Pertamax Tembus Rp16.250, Konsumen Bisa Lirik BP-92 dan Revvo 92 yang Jauh Lebih Murah
Harga Pertamax naik tajam jadi Rp16.250/liter per Juni 2026. Cek perbandingan harga dengan BP dan Vivo yang kini jauh lebih murah hampir Rp4.000!
JAKARTA, SJP – Keputusan PT Pertamina (Persero) menaikkan harga Pertamax (RON 92) secara signifikan menjadi Rp16.250 per liter memicu peta persaingan baru di pasar bahan bakar non-subsidi.
Lonjakan harga yang berlaku mulai Rabu (10/6/2026) ini menciptakan disparitas harga yang tidak biasa jika dikomparasikan dengan para kompetitor swasta seperti BP-AKR dan Vivo Energy.
Sebelumnya, Pertamax bertahan cukup lama di angka Rp12.300 per liter. Namun, imbas meroketnya harga minyak mentah dunia yang menembus angka rata-rata US$ 91,8 per barel, Pertamina terpaksa mengerek harga bensin beroktan 92 tersebut naik sebesar Rp3.950 per liter.
Kenaikan tajam ini justru memunculkan anomali di lapangan. Beberapa operator swasta terpantau masih menahan harga lama mereka untuk kelas RON 92 di kisaran Rp12.390 per liter.
Jarak tipis yang biasanya menempatkan Pertamina jauh lebih murah, kini berbalik arah secara drastis.
Berikut adalah perbandingan peta harga BBM kelas RON 92 di wilayah Jabodetabek per Juni 2026:
BP 92 (BP-AKR) dan Revvo 92 (Vivo Energy) masih bertahan pada harga Rp12.390, lebih murah Rp3.860 dibanding Pertamax. Lalu,
Sementara, Shell Indonesia untuk wilayah tertentu saat ini memfokuskan lini pada produk diesel premium V-Power Diesel seharga Rp24.490/liter.
Membaca Pergeseran Psikologi Konsumen
Selisih hampir Rp4.000 per liter ini diprediksi akan mengguncang loyalitas konsumen kelas menengah. Bagi pengendara yang terbiasa menggunakan BBM berkualitas tanpa subsidi, angka ini merubah kalkulasi pengeluaran bulanan secara signifikan.
Sebagai gambaran, untuk pengisian penuh tangki mobil ukuran MPV rata-rata (45 liter), pengguna kini harus merogoh kocek sekitar Rp731.250 jika mengisi Pertamax.
Sementara di jaringan swasta seperti BP atau Vivo, untuk volume yang sama, mereka hanya perlu membayar Rp557.550, terdapat penghematan langsung sebesar Rp173.700 setiap kali isi penuh.
Situasi ini menjadi ujian berat bagi Pertamina Patra Niaga untuk mempertahankan basis pelanggannya, kecuali jika para kompetitor swasta juga ikut melakukan penyesuaian harga serupa dalam beberapa hari ke depan mengikuti pergerakan harga pasar keekonomian.
Selama ini, SPBU swasta kerap dipilih sebagian masyarakat urban karena faktor eksternal seperti antrean yang relatif lebih pendek, kebersihan fasilitas, hingga layanan ekstra seperti pembersihan kaca depan gratis. Kini, dengan harga yang justru jauh lebih murah dari produk BUMN, daya tarik kompetitor luar Pertamina dipastikan meningkat pesat.
Meski demikian, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menegaskan bahwa penyesuaian ini murni diambil atas evaluasi berkala formula harga pemerintah guna menjaga keberlanjutan penyediaan energi.
Pertamina juga memastikan pasokan Pertamax di seluruh pelosok tanah air tetap aman dan tersedia secara optimal, sebuah komitmen pelayanan publik yang tidak selalu diemban oleh jaringan ritel swasta yang cenderung berfokus di area komersial perkotaan.
Kini pilihan berada di tangan konsumen: bertahan pada jaringan distribusi BUMN yang luas, atau bermigrasi ke SPBU swasta demi menyelamatkan efisiensi dompet harian. (**)
Editor: Danu
What's Your Reaction?

