BPS Jawa Timur, Zulkipli, menyebut pelemahan ini sebagai cerminan tekanan pada sektor perhotelan, terutama dari segmen tamu domestik dan perjalanan dinas.

"Secara umum, terjadi penurunan pada TPK hotel bintang dan nonbintang. Ini harus dicermati, terutama oleh pelaku industri pariwisata," ujar Zulkipli, Rabu (9/4/2025).

Efisiensi Anggaran Jadi Faktor Penekan

Penurunan okupansi itu tidak lepas dari kebijakan efisiensi belanja pemerintah. Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025 mengatur pemangkasan anggaran perjalanan dinas hingga 50 persen, mulai diberlakukan sejak akhir 2024.

Kondisi ini berdampak signifikan terhadap industri akomodasi, mengingat perjalanan dinas menjadi salah satu kontributor utama okupansi hotel selama ini.

"Kebijakan efisiensi anggaran sangat mungkin berdampak langsung pada hunian kamar, terutama dari sisi tamu pemerintah atau bisnis yang selama ini mendominasi okupansi pada hari kerja," ujar Zulkipli.

Februari, Masa Tenang Sebelum Ramadan

Selain faktor anggaran, penurunan okupansi juga dipengaruhi oleh pola musiman. Februari merupakan bulan terakhir sebelum masuknya Ramadan yang dimulai pada awal Maret 2025. Periode ini biasanya diwarnai penurunan aktivitas wisata dan perjalanan.

Zulkipli menambahkan bahwa penurunan ini diperkirakan hanya bersifat sementara, dan TPK diproyeksi meningkat kembali pada Maret, seiring mobilitas masyarakat saat Ramadan dan menjelang Idulfitri.

Hotel Nonbintang Turut Melemah

Tidak hanya hotel berbintang, TPK hotel nonbintang juga mengalami koreksi. Tercatat pada Februari 2025, TPK hotel nonbintang berada di angka 23,17 persen, menurun dari 24,39 persen pada Januari. Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, penurunan lebih dalam terjadi, yakni sebesar 3,10 poin secara tahunan.

Durasi Menginap Tamu Naik Tipis

Di tengah tren penurunan okupansi, rata-rata lama menginap tamu hotel bintang justru meningkat tipis dari 1,57 malam pada Januari 2025 menjadi 1,58 malam pada Februari 2025. Meski naik secara bulanan, angka tersebut masih lebih rendah dibanding Februari 2024 yang mencapai 1,62 malam.

Zulkipli menjelaskan bahwa tamu asing secara konsisten mencatatkan lama inap lebih tinggi dibanding tamu domestik, meskipun pada Februari 2025, durasi inap tamu asing mengalami koreksi menjadi 2,37 malam dari sebelumnya 2,62 malam di Januari. Sebaliknya, tamu domestik mencatat peningkatan tipis dari 1,46 menjadi 1,49 malam.

Harapan Perbaikan di Ramadan dan Lebaran

Melihat tren musiman tahun-tahun sebelumnya, Zulkipli menilai potensi perbaikan okupansi cukup besar pada periode berikutnya.

"Pemulihan sektor pariwisata tidak bisa hanya mengandalkan satu sumber pasar. Tapi kita prediksi di bulan Maret 2025, bulan Ramadhan dan pra-lebaran akan memicu dorongan permintaan," pungkasnya. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow