Tradisi Seblang, Ritual Sakral Penolak Bala Suku Osing Banyuwangi
Tradisi Seblang merupakan ritual adat sakral Suku Osing di Banyuwangi yang digelar sebagai upacara bersih desa dan tolak bala. Ritual ini sarat nilai budaya, spiritual, dan kearifan lokal yang masih dilestarikan hingga kini.
BANYUWANG, SJP - Banyuwangi dikenal tidak hanya melalui pesona alamnya, tetapi juga lewat kekayaan tradisi budaya yang sarat makna dan nilai spiritual. Salah satu ritual adat yang hingga kini masih dilestarikan masyarakat setempat adalah Tari Seblang,sebuah ritual sakral milik Suku Osing yang di percaya sebagai upacara bersih desa dan penolakan bala.
Ritual Seblang biasanya digelar selama 7 hari berturut-turut pada awal bulan Syawal, tepat setelah Hari Raya Idulfitri. Prosesi berlangsung mulai sekitar pukul 14.00 WIB hingga menjelang waktu magrib, dan menjadi momen penting bagi masyarakat Osing untuk memohon keselamatan, ketentraman, serta ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang telah diperoleh.
Berbeda dengan tari tradisional pada umumnya, Tari Seblang tidak semata-mata berfungsi sebagai hiburan. Penari Seblang merupakan seorang perempuan yang menari dalam kondisi keserupan atau tance. Dalam kepercayaan masyarakat setempat, penari dipercaya menjadi medium komunikasi antara dunia manusia dengan roh leluhur atau nenek moyang.
Gerakan tari yang sederhana, iringan musik tradisional, serta suasana hening yang menyelimuti prosesi, menciptakan nuansa mistis yang kuat. Setiap tahap ritual dipimpin oleh pawang adat yang berperan penting menjaga kelancaran prosesi dan keselamatan penari.
Selain sebagai upacara tolak bala dan bersih desa, ritual Seblang juga dimaknai sebagai simbol rasa syukur masyarakat Osing atas keberkahan alam dan hasil pertanian. Tradisi ini sekaligus mencerminkan kuatnya hubungan spiritual masyarakat Banyuwangi dengan leluhur mereka. Secara budaya, Tari Seblang menjadi bukti kekayaan tradisi lokal yang masih bertahan di tengah arus modernisasi. Ritual ini juga menunjukkan pentingnya peran perempuan dalam menjaga dan melestarikan budaya adat, khususnya dalam masyarakat Osing.
Berbagai sumber dokumentasi budaya menunjukkan, ritual Seblang tidak dapat dilakukan sembarangan. Terdapat sejumlah pantangan dan aturan adat yang wajib dipatuhi oleh penari maupun penonton. Pelanggaran terhadap aturan tersebut diyakini dapat mengganggu keseimbangan ritual.
Informasi mengenai ritual Seblang ini juga banyak dibagikan melalui media sosial, salah satunya melalui akun TikTok @pesona.indonesia, yang memperkenalkan tradisi ini kepada generasi muda dan masyarakat luas.
Tips Menyaksikan Ritual Tari Seblang
Bagi masyarakat luar daerah atau penikmat wisata budaya yang ingin menyaksikan langsung ritual Tari Seblang, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan.
1. Pahami bahwa Seblang adalah Ritual Sakral.
Penonton diharapkan menjaga sikap, tidak berisik, serta tidak menjadikan prosesi ini sebagai bahan candaan.
2. Patuhi larangan dokumentasi.
Pengambilan foto atau video dilarang, terutama saat pawang mengeluarkan roh leluhur dari tubuh penari. Larangan ini harus dihormati demi menjaga kesakralan ritual.
3. KenakanPakaian yang Sopan dan Sederhana
Meski tidak ada aturan tertulis, berpakaian sopan merupakan bentuk penghormatan terhadap adat setempat.
4. Lepaskan Aksesoris Logam
Jika penonton terkena lemparan selendang saat prosesi tundik dan diminta naik ke panggung, disarankan melepas aksesoris logam agar tidak diambil atau dibuang oleh penari Seblang .
5. Jangan menolak saat diajak menari.
Menolak ajakan menari dipercaya dapat membawa dampak kurang baik, sehingga penonton diharapkan mengikuti arahan pawang.
6. Datang Lebih Awal
Datang sebelum prosesi dimulai membantu penonton memahami alur ritual dan mendapatkan posisi yang nyaman tanpa mengganggu jalannya acara.
Dengan memahami nilai budaya dan mematuhi aturan adat yang berlaku, menyaksikan Tari Seblang bukan hanya menjadi pengalaman yang menarik, tetapi juga sarana belajar untuk menghargai warisan budaya dan kearifan lokal masyarakat Banyuwangi. (**)
Penulis: Rainila Otek (Mahasiswa Magang Unitri Malang)
Editor: Danu
What's Your Reaction?

