Berkonflik dengan Rekannya, Pejalan Kaki dari Sampang ke Makkah Kandas di Cilegon
Perjalanan dari Kabupaten Sampang ke Makkah terpaksa harus terhenti hingga Kota Cilegeon, Provinsi Banten dan memutuskan pulang ke kampung halaman
SAMPANG, SJP - Keinginan Mohammad Wahab Alfarizi (36), warga Jalan Pajudan, Kelurahan Rongtengah, Kecamatan Sampang untuk berjalan kaki ke Makkah kini kandas sudah.
Pria kelahiran 7 Mei 1988 itu kini sudah berada di kampung halamannya. Atas keinginannya yang tidak bisa diteruskan, dirinya meminta maaf kepada masyarakat yang sempat mendukungnya.
Dirinya pun merasa bersalah kepada seluruh relawan dan masyarakat yang telah memberi dukungan. Meski begitu, sebenarnya dia masih ingin melanjutkan perjalanannya.
Perjalanannya terpaksa dihentikan setelah dia sampai di Kota Cilegon, Provinsi Banten. Untuk bisa sampai di Cilegon, dia telah melalui perjalanan lebih dari sebulan.
"Namun risiko kesehatan dan pihak keluarga pun tidak menginginkan saya untuk melanjutkan perjalanan. Saya hanya berjalan kaki dari Sampang hingga ke Cilegon selama satu bulan lebih, hampir dua bulan," tuturnya, Kamis (27/3/2025).
Wahab menjelaskan, perjalanannya ke Tanah Suci Makkah terpaksa harus terhenti karena kondisi kesehatan yang kurang memungkinkan.
Dia mengaku sering mengalami nyeri pada bagian bawah perut dan pinggul selama perjalanan. Rupanya, sejak awal dirinya memang memiliki penyakit bawaan.
"Dari awal saya memang mengalami sakit infeksi saluran kemih. Jadi setiap kali saya ingin buang air kecil selalu merasakan kesakitan," kata Wahab dengan raut wajah sedih.
Usut punya usut, yang menyebabkan Wahab putar balik dan menghentikan perjalanannya ke Makkah bukan hanya karena sakit, tetapi karena sudah merasa tidak cocok dengan rekannya, Anas Mahfud.
Diketahui, Wahab dan Anas Mahfud bertekad untuk berjalan kaki dari Kabupaten Sampang ke Makkah. Keduanya memulai perjalanan pada tanggal 31 Januari 2025.
"Sudah merasa tidak sehati dan tidak ada kecocokan. Jadi untuk melanjutkan perjalanan menuju ke arah yang lebih jauh lagi, saya masih harus berpikir kembali untuk melanjutkan perjalanannya," sesalnya.
"Setelah mendapat pertimbangan dari tim pantau dan keluarga, dengan berat hati saya memutuskan untuk pergi dari rekan saya dan kembali pulang ke Madura," sambungnya.
Ditambahkan, dengan perasaan berat hati atas keputusannya itu, dirinya meminta maaf yang sedalam-dalamnya kepada seluruh masyarakat Indonesia. Khususnya masyarakat Madura dan para relawan tim pantau yang selama ini sudah sangat membantunya di perjalanan. (*)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

