Blunder Live Instagram, Akun Medsos Wali Kota Surabaya Banjir Komentar 'Epok-epok', Ini Tanggapan Eri Cahyadi
Komentar “epok-epok” membanjiri unggahan Eri Cahyadi usai blunder admin Instagramnya viral, memicu sang wali kota buka suara soal tudingan pencitraan di tengah banjir Surabaya.
SURABAYA, SJP – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi buka suara menanggapi serbuan komentar “epok-epok” yang memenuhi akun Instagram resmi, @ericahyadi_. Istilah "epok-epok" yang berarti “pura-pura” itu kini ramai ditulis warganet di setiap unggahan sang wali kota, buntut dari blunder admin media sosialnya yang sempat viral beberapa hari terakhir.
Blunder Saat Live Instagram
Insiden tersebut bermula dari siaran langsung akun Instagram @ericahyadi_ yang dijeda, namun mikrofon admin belum dimatikan.
Dalam rekaman yang kemudian tersebar luas sejak akhir Oktober 2025, terdengar suara admin yang bercanda dan menyebut soal pengarsipan video kegiatan wali kota untuk diunggah saat hujan.
Ucapan itu memicu tafsir publik bahwa unggahan kegiatan wali kota hanyalah bentuk pencitraan. Video tersebut dengan cepat menyebar di berbagai platform media sosial, terutama TikTok, dan memunculkan gelombang komentar sinis terhadap akun resmi Eri Cahyadi.
Admin bernama Hening Dzikrillah kemudian menyampaikan permintaan maaf terbuka pada 3 November 2025 dan menyatakan telah mengundurkan diri dari tim pengelola akun.
Eri menolak permintaan tersebut dan memutuskan untuk menonaktifkan sementara Hening agar bisa melakukan introspeksi dan perbaikan diri. Kendati demikian, imbas blunder tersebut tetap terasa di dunia maya hingga kini.
Kini, kondisi media sosial Eri Cahyadi berubah drastis. Setiap unggahan di akun Instagram @ericahyadi_ maupun akun resmi Bangga Surabaya, kini dipenuhi komentar “epok-epok”.
Fenomena itu kembali terlihat pada unggahan Rabu (5/11/2025) kemarin saat Kota Pahlawan dilanda hujan lebat yang membuat beberapa lokasi tergenang banjir.
Ketika Eri membagikan video dirinya meninjau beberapa titik genangan air di Kota Surabaya. Banyak warganet mempertanyakan keaslian video tersebut, apakah diambil secara langsung saat kejadian atau hanya stok lama yang diunggah ulang.
Komentar bernada satire seperti “wayah e epok-epok", "video kapan iki" hingga “ wayah e upload stock” mendominasi kolom komentar, menandakan turunnya kepercayaan publik terhadap keaslian konten media sosial wali kota.
Eri Tegaskan: Medsos Bukan untuk Popularitas
Menanggapi hal itu, Eri Cahyadi menegaskan bahwa akun media sosial miliknya tidak dibuat untuk mencari popularitas, melainkan sebagai sarana edukasi dan transparansi terhadap masyarakat.
"Media sosial ini bukan untuk popularitas, bukan juga untuk menampilkan apa yang dikerjakan," kata Eri saat dikonfirmasi pada Kamis (6/11/2025).
Ia mengaku bahwa sebenarnya dirinya tidak terlalu senang jika kegiatannya diunggah di media sosial, karena menurutnya apa yang dilakukan hanyalah kewajiban sebagai kepala daerah, bukan ajang pencitraan.
"Pekerjaan sebagai kepala daerah itu kewajiban, bukan sesuatu yang perlu ditonjolkan di medsos," ujarnya.
Eri juga menyebut sejumlah capaian konkret yang telah diraih Pemerintah Kota Surabaya di bawah kepemimpinannya. Di antaranya angka stunting turun menjadi 1,6 persen, sementara kemiskinan tercatat 3,9 persen, angka terendah dalam sejarah kota itu.
"Wong ngono epok-epok (kalau hasilnya begini, masa dibilang pura-pura)," tegasnya.
Meski sempat tersandung insiden, Eri tetap berencana memanfaatkan media sosial sebagai sarana komunikasi publik. Ia menyebut akan mengintegrasikan akun media sosial pribadi dengan dinas-dinas di bawah Pemkot Surabaya agar publik memahami bahwa pembangunan kota merupakan kerja kolektif.
"Sekarang banyak dinas dikolaborasi dengan IG saya, agar publik tahu yang bergerak bukan hanya wali kota," ujarnya menutup. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

