Dari Pena ke Parlemen, Jejak Panjang 57 Tahun Hidup "Cak Awi" Adi Sutarwijono
Dari anak guru SD di Blitar hingga dua periode memimpin DPRD Surabaya, perjalanan Awi berakhir setelah melawan kanker, meninggalkan jejak panjang dari ruang redaksi ke panggung politik.
SURABAYA, SJP - Surabaya kehilangan salah satu figur sentral di dunia politik. Ketua DPRD Surabaya dua periode, Dominikus Adi Sutarwijono atau yang akrab disapa Awi, berpulang pada Selasa (10/2/2026) pukul 20.36 WIB di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta, setelah menjalani perawatan intensif akibat kanker hati.
Kepergiannya menutup perjalanan panjang seorang pemimpin legislatif yang dikenal tenang, komunikatif, dan berpengalaman di Kota Pahlawan. Kabar tersebut meninggalkan duka mendalam, terutama bagi DPRD Surabaya, kader dan tentunya bagu simpatisan PDI Perjuangan di Jawa Timur.
"Innalillahi Wa Innailaihiraajiun, telah berpulang keharibaan Tuhan Yang Maha Esa saudara kita Ketua DPRD Surabaya Mas Adi Sutarwijono," kata Sekretaris DPD PDIP Jatim, Deni Wicaksono.
"Kami sangat berduka atas berpulangnya Mas Adi Sutarwijono," ujar Wakil Ketua DPD PDIP Jatim, Daniel Rohi.
Anak Guru SD dari Blitar
Dominikus Adi Sutarwijono lahir di Blitar, 4 Agustus 1968. Ia merupakan putra dari almarhum J.S. Wiryoatmodjo yang merupakan seorang guru Sekolah Dasar (SD). Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang bertanggungjawab dan sederhana, ditunjukkan dari sikapnya yang tetap low profile meski memiliki jabatan mentereng di Kota Pahlawan.
Selepas menamatkan pendidikan menengah, ia melanjutkan studi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya dan lulus pada tahun 1993. Di kampus itu ia berminat menggeluti dunia tulis-menulis dan mulai tertarik dengan bahasan politik hingga dinamika sosial.
Selama ia di Surabaya, nama “Awi” kemudian menjadi sapaan akrab yang melekat kuat. Sebagian kolega juga mengenalnya dengan panggilan ”Mas Awi” atau ”Cak Awi” mencerminkan kedekatan sosial khas Jawa Timur.
Meniti Karier sebagai Wartawan Era Reformasi
Sebelum dikenal sebagai politisi, Awi terlebih dahulu berkiprah di dunia jurnalistik. Pada 1996, di masa akhir Orde Baru, ia memulai karier sebagai wartawan Harian Surya. Ia meliput berbagai isu politik dan sosial pada periode yang penuh gejolak menjelang reformasi.
Tidak jarang Awi melakukan peliputan aksi demonstrasi besar kala itu, termasuk serangkaian demonstrasi PDI Pro-Megawati, yang kemudian membukakan pintunya untuk mengenal tokoh-tokoh politik, khususnya dari PDI Pro-Megawati.
Salah satu momen menegangkan ia alami pada 28 Juli 1996, yang mana Awi sempat ditangkap aparat keamanan ketika meliput unjuk rasa massa PDI Pro-Megawati di Jalan Diponegoro Surabaya. Sebagai informasi, aksi tersebut merupakan respon atas penyerbuan Kantor DPP PDI di Jakarta, 27 Juli 1996.
Kemudian kariernya berlanjut di Majalah TEMPO dan Tempo Interaktif sebagai kontributor wilayah Surabaya dan Jawa Timur pada rentang 1999 hingga sekitar 2003. Di sana, ia memperluas cakupan liputan dan memperdalam analisis politik ke ranah nasional.
Mengenang masa-masanya di dunia wartawan, rekan sejawatnya di DPRD Surabaya, Arif Fathoni, yang juga berlatar belakang jurnalis, menceritakan bahwa Awi merupakan sosok yang gemar membaca dan memiliki wawasan luas.
"Mas Adi ini pribadi yang bersahaja, pembawaannya tenang, dan visi berpikirnya jauh ke depan," kata Wakil Ketua DPRD Surabaya dari Fraksi Golkar itu, Rabu (11/2/2026).
