Menuju Kampung Percontohan, STIESIA Dorong Manyar Indah Jadi Pusat Batik Ecoprint

Manyar Indah dirancang jadi kampung percontohan batik ecoprint oleh STIESIA dan Disnaker Surabaya, kain ramah lingkungan dari daun dan bunga yang bernilai jual tinggi hingga tembus jutaan rupiah.

26 Aug 2025 - 21:21
Menuju Kampung Percontohan, STIESIA Dorong Manyar Indah Jadi Pusat Batik Ecoprint
Hasil bimtek pembuatan batik ecoprint Manyar Indah, Surabaya oleh STIESIA dan Disperinaker Surabaya (Ryan/SJP)

SURABAYA, SJP — Batik ecoprint, karya kain dengan motif alami dari daun dan bunga, kini memang menjadi tren dalam upaya pemberdayaan masyarakat. Selain ramah lingkungan, teknik ecoprint ini memiliki nilai seni tinggi dan potensi ekonomi yang menjanjikan. 

Melihat peluang tersebut, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia Surabaya (STIESIA) bersama Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Kota Surabaya ingin mendorong Perumahan Manyar Indah di Menur Pumpungan, Sukolilo, Surabaya menjadi sebuah kampung percontohan batik ecoprint.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) "Pengembangan Rintisan Kampung Wisata" oleh STIESIA , yang menggandeng warga setempat, khususnya warga Menur Pumpungan yang berada di area sekitar kampus untuk mengembangkan pusat pelatihan batik ecoprint

"Rencananya kampung Manyar Indah ini menjadi kampung percontohan untuk kegiatan batik ecoprint. Perumahan ini diharapkan menjadi pusat pelatihan pembuatan batik ramah lingkungan," jelas Yayah Atmajawati, Ketua Pelaksana sekaligus Dosen STIESIA, Selasa (26/8/2025).

Proses ecoprint sendiri memanfaatkan bahan alami seperti daun dan bunga, dengan teknik yang memerlukan ketelitian dan waktu. Kain disiapkan, direndam, ditempel daun atau bunga, kemudian dipres dan dikeringkan. Hasil akhirnya berbeda-beda tergantung jenis bahan yang digunakan.

"Batik ecoprint unik, ramah lingkungan, dan cukup mahal dijual, mulai dari 200 ribu hingga jutaan rupiah, tergantung motif dan kualitas kain," tambah Yayah.

Dalam kegiatan itu, STIESIA menurunkan lima dosen termasuk Yayah, Bambang Hadi Santoso Dwidjosumarno, Achmad Djuraidi, Farida Idayati, Mochammad Reza Zulfikar, dan dua mahasiswa dari jurusan Manajemen, yaitu Sofi Nazwa Afandi dan Putri Ayu Melinda.

Sementara Disperinaker dan pihak kecamatan juga mengirimkan perwakilannya. Sekitar 20 warga, mayoritas ibu rumah tangga, mengikuti pelatihan yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga 15.00 WIB.

Sementara itu, Anin Khoirunnisa, staf Disperinaker Bidang Pelatihan dan Penempatan Tenaga Kerja, menjelaskan teknis pelatihan ecoprint yang diberikan dalam kesempatan ini lengkap dari dasar hingga jadi.

"Kami mengajarkan teori dasar ecoprint hingga praktik menata daun agar warnanya keluar dengan baik. Peserta juga belajar teknik mengunci warna pada kain," jelas Anin yang juga Penanggung Jawab Pelatihan Kewirausahaan atau BIMTEK Kewirausahaan.

Selain itu, pihak Disperinaker juga menyiapkan bahan praktek, narasumber profesional, konsumsi, transport, dan sertifikat pelatihan. Narasumber utama yang bernama Iin, adalah pengrajin ecoprint berpengalaman yang produknya sudah masuk kapal pesiar dan pasar ekspor.

"Harapan kami, pelatihan ini bukan sekadar kegiatan, tapi ibu-ibu bisa melanjutkan produksi, mengembangkan desain, dan mempelajari teknik promosi serta perhitungan produksi agar usahanya berkelanjutan," ujar Anin.

Disnaker juga menyiapkan dukungan agar produk warga dapat memasuki pasar resmi pemkot, seperti Siola dan mendapatkan legalitas yang diperlukan, termasuk akses ke media promosi pemerintah kota Surabaya.

Deddy Setya Wibawa, Ketua RW 6 Manyar Indah, menyatakan bahwa pelatihan ecoprint memperkuat mental, pengetahuan, dan jaringan warga. 

"STIESIA memberikan wadah baru untuk kampung rintisan kami. Pelatihan ini menguatkan potensi daerah dan membuka jalur baru untuk bisnis serta edukasi warga," jelas Deddy.

Dia menambahkan, kolaborasi tersebut memungkinkan warga memanfaatkan bahan lokal yang sudah ditanam di lingkungan RW, memadukan teknik pelatihan dengan desain unik, hingga proses penjualan. Menurutnya, inovasi itu penting untuk ketahanan ekonomi lokal di tengah persaingan pasar.

"Setelah penjualan, alurnya jelas, dari produksi hingga pemasaran. Terobosan ini membuat warga lebih siap bersaing dan jadi pioner ecoprint," pungkasnya. (**)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow