Jembatani Perdamaian Dunia Lewat Bahasa: Peace Corps AS Lantik Sembilan Relawan Baru Untuk Indonesia
Sembilan relawan Peace Corps di Indonesia dilantik dalam upacara yang digelar di Konsulat Jenderal Amerika Serikat Surabaya untuk melanjutkan misi perdamaian dan persahabatan dunia.
SURABAYA, SJP - Selama ini, banyak orang mengira kemitraan Indonesia dan Amerika Serikat hanya bergerak di ranah-ranah besar seperti ekonomi, teknologi, pertahanan, atau diplomasi tingkat tinggi. Padahal, di balik panggung besar itu, ada bentuk kerja sama yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Mungkin tidak semua orang yang tahu, namun di akar rumput, kemitraan dua negara besar itu justru tumbuh dari hal-hal yang paling sederhana. Mulai dari belajar bahasa, pengenalan budaya, hingga pengalaman hidup bersama oleh relawan Peace Corps, sebuah wajah diplomasi yang tidak berdiri di podium, melainkan hadir di tengah masyarakat.
Pada Rabu (10/12/2025), sembilan warga Amerika Serikat kembali menambah kisah persahabatan itu. Mereka resmi dilantik sebagai relawan Peace Corps baru, menambah total hampir 600 orang yang telah mengabdi di Indonesia sejak program itu kembali dibuka pada 2010.
Apa Itu Peace Corps?
Peace Corps adalah lembaga resmi pemerintah Amerika Serikat yang berdiri pada 1961 dengan misi untuk mempromosikan perdamaian dan persahabatan dunia melalui pengabdian sukarela. Hingga kini, lebih dari 240.000 warga Amerika telah bertugas di lebih dari 140 negara.
Di Indonesia sendiri, Peace Corps berfokus pada program Teaching English as a Foreign Language (TEFL), bekerja bersama guru-guru di daerah untuk meningkatkan akses dan kualitas pembelajaran bahasa Inggris yang sangat bermanfaat untuk bekal ilmu di masa depan.
Menariknya, para relawan itu tidak tinggal di mansion mewah atau hotel berbintang, melainkan mereka akan tinggal selama dua tahun bersama keluarga setempat dan menjadi bagian dari kehidupan sosial serta pendidikan masyarakat lokal.
Peace Corps Swearing-In Ceremony
Upacara pelantikan digelar di Konsulat Jenderal Amerika Serikat Surabaya, dipimpin langsung oleh Wakil Duta Besar AS untuk Indonesia, Heather Merritt yang didampingi oleh Direktur Peace Corps Indonesia, Brian Gleeson, dan Konsulat Jenderal AS di Surabaya, Christopher Green.
Dalam kesempatan itu, Merritt mengungkapkan bahwa para relawan baru saja menyelesaikan 11 minggu pelatihan intensif di Desa Leminggir dan Seduri, Jawa Timur, mencakup bahasa Indonesia, pembelajaran budaya, serta pelatihan teknis pengajaran bahasa Inggris.
"Relawan Peace Corps adalah diplomat warga yang tinggal dan bekerja berdampingan dengan komunitas tuan rumah mereka, membangun rasa saling percaya dan memahami," ujar Merritt, Rabu (10/12/2025).
Ia juga menekankan bahwa pengabdian para relawan menjadi wujud nyata semangat Kemitraan Strategis Komprehensif AS–Indonesia, terutama melalui hubungan antarmasyarakat kedua bangsa.
Para relawan akan menjalani penugasan selama dua tahun di tiga provinsi, meliputi Jawa Timur, Jawa Barat, dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Mereka mengajar minimal 20 jam per pekan dan mendampingi pelatihan guru bahasa Inggris tingkat sekolah maupun distrik. Tidak hanya itu, mereka juga memimpin kegiatan ekstrakurikuler seperti klub bahasa Inggris, kamp kepemimpinan, hingga inisiatif literasi.
Wakil Dubes Merritt menjelaskan bagaimana relawan menjalankan fungsi diplomasi secara alami melalui kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat.
"Ini adalah bentuk pertukaran budaya paling mendalam. Mereka belajar bahasa, budaya, dan kehidupan masyarakat Indonesia, sambil membantu murid dan guru memahami Amerika dari sudut pandang yang nyata," ujarnya.
Ia juga membahas tantangan yang dihadapi program ini, terutama proses rekrutmen relawan yang harus berkomitmen dua tahun meninggalkan pekerjaan dan keluarga, baginya, menyisihkan waktu dua tahun untuk mengabdi membutuhkan pengorbanan.
"Salah satu tantangannya adalah menemukan orang yang mampu menyediakan waktu. Tetapi mereka yang datang adalah orang-orang yang benar-benar ingin mengabdi," kata Merritt.
Ia menambahkan, penempatan para relawan akan didasarkan pada rekomendasi resmi dari Kementerian Pendidikan dan Kementerian Agama, terutama untuk sekolah-sekolah di daerah pedesaan dan dengan sumber daya terbatas. Peace Corps tidak memilih lokasi sendiri.
"Kami bermitra sangat dekat dengan pemerintah Indonesia yang menilai setiap kandidat sebelum penempatan, jadi kita juga berkolaborasi dalam menentukan siapa dan dimana tugasnya" jelasnya.
Dari Pelatihan Desa ke Lapangan Pengabdian
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Peace Corps Indonesia, Brian Gleeson yang juga hadir dalam acara pelantikan mengapresiasi peran masyarakat Leminggir dan Seduri dalam mempersiapkan para relawan.
"Komunitas Leminggir dan Seduri menyambut relawan kami dengan hangat. Dukungan itu mempersiapkan mereka sekaligus memberi pengenalan autentik tentang nilai-nilai Indonesia," kata Gleeson.
Selama bertugas, setiap relawan diwajibkan tinggal bersama keluarga angkat. Model ini dianggap efektif mendukung pembelajaran budaya dan integrasi sosial.
"Mereka hidup bersama keluarga setempat selama dua tahun. Ini bukan hanya soal mengajar, tapi memahami konteks kehidupan di Indonesia," ujar Gleeson.
Gleeson juga menegaskan bahwa pengajaran bahasa Inggris adalah permintaan khusus dari Pemerintah Indonesia, bukan inisiatif sepihak.
"Apa yang mereka lakukan merupakan permintaan pemerintah Indonesia. Mereka bekerja sama dengan guru setempat untuk berbagi teknik mengajar baru," jelasnya.
Tentang kehidupan setelah program, Gleeson menyebut para alumnus menjalani beragam jalur, mulai dari melanjutkan studi, menjadi guru, hingga mengajar di negara lain.
Gleeson menjelaskan bahwa Peace Corps memiliki tiga tujuan utama:
- Memberikan bantuan teknis yang diminta pemerintah mitra.
- Membantu masyarakat lokal memahami budaya Amerika melalui interaksi langsung.
- Membawa kembali cerita tentang Indonesia ke Amerika Serikat untuk memperkuat pemahaman dan persahabatan jangka panjang.
Ia menambahkan bahwa relawan hanya menerima stipend kecil dan hidup setara dengan guru lokal, bukan sebagai pekerja bergaji.
"Indonesia yang Hangat, Ramah, dan Penuh Inspirasi"
Di antara sembilan relawan baru, tiga di antaranya Joe P dari Chicago, Rosalina M dari South Carolina, dan May T dari Indianapolis yang berbagi pengalaman dan motivasi mereka.
Joe, sebagai pemuda Amerika yang suka menjelajah atau Traveling mengaku sudah lama mengenal orang Indonesia dan tertarik dengan budaya lokal yang ramah.
"Saya sering sekali berpergian, dan saya dengan pede bisa bilang bahwa orang-orang disini memang sangat ramah, makanannya enak, dan saya ingin belajar banyak bahasa," ujarnya.
Ia juga menyampaikan ketertarikannya untuk menghabiskan lebih banyak waktu di kelas dan menjelajah Indonesia yang menurutnya sangat hangat dan menyenangkan.
Di sisi lain, Rosalina, yang berasal dari Columbia, South Carolina, memiliki akar budaya Samoa. Hal itu membuatnya merasa cocok dengan nilai kekeluargaan di Indonesia.
"Budaya di sini terasa dekat dengan budaya saya. Itu sebabnya saya ingin datang dan mengajar di Indonesia," kata Rosalina.
Adapun, May yang memiliki mimpi untuk menjadi seseorang yang lebih mandiri ingin belajar bersosialisasi di lokasi yang dikenal sangat sosial seperti Indonesia.
"Iya, jadi Amerika dan Indonesia sangat berbeda dalam segi sosial, di Amerika itu warganya sangat individualis, maka dari itu belajar di Indonesia mungkin akan menambah pengalaman saya menjadi lebih luas," ucap May.
Membangun Persahabatan Melalui Pendidikan
Relawan Peace Corps bukan hanya pengajar bahasa Inggris. Mereka adalah penghubung dua budaya, pembawa cerita, dan jembatan diplomasi yang bekerja melalui senyum, sikap hormat, dan kehidupan sehari-hari.
Dari rumah-rumah keluarga angkat hingga kelas-kelas sekolah di pedesaan, mereka membawa nilai persahabatan yang akan tersimpan dalam ingatan, bukan hanya selama dua tahun penugasan, tetapi sepanjang hidup baik bagi mereka maupun masyarakat yang mereka temui. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