Menurut Fathoni, latar belakang jurnalistik membuat Awi terbiasa berpikir kritis dan kontekstual dalam setiap diskusi. Hal tersebut membuat DPRD Surabaya dibawah kepemimpinan Awi terasa "adem" dan minim konflik.
Perjalanan Panjang di Dunia Politik
Pada 2003, Awi memutuskan meninggalkan dunia jurnalistik dan bergabung dengan PDI Perjuangan. Dirinya berpegang teguh bahwa wartawan professional haruslah non-partisan, maka saat menjadi bagian dari PDI Perjuangan ia menggantungkan kartu persnya dan memulai perjalanan panjangnya di politik.
Namun ia tidak meninggalkan pena begitu saja, dengan segudang pengalaman di dunia jurnalistik, ia memanfaatkan kemampuannya untuk membuat narasi atau buletin kampanye, menulis rilis, hingga membagikan opininya di media massa.
Sejak awal perjalanan politiknya, Awi sudah dihadapkan dengan beragam tantangan. Ia sempat gagal dua kali dalam pencalonan legislatif, tepatnya pada 2004 dan 2009. Namun ia tetap berproses, menjadikannya salah satu tokoh politik yang meniti karir dari dasar.
Barulah ia berhasil masuk DPRD Surabaya melalui mekanisme Pergantian Antar Waktu (PAW) pada 2012 untuk sisa masa jabatan 2009–2014. Selanjutnya, ia terpilih kembali pada periode 2014–2019.
Kepercayaan partai dan kolega membawanya menjabat Ketua DPRD Surabaya untuk periode 2019–2024, bahkan kembali dipercaya memimpin untuk periode 2024–2029.
Di internal partai, Awi pernah menjabat Ketua DPC PDIP Surabaya periode 2019–2024. Namun sempat terjadi dinamika internal partai hingga ia berakhir dicopot dari jabatan Ketua DPC PDI-P Surabaya pada Mei 2025 setelah evaluasi internal partai.
Pencopotan dilakukan karena Awi secara kinerja sebagai ketua DPC PDI-P Surabaya kala itu dinilai kurang maksimal. Wakil Ketua PDIP Jatim, Budi Sulistyono mengungkapkan bahwa polemik memuncak saat perolehan kursi legislatif partai dinilai kurang maksimal pada Pemilu 2024.
"Kursi DPRD dari 15 jadi 11 saja. Selain itu, rutinitas kinerja partai seperti rapat, komunikasi, keuangan, dan lain-lain juga kurang ideal," ucap Budi pada 2025 lalu.
Kendati beragam hiruk pikuk yang ia hadapi selama mengarungi dunia politik, Awi tetap menjabat sebagai Ketua DPRD Surabaya hingga akhir hayatnya dan tetap dianggap sebagai salah satu kader terbaik yang di miliki oleh PDI-P Perjuangan.
"Telah berpulang kader terbaik PDI Perjuangan, Adi Sutarwijono… Dedikasi, pengabdian, dan perjuangan beliau akan selalu menjadi teladan bagi kita semua." tulis akun Instagram @pdiperjuanganjatim dalam unggahan resmi belasungkawa terhadap sosok Awi.
Penghormatan Terakhir
Setelah disemayamkan di Grand Heaven Surabaya, jenazah Awi akan mendapatkan penghormatan terakhir di Gedung DPRD Surabaya sebelum dimakamkan di TPU Keputih. Hal itu dikonfirmasi oleh kolega Awi di DPRD Surabaya.
"Insyaallah Kamis jenazah akan dibawa ke kantor DPRD agar para kolega bisa memberikan penghormatan terakhir," kata Fathoni.
"Kami bersama rekan-rekan di DPRD akan memberikan penghormatan kepada almarhum," ujar Wakil Ketua DPRD Surabaya Bahtiyar Rifai saat dikonfirmasi di hari yang sama.
Kepergian Awi menutup perjalanan seorang anak guru SD dari Blitar yang meniti jalan dari ruang redaksi hingga kursi Ketua DPRD Surabaya. Dari dunia jurnalistik menuju politik, ia dikenal sebagai sosok tenang, komunikatif, dan berupaya menjaga ruang legislatif tetap harmonis hingga akhir hayatnya. (*)
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

