Belasan Anak di Gresik Jadi Korban Bulliying, KBPPPA Sebut Banyak yang Tidak Melapor
Belasan anak terdampak kasus tindak bulliying atau perundungan sejak periode Januari—Desember 2025. Kasus tersebut terungkap saat anak-anak itu beberapa hari tidak masuk ke sekolah.
GRESIK, SJP - Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (KBPPPA) Kabupaten Gresik, Jawa Timur, mencatat ada sebanyak 18 anak terdampak kasus tindak bulliying atau perundungan sejak periode Januari - Desember 2025. Kasus tersebut terungkap saat anak-anak itu beberapa hari tidak masuk ke sekolah.
Kepala Dinas KBPPPA Gresik, Titik Ernawati, menduga masih banyak anak-anak yang mendapat tindakan bulliying namun belum berani melapor.
"Memang masih sedikit yang lapor, tapi di luar masih banyak yang belum tercatat. Cuma yang berani melapor ke kita 18 anak," kata dia, saat dikonfirmasi, Jumat (12/12/2025).
Titik mengatakan, laporan yang masuk ke Dinas KBPPPA Gresik ini berdasarkan rujukan pihak sekolah. Saat diketahui anak yang diduga kena tindak bulliying beberapa hari tidak masuk sekolah, tim KBPPPA Gresik dari layanan Pusat Pembelajaran Keluarga Kabupaten Gresik (Puspaga) turun ke lapangan untuk penelusuran.
Ia menyebut, ada dua alasan ketika anak enggan masuk sekolah yakni faktor tindak bulliying dan kekerasan fisik maupun seksual.
"Setelah kita cari tahu ternyata disekolah mendapatkan buliying," jelasnya.
Menurut Titik, korban tindak bulliying memiliki luka yang mendalam sehingga perkataan yang ditimbulkan sangat mudah mencederai. Ia mencontohkan, perkataan yang sering menjadi tindak bulliying seperti mengolok-olok orangtua yang sudah bercerai.
Anak yang menjadi korban tindak bulliying tersebut, tentu memperbandingkan kondisi kedua orang tuanya dengan sekitarnya.
"Akibatnya mereka merenung sendiri, dan lain sebagainya. Dan sekolah menjadi tempat yang tidak nyaman bagi mereka," pungkasnya.
Bullying atau perundungan telah menjadi fenomena yang memprihatinkan di berbagai sekolah. Banyak siswa yang menjadi korban tindakan ini, baik secara fisik, verbal, sosial, maupun digital.
Dampak bullying tidak hanya melukai tubuh, tetapi juga menggores hati dan merusak kepercayaan diri korban. Oleh karena itu, pentingnya untuk memahami dan melawan bullying demi menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman dan nyaman. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

