Program MBG Kembali Bergulir Sebabkan Harga Beras di Blitar Cekik Rakyat Kecil

Pedagang menduga kuat bahwa ketidakstabilan harga ini bertalian erat dengan masifnya pengadaan komoditas pangan untuk menyokong program prioritas pemerintah. Ketika pasokan beras disedot dalam skala besar untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG), hukum pasar pun berlaku: permintaan melonjak, barang menipis, dan harga meroket.

18 Jul 2026 - 11:50
Program MBG Kembali Bergulir Sebabkan Harga Beras di Blitar Cekik Rakyat Kecil
Penjualan beras di kios Pasar Wage Kota Blitar. (Foto : Ninda Kinanti/SJP)

BLITAR, SJP – Kebijakan berskala nasional kerap kali menyisakan cerita pahit bagi masyarakat di tingkat bawah. Di Kota Blitar, Jawa Tengah, harga beras mulai merangkak naik dalam sepekan terakhir. 

Lonjakan ini diduga kuat dipicu oleh tingginya serapan pasar setelah pemerintah kembali menggulirkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang berimbas pada menipisnya pasokan untuk konsumsi harian warga miskin.

Berdasarkan pantauan di Pasar Wage Kota Blitar pada Sabtu (18/7/2026), komoditas yang paling terdampak adalah beras selepan (beras gilingan lokal). Jenis beras ini merupakan tumpuan utama masyarakat kelas menengah ke bawah karena harganya yang relatif terjangkau.

Kini, harga eceran beras selepan telah menembus Rp14.000 per kilogram, naik dari harga sebelumnya yang berada di kisaran Rp13.600 per kilogram. Kenaikan bertahap ini langsung memukul daya beli warga yang ekonominya pas-pasan.

Sri, salah seorang pedagang beras di Pasar Wage, mengungkapkan bahwa kenaikan harga terjadi secara berantai akibat penyesuaian tarif dari tingkat distributor.

"Harga beras mulai naik sekitar seminggu ini. Sekarang beras selepan Rp14.000 per kilogram. Kami dari pedagang hanya mengikuti harga dari distributor yang terus naik," keluh Sri saat ditemui di lapaknya, Sabtu (18/7/2026).

Pedagang menduga kuat bahwa ketidakstabilan harga ini bertalian erat dengan masifnya pengadaan komoditas pangan untuk menyokong program prioritas pemerintah. Ketika pasokan beras disedot dalam skala besar untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG), hukum pasar pun berlaku: permintaan melonjak, barang menipis, dan harga meroket. Masyarakat kecil pun dipaksa mengalah dan membayar lebih mahal demi isi piring mereka sendiri.

Meski omzet penjualan Sri belum anjlok, dengan rata-rata penjualan tetap bertahan di angka dua kuintal beras selepan per hari, beban pengeluaran konsumen dipastikan membengkak.

"Untuk penjualan masih normal, belum mengalami penurunan. Warga tetap membeli karena ini kebutuhan pokok utama, mau tidak mau ya dibeli," tambah Sri.

Di sisi lain, pergeseran harga ini tidak merata. Di kios Sri, komoditas ketan justru turun dari Rp25.000 menjadi Rp23.000 per kilogram. Sementara beras merah bertahan di angka Rp16.000 per kilogram, dan jagung lokal di harga Rp7.000 per kilogram. Namun, penurunan komoditas alternatif ini dinilai tidak berdampak signifikan karena konsumsi utama masyarakat tetaplah beras putih.

Efek kebijakan ini juga mulai merembet ke komoditas beras premium kemasan. Irma, pedagang lain di Pasar Wage, menyebutkan bahwa beras premium kemasan 5 kilogram kini dibanderol Rp77.500 per kemasan, naik dari harga semula Rp77.000.

"Harga beras kemasan juga naik meski tidak terlalu banyak. Kenaikannya sekitar Rp100 sampai Rp200 per kilogram," imbuh Irma. (*) 

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow