Dari Bangunan Menjorok sampai Sampah Menumpuk, Ini Penyebab Surabaya Terkepung Banjir

Bangunan menjorok menutup saluran, sampah menumpuk di pintu air, dua biang yang membuat Surabaya kembali kebanjiran meski hujan baru turun enam jam saja.

06 Nov 2025 - 19:41
Dari Bangunan Menjorok sampai Sampah Menumpuk, Ini Penyebab Surabaya Terkepung Banjir
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi meninjau lokasi banjir di kawasan Sukomanunggal, Rabu (5/11/2025), usai hujan deras mengguyur kota lebih dari enam jam. (Istimewa)

SURABAYA, SJP – Hujan deras mengguyur Kota Surabaya selama lebih dari enam jam pada Rabu (5/11/2025). Guyuran dengan intensitas tinggi sejak siang hingga petang itu membuat sejumlah kawasan kota tergenang, terutama di wilayah selatan dan barat.

Dari hasil peninjauan di lapangan, ditemukan sejumlah faktor yang memperparah dampak hujan berkepanjangan tersebut, mulai dari bangunan warga yang menutup saluran air hingga tumpukan sampah yang menyumbat pintu air.

Bangunan Tutup Saluran di Tanjungsari

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi melakukan inspeksi langsung ke beberapa titik banjir, di antaranya Jalan Jemursari, Sidosermo, Ahmad Yani, Tidar, Embong Malang, Pacuan Kuda, Tanjungsari, hingga Asemrowo.

Saat meninjau kawasan Jalan Tanjungsari, Kecamatan Sukomanunggal, Eri menemukan sejumlah bangunan milik warga yang menjorok hingga menutup saluran air. Kondisi ini, menurutnya, sudah berlangsung lama dan menjadi salah satu penyebab genangan tak kunjung tuntas di wilayah tersebut.

"Tolong dicek lagi ke BPN. Nanti barang-barang jangan sampai ada di luar persil," kata Eri Cahyadi di lokasi, Rabu (5/11/2025).

"Ini (bangunan) sudah puluhan tahun menghalangi jalannya air. Terus gimana mau bisa menyelesaikan banjir kalau masih ada seperti ini?" imbuhnya 

Eri pun memerintahkan Camat Sukomanunggal dan Camat Asemrowo untuk segera mengumpulkan warga dan memastikan bangunan mereka tidak berdiri di atas saluran atau menutup aliran air.

"Kalau salurannya ditutupi rumah, terus gimana. Makanya saya minta tolong camat dan LPMK kumpulkan warganya, diingatkan rumahnya harus mundur sesuai surat tanahnya," tegasnya.

Selain itu, Eri juga melarang warga maupun pengurus lingkungan mendirikan jembatan liar di atas saluran air karena dinilai mempersempit aliran.

"Jangan buat jembatan di sini. Akhirnya air yang mengalir di sini ditutupi begini. Sudah dibongkar saja," ujarnya.

Tumpukan Sampah di Pintu Air

Selain masalah bangunan, Eri juga menemukan faktor lain yang memperparah banjir, yakni tumpukan sampah di Pintu Air Simo Kalangan, Kecamatan Sukomanunggal.

Ketika meninjau lokasi itu, ia mendapati aliran air tersumbat oleh volume sampah yang menumpuk di bawah pintu air. Melihat kondisi tersebut, Eri tampak kesal dan langsung menegur dinas terkait.

"Sampahe koyok ngene rek. Sampahe koyok ngene terus yo opo," ucapnya dengan nada kecewa.

Ia kemudian meminta agar pintu air segera dibuka total supaya air yang menggenang di kawasan Sukomanunggal bisa cepat surut.

Sementara itu, di saluran vital di daerah Genteng, Surabaya juga ditemukan berbagai sampah yang menyumbat aliran air. Tidak tanggung-tanggung, di saluran tersebut bahkan ditemukan sampah helm belas hingga kasur.

Sebagai langkah strategis jangka panjang, Eri mengarahkan jajarannya untuk membangun box culvert di sepanjang Jalan Simo Kalang, yang nantinya akan berfungsi menampung dan memperlancar aliran air hujan.

"Gawekno (buatkan) box ae gawe nampung banyu (air)," ujarnya.

Selain itu, Pemkot juga mencari lahan di kawasan Darmo Satelit yang dinilai strategis untuk pembangunan bozem baru sebagai tampungan air tambahan.

Konfirmasi DSDABM Surabaya perihal Sumbatan Air

Mengonfirmasi temuan Wali Kota Eri Cahyadi, Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Surabaya, Syamsul Hariadi, membenarkan adanya sejumlah sumbatan di beberapa saluran air. Salah satunya tentang rumah di kawasan Tanjungsari yang posisinya menjorok ke badan jalan dan menutup saluran air.

"Karena salurannya kecil dan rumah-rumah banyak yang maju ke jalan. Terus aliran ke muara juga tidak lancar," jelas Syamsul, Kamis (6/11/2025).

Sebagai solusi jangka menengah, Syamsul menyebut tahun depan saluran air di kawasan tersebut akan dilebarkan agar aliran air menuju muara bisa lebih lancar dan risiko genangan berkurang.

"Tahun depan akan dilebarkan salurannya agar bisa lebih lancar," tukasnya.

Dari temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa banjir di Surabaya bukan hanya akibat curah hujan tinggi, tetapi juga karena kombinasi persoalan infrastruktur dan perilaku masyarakat. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow