Dampak Pelemahan Rupiah Mulai Terasa, Harga Bahan Pokok di Jombang Melonjak Tajam

Kenaikan harga yang dinilai tidak wajar ini diduga menjadi imbas dari tertekannya mata uang rupiah yang memicu kenaikan biaya logistik dan harga barang di tingkat distributor.

10 Jun 2026 - 08:30
Dampak Pelemahan Rupiah Mulai Terasa, Harga Bahan Pokok di Jombang Melonjak Tajam
Salah satu lapak penjual bumbu dapur di Pasar Pon Jombang. (Foto: Istimewa)

JOMBANG, SJP — Tren melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diduga kuat mulai memicu efek domino pada sektor pangan di daerah. 

Di Pasar Pon Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, harga berbagai komoditas dapur meroket tajam dalam sepekan terakhir. 

Kenaikan harga yang dinilai tidak wajar ini diduga menjadi imbas dari tertekannya mata uang rupiah yang memicu kenaikan biaya logistik dan harga barang di tingkat distributor.

Berdasarkan pantauan langsung di lokasi pada Rabu (10/6/2026), lonjakan harga paling signifikan terjadi pada sektor bumbu dapur, minyak goreng, hingga sayur-mayur. Kondisi ini praktis mengoreksi daya beli masyarakat dan memicu keluhan dari para pedagang maupun konsumen.

Kenaikan paling mencolok terjadi pada komoditas bawang putih. Hanya dalam waktu seminggu, harganya melonjak drastis dari Rp27.000 per kilogram menjadi Rp40.000 per kilogram. Lonjakan ini disusul oleh bawang merah yang merangkak naik dari Rp30.000 menjadi Rp35.000 per kilogram.

Tidak hanya bumbu impor dan lokal, minyak goreng subsidi kemasan pemerintah, Minyak Kita, turut mengalami kelangkaan pasokan yang dibarengi dengan kenaikan harga. Minyak goreng yang sebelumnya dibanderol Rp38.000 per dua liter, kini harus ditebus seharga Rp42.000. Para pedagang mengaku kesulitan mendapat stok dari pihak agen.

Untuk sektor sayuran, komoditas cabai mencatatkan kenaikan tertinggi, yakni menembus Rp90.000 per kilogram dari harga semula Rp75.000 per kilogram. Sementara itu, harga buncis naik menjadi Rp16.000 dari Rp14.000 per kilogram, dan wortel melonjak dari Rp10.000 menjadi Rp16.000 per kilogram.

Kondisi pasar yang tidak stabil ini berdampak langsung pada omzet para pedagang. Sumaiyah, salah seorang pedagang di Pasar Pon Jombang, mengungkapkan bahwa hantaman kenaikan harga yang terjadi secara bersamaan membuat ruang gerak pedagang semakin terjepit karena sepinya pembeli.

"Beberapa kebutuhan dapur naik hampir bersamaan. Pembeli sekarang lebih banyak mengurangi belanja karena harga yang dirasa cukup tinggi," ucap Sumaiyah saat ditemui di lapaknya, Selasa (9/6/2026).

Ia menambahkan, hingga kini para pedagang kecil di pasar tradisional tidak mengetahui secara pasti rantai pasok mana yang rusak, namun mereka menduga kuat hal ini berkaitan erat dengan kondisi makroekonomi nasional, termasuk melemahnya rupiah.

"Harapannya harga kebutuhan pokok dapat segera kembali stabil, agar daya beli masyarakat tidak terus menurun dan aktivitas perdagangan di pasar tradisional tetap berjalan normal," ungkapnya.

Di sisi konsumen, tekanan ekonomi ini memaksa para ibu rumah tangga memutar otak agar dapur tetap mengepul tanpa membuat dompet jebol. 

Putri Ayu Rosdiana, salah seorang warga Jombang, mengaku harus menerapkan skala prioritas yang ketat saat berbelanja.

"Kalau harga naik seperti sekarang, biasanya saya mengurangi jumlah pembelian dan memilih kebutuhan yang benar-benar diperlukan terlebih dahulu," kata Putri.

Dugaan mengenai keterkaitan lonjakan harga ini dengan melemahnya nilai tukar rupiah masih menjadi teka-teki yang belum terjawab pemerintah daerah. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi maupun langkah mitigasi dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Kabupaten Jombang terkait meroketnya harga pangan di pasar tradisional utamanya di wilayah Jombang tersebut. (**) 

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow