Belajar dari Kampung, Murid SD Cikal Menyemai Masa Depan Bumi di KBA Kampoeng Oase Ondomohen
Menariknya, kegiatan tersebut tidak berlangsung satu arah. Setiap anak dibekali selembar kertas kosong untuk menuliskan pertanyaan mereka sendiri. Metode itu mendorong rasa ingin tahu sekaligus membuat pembelajaran lebih personal.
SURABAYA, SJP - Di tengah krisis lingkungan yang kian nyata, mulai dari masalah sampah plastik hingga ancaman berkurangnya sumber daya alam, konsep keberlanjutan tak lagi cukup diajarkan sebagai teori di dalam kelas. Ia perlu dikenalkan sejak dini, ditanamkan sebagai kebiasaan, bahkan dirasakan langsung oleh anak-anak.
Di Kota Pahlawan, upaya itu mulai terlihat nyata ketika siswa diajak belajar langsung dari kehidupan sehari-hari warga di salah satu kampung yang dikenal sebagai laboratorium hidup pengelolaan lingkungan, yakni KBA Kampoeng Oase Ondomohen.
Terletak di jantung Kota Surabaya, berdekatan dengan kuliner sate kelapa legendaris, suasana kampung yang biasanya tenang berubah menjadi lebih hidup. Sebanyak 26 siswa kelas 1 Sekolah Cikal Surabaya, didampingi lima guru, menyusuri gang-gang kampung dalam kegiatan field trip bertema “Our choices may determine the sustainability of the Earth’s resources.”
Selama kurang lebih dua jam, anak-anak tidak hanya berjalan dan melihat, tetapi juga berinteraksi langsung dengan berbagai praktik pengelolaan lingkungan mulai dari pengolahan sampah hingga budidaya yang selama ini hanya mereka kenal melalui buku pelajaran di kelas.
Dari Teori ke Aksi Nyata
Kepala TK-SD Cikal Surabaya, Dina Irdhina, menjelaskan bahwa kunjungan itu dirancang untuk menjembatani pembelajaran di kelas dengan praktik di lapangan. Menurutnya, konsep keberlanjutan akan lebih mudah dipahami jika anak-anak melihat langsung penerapannya.
"Jadi anak-anak Year One sedang melakukan outing class untuk melihat bagaimana kebiasaan manusia dalam kehidupan sehari-hari sangat menentukan keberlanjutan sumber daya alam di bumi, yang mana kali ini kita belajar dari kehidupan warga KBA Kampoeng Oase Ondomohen," ujar Dina saat dikonfirmasi pada Sabtu (11/4/2026).
Ia menekankan bahwa KBA Kampoeng Oase Ondomohen dipilih karena menghadirkan contoh konkret melalui aksi nyata dari warganya yang melakukan praktik urban farming hingga budidaya hewan yang diintegrasikan melalui proses pengolahan sampah.
"Kita mau memberikan contoh nyata pada anak-anak bahwa semua teori-teori yang dipelajari di dalam kelas itu ternyata ada bentuk nyatanya dan itu dekat dengan kita," terangnya.
Di kampung tersebut, anak-anak diperlihatkan bagaimana sisa makanan yang biasanya dibuang bisa diolah menjadi pakan maggot, yang kemudian dimanfaatkan lagi sebagai pakan ikan. Rantai sederhana itu menjadi gambaran nyata tentang ekonomi sirkular, bahwa limbah tidak selalu berakhir sebagai sampah.
Tak hanya itu, mereka juga belajar mengolah sampah plastik menjadi barang bernilai guna. Dengan berkolaborasi dengan Kampoeng Pintar Oase Tembok Gede, anak-anak diajarkan untuk mengolah sampah yang sulit terurai hingga puluhan hingga ratusan tahun itu menjadi ecobrick, vas bunga, hingga bahan cacahan yang bisa dijual kembali.
"Anak-anak jadi tahu bahwa sampah plastik itu tidak berhenti di satu tahap konsumsi saja, tapi bisa ada keberlanjutan lainnya," imbuh Dina.
Belajar dari Rasa Penasaran
Yang menarik, kegiatan tersebut tidak berlangsung satu arah. Setiap anak dibekali selembar kertas kosong untuk menuliskan pertanyaan mereka sendiri. Metode itu mendorong rasa ingin tahu sekaligus membuat pembelajaran lebih personal.
"Jadi anak-anak nanti akan menuliskan inquiry question atau pertanyaan penasaran mereka selama berkeliling di area kampung," jelas Dina.
Dari pertanyaan sederhana seperti “apa itu daur ulang?” hingga “bagaimana cara mengurangi plastik,” proses tersebut menunjukkan bahwa pemahaman lingkungan bisa tumbuh dari rasa ingin tahu yang alami.
Menurutnya pembelajaran di KBA Kampoeng Oase Ondomohen sangat direkomendasikan, khususnya bagi anak-anak untuk belajar soal pengelolaan lingkungan dan ketahanan pangan.
"Jadi yang kami awalnya mengira pembelajaran di KBA Kampoeng Oase Ondomohen ini bakal berat untuk anak-anak ternyata engga," sambung Dina.
Dengan begitu, Dina berharap pengalaman para siswa tak berhenti di lokasi kunjungan, melainkan terbawa ke kehidupan sehari-hari.
"Harapannya anak-anak bisa ter-encourage untuk melakukan apa yang dilakukan warga kampung ini di rumah dan di sekolah," tandas Dina.
Kampung sebagai Ruang Belajar Hidup
Bagi warga kampung, kunjungan semacam ini bukan hal baru. Ketua RT setempat, Endang Sriwulansari, menyebut bahwa setiap tahun kampung mereka menerima kunjungan dari berbagai sekolah.
“Setiap tahun itu biasanya kita mendapatkan kunjungan dari sekolah dari berbagai jenjang.” ujar Endang.
Namun, setiap kunjungan tetap dirancang sesuai usia peserta. Untuk anak-anak kelas 1, materi dibuat sederhana dan menyenangkan. Sedangkan jika yang berkunjung adalah remaja hingga dewasa, maka kegiatan kunjungan akan disesuaikan untuk lebih kompleks.
"Kita memberikan beberapa materi kunjungan yang menarik dan mudah, yakni mempelajari tentang pengolahan sampah atau daur ulang yang cocok dengan umur mereka," tutur Endang.
Anak-anak diajak langsung membuat pot dari botol plastik bekas dan menyusun ecobrick. Selain itu, mereka juga dikenalkan pada budidaya ikan, maggot, hingga lobster, sebuah gambaran sederhana tentang bagaimana lingkungan bisa dikelola untuk mendukung kehidupan.
"Kita berharap supaya anak-anak lebih tahu, tidak hanya teori, tetapi bisa melihat dan praktik langsung," ujarnya.
Dari Lingkungan ke Ketahanan Pangan
Pembina kampung, Adi Candra, melihat kegiatan kali ini sebagai bagian dari pembelajaran yang lebih luas, tidak hanya soal lingkungan, tetapi juga relevan dengan isu ketahanan pangan yang kini sedang disorot oleh dunia.
Menurutnya, pengelolaan sampah yang baik dapat mendukung program urban farming yang sudah berjalan di kampung tersebut. Limbah diolah, lalu dimanfaatkan kembali untuk mendukung produksi pangan, sebuah siklus yang saling terhubung.
Ia juga menilai KBA Kampoeng Oase Ondomohen menjadi pilihan banyak institusi sebagai tempat untuk belajar soal keberlanjutan dan ketahanan pangan karena pendekatannya yang realistis dan inklusif.
“KBA Kampoeng Oase Ondomohen ini dipilih karena memang paling realistis, menyajikan berbagai macam pembelajaran dan melalui aksi nyata dari oara warganya," tutur Adi.
Disisi lain, kegiatan kali ini juga melibatkan mahasiswa yang sedang melakukan program Magang Mandiri MBKM selama kurang lebih 5 bulan. Mereka terdiri dari mahasiswa Prodi Agribisnis dari UPN Veteran Jawa Timur dan Universitas Wijayaputra Surabaya. Mereka yang terlibat dalam giat kunjungan SD Cikal diantaranya:
- Eunike Florentina Br Tarigan (Mahasiswa Magang MBKM Agribisnis UPN Veteran Jawa Timur)
- Salsalina Aprilia Br Ginting (Mahasiswa Magang MBKM Agribisnis UPN Veteran Jawa Timur)
- Yona Leoni Br Simatupang (Mahasiswa Magang MBKM Agribisnis UPN Veteran Jawa Timur)
- Rakindra Putri Ardhini (Mahasiswa Magang MBKM Agribisnis UPN Veteran Jawa Timur)
"Kebetulan juga hari ini ada adik-adik mahasiswa yang ikut terlibat untuk membantu kegiatan hari ini, mereka juga membantu dalam memberikan materi kepada anak-anak," sebut Adi.
Tak hanya untuk siswa umum, kampung ini juga terbuka bagi anak berkebutuhan khusus, bahkan hingga delegasi internasional dari Thailand dan Filipina yang datang untuk belajar tentang isu lingkungan dan ekonomi sirkular. Karenanya, Adi berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak pihak.
"Kami berharap kunjungan ini bisa terus dan juga bisa diinformasikan kepada jejaring yang lebih luas," ujar Adi.
Kunjungan singkat selama dua jam itu mungkin terlihat sederhana. Namun di baliknya, ada proses penting untuk menanamkan cara berpikir baru sejak dini. Bahwa membuang sampah bukan akhir dari sebuah benda. Bahwa pilihan kecil sehari-hari bisa berdampak besar bagi bumi.
Di tangan anak-anak inilah, konsep keberlanjutan perlahan berubah dari sekadar pelajaran menjadi kebiasaan. Dan dari sebuah kampung di tengah kota, pelajaran itu mulai tumbuh, pelan, tapi pasti.
Kegiatan itu juga didukung penuh oleh HPAI (Himpunan Penggiat Adiwiyata Indonesia) DPW Kota Surabaya, YLBA (Yayasan Lestari Bumi Abadi) Kota Surabaya, Kampoeng Oase Suroboyo Group , PERBANUSA (Perkumpulan Pengelola Sampah dan Bank Sampah Nusantara) DPD I Jawa Timur , Forum GRADASI (Gerakan Sedekah Sampah Indonesia) Jawa Timur dan DPP IFTA (Indonesian Fighter Tourism Association) Jelajah Indonesia. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

